jump to navigation

ISLAM: SUNNI, SYIAH, DAN AHMADIYAH April 16, 2008

Posted by basnang in Artikel, Islami.
trackback

 

    Basnang Said

Dekan FAI UNASMAN dan Ketua PW. LP Maarif NU Sulawesi Barat

 

Fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI) yang dikeluarkan beberapa waktu lalu sampai sekarang masih menimbulkan controversial dan tanda tanya di kalangan umat Islam. Pro dan kontra terjadi karena titik pandang yang berbeda. Majlis Ulama dan pendukung fatwa itu memandang dari segi tugas dan misi institusi itu untuk melindungi umat Islam Indonesia dari berbagai aliran dan ajaran yang dianggap bertentangan dengan Islam yang lagi semarak sekarang ini. Semantara itu resistensi terhadap fatwa itu datang dari sebahagian umat Islam memandang dari sudut kebebasan sesorang atau sekelompok umat untuk memahami dan melaksanakan ajaran agamanya. Adanya kritikan terhadap fatwa MUI itu, menunjukkan perlunya kejelian, ketelitian, dan kehati-hatian para ulama dalam mengelurkan fatwa yang sangat diperlukan oleh umat ketika berhadapan dengan pilihan-pilihan keagamaan. Tetapi suatu fatwa dapat menjadi tidak efektif dalam pengertian tidak ditaati oleh umat Islam. Dalam hal demikian lembaga yang mengelurkan fatwa itu menjadi tidak berwibawa dan kehilangan fungsinya.

      Tulisan ini akan mencoba membahas fatwa tentang Ahmadiyah dan Pluralisme yang mendapat sorotan yang tajam dari masyarakat. Substansi dan rumusan fatwa tentang kedua realitas tersebut perlu dikaji agar lebih difahami. Uraian ini dimaksudkan pula agar fatwa MUI tersebut lebih difahami dan dimaklumi keberadaannya.

 

Aliran dan madzhab dalam Islam.

Sebagaimana agama lainnya, dalam Islam pun terdapat berbagai aliran dan madzhab. Aliran dalam uraian ini dipahami sebagai pemikiran ulama teolog tentang masalah aqidah, sedangkan madzhab dipahami sebagai pandangan ulama fuqahaa tentang syariat Islam. Baik aliran maupun mazhab merupakan hasil pemikiran (ijtihad) yang telah terpola. Sesungguhnya pada masa nabi Muhammad mengemban risalahnya (610 – 632) belum terbentuk aliran dan madzhab dalam Islam. Berbagai masalah keagamaan yang timbul pada waktu itu ditanyakan dan mendapatkan jawaban dan penjelasannya dari Nabi Muhammad saw. Meskipun demikian para sahabat dianjurkan untuk mengemukakan pandangan mengenai sesuatu hal yang tidak diperoleh petunjuknya dalam Al-Qur’an maupun Sunnah atau Hadis Rasulullah saw. Apabila terjadi perbedaan pendapat di kalangan Sahabat, Nabi Muhammadlah yang memiliki otoritas untuk membenarkan atau menyalahkan pendapat itu. Keputusan Nabi Muhammad saw itulah yang diperpegangi dan diamalkan.

      Pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah (750 – 1250) hasil kajian (ijtihad) ulama mulai terpolarisasi secara formal dalam bentuk aliran dan madzhab. Pada masa itu muncul dua aliran besar dalam Islam yaitu sunni dan syi′i atau syiah yang terkenal sampai sekarang ini. Selain itu masih terdapat beberapa aliran yang muncul kemudian baik sebagai pecahan dari kedua aliran besar maupun berdiri sendiri. Salah satu di antara aliran yang muncul kemudian adalah Ahmadiyah yang didirikan pada 1889 di Qadian, India. Selain aliran, muncul pada masa itu beberapa mazhab yaitu polarisasi dari pemahaman para ulama terhadap syariah yang terkenal dengan fikhi. Mazhab yang terkenal adalah Malikiyah, Hanafiyah, Syafiiyah, dan Hambaliyah dari Sunni serta mazhab Syiah, dan mazhab lainnya.

      Sunni dan Syiah pada mulanya merupakan dua kelompok politik yang saling berebut kekuasaan. Kelompok pengikut Muawiyah bin Abi Sofyan yang pada waktu itu sedang menjabat sebagai gubernur Syria di Damaskus dengan pengikut Ali bin Abi Thalib yang telah dibai′ah oleh sebahagian umat Islam sebagai khalifah keempat pengganti Usman bin Affan. Sebenarnya kedua kelompok itu mewakili tradisi persaingan antara dua kelompok dari kaum Quraisy pada masa Jahiliyah, Muawiyah dari bani Umayah dengan Ali bin Abi Thalib tokoh dari Bani Hasyim. Puncak perebutan kekuasaan kedua kelompok itu dengan terjadinya Perang Syiffin tahun 656. Pada akhir dari perang itu muncul kelompok ketiga kaum Khawarij yang keluar dari pasukan Ali bin Abi Thalib. Kelompok inilah yang mula pertama kali mencari pembenaran agama bagi tindakan  politik terhadap pembunuhan khalifah Ali bin Abi Thalib yang dianggap telah kufur (keluar dari Islam). Demikian pula anggapan mereka terhadap Muawiyah dan para pengikutnya.

      Kelompok Muawiyah yang memegang kendali kekuasaan sesudah Khulafarrasyidin dan kelompok Ali bin Abi Thalib yang beroposisi mencari legitimasi terhadap pandangan dan tindakan politiknya masing-masing. Kaum Khawarij yang sangat ekstrim dan fundamentalis itu tidak berkembang dalam dunia Islam, sedangkan kelompok Muawiyah berkembang menjadi aliran Sunni dan kelompok Ali bin Abi Thalib menjadi kelompok Syiah. Ahmadiyah pun lahir dalam suasana ketika Inggeris mulai menjajah India termasuk Pakistan sekarang setelah hancurnya kerajaan Islam, Mughal. Sangkaan mereka yang anti Ahmadiyah, menyatakan bahwa Mirza Gulam Ahmad adalah boneka Inggeris. Kemudian Ahmadiyah berkembang menjadi suatu aliran dengan berbagai pandangan yang berbeda dengan dua aliran besar terdahulu.

        Perbedaan pandangan politik antara Sunni dengan Syiah tentang siapa yang berhak memerintah sepeninggal Rasulullah saw beralih menjadi perbedaan faham keagamaan. Syiah yang menganggap bahwa Ali bin Abi Thalib yang paling berhak memerintah sesudah Nabi Muhammad saw, sedangkan Sunni menganggap kekuasaan itu menjadi haknya kaum Quraisy sebagaimana yang telah terjadi masa khulafaurrasyidin. Perbedaan itu menyebabkan Syiah selalu beroposisi terhadap pemerintahan Bani Umayah dan Bani Abbasiyah. Kaum Syiah selalu ditindas oleh pemerintah Umayah, kecuali khalifah Umar bin Abdul Azis (mem.717 –720) yang lebih toleran. Ia melarang perlakuan yang tidak wajar terhadap pengikut Ali bin Abi Thalib. Meskipun Syiah telah berjasa membantu Bani Hasyim untuk mendirikan Dinasti Abbasiyah pada tahun 750 di atas kehancuran Dinasti Amawiyah, tetapi perlakuan penguasa baru itu terhadap Syiah tidak lebih baik dari pemerintah sebelumnya. Pada tahun 850 Khalifah Al-Mutawakkil dari Bani Abbasiyah mulai memusuhi kaum Syiah dan menghancurkan monumen-monumen yang dianggap suci oleh mereka. Sebahagian di antaranya hijrah ke Afrika Utara dan mendirikan pemerintahan Syiah dengan nama Dinasti Fatimiah (909 –1176). Setelah Dinasti Abbasiyah hancur, kelompok Syiah yang banyak mendiami Persia atau Iran itu mendirikan Kerajaan Safawiyah(1502 –1736) yang selalu bermusuhan dengan imperium Turki Usmani (1299 –1923) yang Sunni. Di Pakistan pada 1953 muncul gerakan anti Ahmadiyah yang mendorong pemerintah yang Sunni itu membentuk tim investigasi yang diketuai oleh Muhammad Munir. Pada 1954 Tim Munir mengumumkan bahwa Ahmadiyah diperlakukan sebagai kelompok minoritas non-Muslim, tetapi tidak dilarang keberadaannya.

 

Imam Mahdi

Perbedaan pandangan dan sikap politik berimplikasi pada pandangan keagamaan. Syiah berpandangan bahwa dalam Islam ada imam yaitu pemimpin spritual yang maksum, tidak berdosa. Imam pertama adalah Ali bin Abi Thalib dan imam selanjutnya ditetapkan dari turunannya. Menurut faham Itsna Asyariah, salah satu cabang Syiah, imam ke duabelas dari turunan Ali bin Abi Thalib yaitu Muhammad Almuntadzar (w. 878 ). Mereka meyakini bahwa sesungguhnya Imam Muhammad itu   menghilang dan akan datang kembali sebagai Imam Mahdi. Meskipun tidak mengenal imam, tetapi kepercayaan akan datangnya Imam Mahdi dengan misi mengukuhkan agama Islam menjelang kiamat juga dianut oleh aliran Sunni. Sementara itu Ahmadiyah menyakini bahwa Imam Mahdi yang ditunggu oleh Syiah dan Sunni itu telah muncul yaitu Mirza Ghulam Ahmad  yang dianggap juga sebagai nabi yang membawa agama Islam atau memperbahrui pemikiran tentang Islam. Anggapan bahwa ada nabi sesuadah Muhammad saw ditentang oleh Sunni. Jadi sesungguhnya Sunni, Syiah, dan Ahmadiyah meyakini adanya tokoh Imam Mahdi tersebut. Perbedaannya adalah bagi Sunni dan Syiah, Imam Mahdi masih dalam penantian, sedangkan Ahmadiyah berpendapat bahwa Imam Mahdi itu sudah datang yatu Mirza Ghulam Ahmad.

      Perbedaan pandangan tentang Imam Mahdi dan perbedaan lainnya telah membuat umat Islam terjebak dalam aliran keagamaan yang eksklusif dan sektarianisme. Aliran –aliran dan juga mazhab fikhiyah telah dianggap sebagai agama tersendiri. Umat Islam tidak lagi penganut agama Islam, tetapi telah menjadi penganut Sunni, Syiah, dan Ahmadiyah. Sebagaimana halnya penganut Malikiyah, Hanafiyah, Syafiiyah, dan Hambaliyah. Jika seorang Muslim telah menganut Sunni dan bermazhab Syafiiyah, maka ia tidak boleh meyakini dan mengamalkan ajaran Syiah meskipun dianggapnya sesuai dengan pendapat pribadinya. Dalam kedudukan seperti itu mereka saling mengkafirkan. Di lain pihak mereka masing-masing mempertahankan keislamamannya, karena masih tetap berpegang pada prinsip Islam yaitu pertama, meyakini bahwa tiada tuhan selain Allah swt; kedua, menyakini bahwa Muhammad saw adalah Rasul Allah; dan ketiga, menyakini bahwa Al-Qur’an adalah Kalam Allah. Ketiga keyakinan itu merupakan satu kesatuan. Tidak meyakini salah satunya berarti tidak meyakini pula dua yang lainnya. Jika ada seseorang atau suatu aliran keislaman yang tidak mengakui salah satu atau ketiga prinsip dasar Islam itu, maka orang atau aliran itu sesat. Dengan begitu, baik Sunni maupun Syiah ataupun Ahmadiyah yang masing-masing meyakini ketiga prinsip Islam itu tidak dapat mengkafirkan satu dengan lainnya atau salaing menyatakan sesat. Oleh karena itulah meskipun Tim Munir dap saja menetapkan Ahmadiyah sebagai kelompok minoritas non-Muslim di Pakistan, tetapi tim itu tidak menemukan kriteria dari para ulama tentang seseorang keluar dari Islam atau sesat. Jadi sesungguhnya pemerintah Pakistan hanya menetapkan bahwa Ahmadiyah itu adalah organisasi non-Muslim Sunni. Perlu diketengahkan bahwa munculnya aliran-aliran dalam Islam itu adalah suatu tuntutan sejarah umat Islam. Tetapi sikap permusuhan dan tidak toleran satu aliran dengan aliran lainnya telah menimbulkan malapetaka dan kemunduran sebagaimana terekam dalam memori kolektif umat Islam itu sendiri.

      Sebahagian besar dunia Islam dikuasai oleh Sunni. Mayoritas penganut Syiah terdapat di Iran dan Irak. Sebahagian kecil di antara mereka terdapat di Pakistan, Afghanistan, Dunia Arab, dan Afrika Utara dan Timur. Ahmadiyah terdapat di Pakistan, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Inggeris di Eropa. Islam masuk pertama kali ke Eropa adalah Ahmadiyah. Di Indonesia, Sunni dianut oleh sebahagian besar masyarakat. Ahmadiyah merupakan kelompok minoritas Islam. Syiah juga sudah mulai terdapat di Indonesia, meskipun tidak sepopuler Ahmadiyah. Sebelumnya, sudah sejak islamisasi, sebahagian daerah di Indonesia telah terdapat kultur Syiah meskipun idiologi atau ajaran Syiah dianut kemudian. 

 

 

Fatwa MUI

Fatwa MUI tentang 11 masalah diantaranya Ahmadiyah dan pluralisme agama tampaknya terlalu tergesa-gesa. Sebagaimana diketahui bahwa fatwa itu dihasilkan oleh Munas MUI yang berlangsung dari 26-29 Juli 2005. Memang sebelumnya masalah yang akan difatwakan itu telah disampaikan dalam Rakorda lima wilayah MUI yang berlangsung 2 atau 3 hari, tetapi tidak untuk dibahas secara mendalam. Materi-materi fatwa hanya didiskusikan layak atau tidaknya difatwakan. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika fatwa tentang Ahmadiyah hanya mengukuhkan fatwa MUI 1980. Pada konsiderannya hanya dicantumkan keputusan Majma′ al-Fiqh al-Islam OKI tahun 1985 di Jeddah sebagai pertimbangan. Fatwa tentang Pluralisme tampaknya tidak dibahas secara mendalam makna pluralisme agama yang sebenarnya. Sangat boleh jadi fatwa tentang kedua faham itu dikeluarkan mengingat Ahmadiyah yang terkenal sebagai organisasi yang sangat handal dalam dakwah makin diminati umat Islam Indonesia dan pluralisme agama yang dianggap sebagai salah satu faham yang mendukung kerukunan umat beragama makin menarik perhatian masyarakat. MUI sebagai wadah berhimpunnya ulama Sunni tentunya sangat terganggu dengan kemajuan Ahmadiyah dan sangat kawatir akan eksistensi agama Islam di Indonesia dengan makin meluasnya pluralisme agama itu.

      Memperhatikan tajuk Fatwa Keharaman dapat difahami bahwa fatwa MUI itu menggunakan pendekatan fikhi, karena itu cendrung konservatif. Sementara itu faham Ahmadiyah dan pluralisme bertalian dengan pemikiran teologi (Ilmu Kalam). Dengan begitu pembahasan kedua faham tersebut hendaknya dari sudut pandang Ilmu Kalam, bukan pendekatan Fikhi. Mungkin MUI menganggap bahwa fatwa itu hanya dalam bidang syariah semata. Sesungguhnya fatwa juga berkenaan dengan masalah aqidah.

      Berdasarkan pokok-pokok pikiran yang telah diuraikan kiranya fatwa tentang Ahmadiyah dapat difahami sebagai pendapat Sunni. Jadi menurut Sunni, pandangan Ahmadiyah tentang Mirza Ghulam Ahmad sebagai Imam Mahdi dan nabi adalah ajaran yang keliru. Fatwa MUI yang juga mendesak pemerintah untuk melarang Ahmadiyah tidak tepat, karena negara yang berdasarkan Pancasila ini bukan negara Sunni, sehingga harus memberikan kebesan untuk warga negaranya menganut suatu agama atau aliran keagamaan tertentu serta kebebasan untuk menjalankan  keyakinan keagamaannya sesuai ketentuan UUD 1945 yang tentunya tidak akan dilanggar oleh pemerintah. Lagi pula menganut suatu agama dan aliran keagamaan adalah hak asasi manusia yang sesuai pula dengan Islam.

      Pluralisme menurut Fatwa MUI adalah pandangan yang mengganggap semua agama itu sama dan umat semua agama itu masuk surga. Tentu saja pluralisme dalam pengertian seperti itu tidak dibenarkan oleh MUI. Tetapi Pluralisme agama sebenarnya adalah faham yang mengakui eksistensi agama-agama dalam suatu masyrakat. Pluralisme tidak mungkin mengakui semua agama itu sama dengan meniadakan perbedaan yang ada. Sebab pengakuan demikian bertentangan dengan realitas keragaman agama yang ada. Logika pluralismepun tidak membenarkan panadangan itu. Seandainya semua agama itu sama untuk apa manusia harus menganut agama tertentu. Pluralisme tidak membicarakan tentang masuk surga atau neraka dari umat beragama. Sebab itu termasuk wilayah keyakinan. Menurut agama-agama yang ada tidak semua umatnya secara otomatis masuk surga. Ada juga di antaranya umatnya masuk neraka. Pluralisme mengakui adanya persamaan dan perbedaan di anatara semua agama. Jadi adanya pandangan yang menyatakan bahwa semua agama itu tidak sama adalah sama kelirunya dengan pandangan yang menyatakan bahwa semua agama itu sama. Diantara agama-agama itu, terutama agama profetis, terdapat pebedaan pada aspek-aspek formalnya dan simbol-simbol yang digunakan, tetapi pada aspek fungsional yang bertalian dengan sikap dan perilaku umat adalah sama. Fungsi agama untuk menimbulkan kedamaian pada diri sendiri dan masyarakat serta membawa kesalamatan bagi kehidupan di dunia ini dan diakhirat kelak adalah sama pada semua agama. Jika demikian halnya pluralisme bukan sesuatu yang diharamkan tetapi sesuai dengan ajaran agama termasuk agama Islam. Pluralisme muncul karena masyarakat dunia global sekarang ini mengarah pada masyarakat pluralistik dalam agama, ras, dan budaya sesuai sunnatullah. Fatwa MUI menghalalkan plurlistik tetapi mengharamkan pluralisme, sedangkan yang disebut kemudian adalah faham yang mengakui sifat masyarakat yang disebut pertama. Dengan begitu fatwa itu paradoks dan janggal.

      Memang, kesalahan persepsi terjadi karena ada gap dalam pengetahuan manusia. Sebagai penganut Sunni, masyarakat Islam Indonesia hanya mengetahui Islam menurut faham Sunni sebagaimana yang diajarkan dalam keluarga sekolah dan masyarakat. Orang Sunni tidak mengetahui dengan baik ajaran Syiah dan Ahmadiyah. Umat hanya mengenal kedua aliran secara dangkal dan tidak berdasarkan informasi dari tokoh aliran itu sendiri. Oleh karena itu perlu dimasukkan aliran Syiah dan Ahmadiyah serta lairan Islam lainnya dalam kurikulum perguruan tinggi Islam.

 

Dari Transisi ke Kematangan

Yusuf Al-Qaradhawi mengambarkan masyarakat Muslim- termasuk di Indonesia, berada dalam transisi menuju kematangan kebangkitan Untuk menca[pai kondisi demikian, dalam bukunya Kebangkitan Gerakan Islam ia mengusulkan sepeluh langkah menuju kematangan kebangkitan Islam. Tiga langkah di antaranya dikemukakan di sini untuk direnungkan bersama. Umat Islam terutama para pemimpinnya, ulama, muballigh, dan pendidik harus meninggalkan sikap sentimentil dan emosional menuju sikap rasional dan ilmiah; meninggalkan kejumudan dan taklid menuju ijtihad dan pembahruan; meninggalkan fanatisme dan eksklusifisme menuju toleransi dan inklusifisme. Dengan sikap rasional disertai dengan semangat modernis serta berpandangan inklusifisme, umat Islam Indonesia akan bangkit merajut masa depan yang lebih bermartabat. Semoga. 

 

About these ads

Komentar»

No comments yet — be the first.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: