<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>B's Weblog</title>
	<atom:link href="http://basnangsaid.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://basnangsaid.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 Apr 2008 03:49:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='basnangsaid.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>B's Weblog</title>
		<link>http://basnangsaid.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://basnangsaid.wordpress.com/osd.xml" title="B&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://basnangsaid.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>kedudukan dan peran agama dalam masy.plural</title>
		<link>http://basnangsaid.wordpress.com/2008/04/23/kedudukan-dan-peran-agama-dalam-masyplural/</link>
		<comments>http://basnangsaid.wordpress.com/2008/04/23/kedudukan-dan-peran-agama-dalam-masyplural/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Apr 2008 03:48:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>basnang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://basnangsaid.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Basnang Said (Dekan Fak. Agama Islam Univ. Asy’ariyah Mandar/Sedang belajar pada Program Doktor UIN Alauddin Makassar) Pendahuluan Agama yang dimaksud dalam tulisan ini adalah agama-agama prophetic atau samāwy yaitu agama yang diyakini oleh penganutnya berasal dari Tuhan dan yang disampaikan kepada manusia melalui perantaraan seorang nabi atau semacamnya. Dalam sejarah manusia, Tuhan telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=basnangsaid.wordpress.com&amp;blog=3495063&amp;post=10&amp;subd=basnangsaid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="Chapter" style="text-align:center;line-height:normal;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:17pt;"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:14pt;">Oleh : Basnang Said</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:14pt;">(Dekan Fak. Agama Islam Univ. Asy’ariyah Mandar/Sedang belajar pada Program Doktor UIN Alauddin Makassar)</span></p>
<p class="ChapterPart" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:6pt 19.85pt 6pt 0;"><span> </span><span id="more-10"></span><span>Pendahuluan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Agama yang dimaksud dalam tulisan ini adalah agama-agama <em>prophetic</em> atau <em>samāwy</em> yaitu agama yang diyakini oleh penganutnya berasal dari Tuhan dan yang disampaikan kepada manusia melalui perantaraan seorang nabi atau semacamnya. Dalam sejarah manusia, Tuhan telah menurunkan berbagai agama, di antaranya tiga agama serumpun yang dibawah oleh keturunan Nabi Ibrahim a.s (Abraham) –bapak Bani Israil dan Arab itu-, yaitu Yahudi, Nasrani (Katholik dan Protestan), dan Islam. Ketiga agama tersebut masih eksis dan merupakan agama terbesar di dunia sekarang, sementara agama propetik lainnya tidak di temukan lagi. Tetapi dua agama besar lainnya, Hindu dan Budha oleh para ahli sejarah agama dimasukkan dalam agama propetik itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Keaneka ragaman agama dan juga etnis, menyebabkan susunan masyarakat dunia, termasuk Indonesia, menjadi plural. Kondisi demikian, seringkali menimbulkan bentrokan antar umat beragama dan antar etnis. Konflik “abadi” antara Israel dengan Arab ( umat Yahudi dengan Muslim dan Kristiani) di Palestina, permusuhan yang tak habis-habisnya antara umat Katholik dan umat Protestan di Irlandia Utara, bentrokan antara umat Hindu dan Muslim di India yang tak kunjung mereda, dan rangkaian konflik bernuansa agama di Indonesia, memberi kesan seakan-akan agama merupakan salah satu faktor dari konflik itu. Jika kondisi demikian dibiarkan, maka pada akhirnya agama akan mengalami stigmatisasi dalam pergaulan masyarakat global. Agama tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat. Masyarakat akan kembali menganggap bahwa agama itu tidak hanya sebagai <em>the opium for the people</em> tetapi lebih dari itu sebagai <em>homo homoni lupus</em> bagi sesama umat beragama.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Sudah barang tentu pandangan negatif terhadap agama seperti itu tidak benar. Tetapi realitas sosial seperti digambarkan di atas, menunjukkan adanya perbedaan antara doktrin agama dengan sikap dan perilaku umatnya serta terdapat kekeliruan dalam memahami beberapa prinsip pokok agama. Prinsip-prinsip pokok yang bertalian dengan kemanusiaan dan kehidupan bermasyarakat, pada hakekatnya sama pada semua agama. Dengan demikian, perbedaan antara satu agama dengan agama lainnya bukan merupakan faktor penghambat dalam kehidupan bermasyarakat.</span></p>
<p class="ChapterPart" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:6pt 19.85pt 6pt 0;"><span>Masyarakat Plural dalam Pandangan Agama</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span>Pada era globalisasi seperti sekarang ini terdapat peluang untuk terbentuknya masyarakat pluralistik terutama dari segi agama dan etnis. Meskipun migrasi penduduk secara besar-besaran telah terhenti beberapa abad yang lalu, tetapi pada masa keterbukaan dan informasi serta komunikasi yang maju seperti sekarang ini, memungkinkan terjadinya mobilisasi penduduk dari satu daerah ke daerah yang lain dengan berbagai alasan. Setelah Perang Dunia II, sebahagian orang Asia dan Afrika berpindah ke Amerika dan Eropa dan membentuk komunitas minoritas dengan etnis dan agama yang berbeda dengan masyarakat setempat. Proses pembentukan masyarakat pluralistik seperti ini akan terus berlangsung pada era globalisasi, mengingat batas-batas wilayah atau negara tidak mampu lagi mencegah terjadinya perpindahan penduduk dan menyebabkab tumbuhnya masyarakat plural diberbagai kawasan dunia ini. Bahkan masyarakat plural akan menjadi pertanda utama dari suatu masyarakat<span> </span>yang telah maju.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span>Masyarakat majemuk dari segi etnis dan agama, sesungguhnya merupakan anugrah dan kehendak Tuhan. Tuhan Yang Maha Kuasa telah menetapkan hukum-hukum-Nya, selain berupa doktrin agama juga berupa ketentuan yang berlaku pada alam dan manusia yang lazim disebut hukum alam (<em>sunnatullah</em>). Sebagaimana yang diajarkan oleh agama, nenek moyang manusia itu adalah serang laki-laki (Adam) dan seorang perempuan (Hawa), kemudian dari keduanya lahirlah manusia yang banyak dalam berbagai etnis. Keberbedaanya sebagai pengaruh geografis di mana manusia lahir dan dibesarkan.</span><a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> Keragaman etnis manusia merupakan kehendak Tuhan yang telah ditetapkan dengan ketentuan-ketentuan alam yang bersifat biologis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span>Keragaman agama, diyakini sebagai kehendak Tuhan untuk mengutus berbagai rasul dan nabi yang bertugas menyampaikan agama kepada umatnya. Beberapa nama yang disebutkan dalam Alkitab seperti Nuh, Abraham, Ismael, Ishak, Ya’kub,</span><a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> oleh Islam disebutkan sebagai rasul dan nabi<span> </span>Allah yang membawa agamanya masing-masing untuk umatnya.</span><a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> Nabi dan rasul itu sangat banyak, walaupun di dalam kitab suci Islam hanya disebutkan 25 orang. Namun demikian, masih banyak di antara mereka yang tidak disebutkan.</span><a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> Kemungkinan diantara nabi/rasul yang tidak disebutkan itu, termasuk pembawa agama Hindu dan Budha. Jadi keragaman agama yang pernah dan masih ada di dunia ini berasal dari dan atas kemauan Tuhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span>Manusia lahir sebagai etnis tertentu, bukan atas pilihan atau kemauan sendiri. Kelahiran itu sebagai suatu peristiwa biologis. Tetapi manusia mempunyai kebebasan untuk memilih salah satu dari agama-agama itu menjadi anutannya. Pilihan itu suatu peristiwa kultural. Itulah sebabnya seseorang yang lahir dalam suatu etnis tertentu tidak dipertanggung jawabkan kepada Tuhan, sedangkan seseorang yang memilih untuk menjadi penganut suatu agama atau tidak beragama, akan dipertanggung jawabkan kepada Tuhan. Oleh karena keragaman etnis dan agama merupakan kemauan Tuhan, maka segala kegiatan dan usaha dengan maksud untuk menghilangkan suatu etnis atau untuk meyingkirkan suatu agama dari suatu masyarakat, termasuk perbuatan dosa dan bertentangan dengan hak asasi manusia.</span></p>
<p class="ChapterPart" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:6pt 19.85pt 6pt 0;"><span> </span></p>
<p class="ChapterPart" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:6pt 19.85pt 6pt 0;"><span>Misi Agama</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Meskipun berbilang banyaknya, namun agama-agama itu menjalankan misi yang sama, yaitu keselamatan (<em>salvation</em>) bagi manusia. Segala bentuk ibadah atau kebaktian dan ketentuan berupa perintah dan larangan yang terdapat pada semua agama sesungguhnya dimaksudkan untuk keselamatan manusia.</span><a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> Dengan demikian keselamatan manusia merupakan sesuatu yang mendasar dalam semua agama dan bersifat universal. Perlu ditegaskan bahwa meskipun semua agama itu sama tetapi bentuk ibadah dan kebaktian dengan segala rangkaiannya, tentu berbeda antara satu agama dengan agama lainnya. Akan halnya dengan perintah dan larangan terutama yang bertalian dengan kemanusiaan lebih banyak terdapat persamaan antar agama. Dengan begitu perbedaan antar agama terdapat pada kebaktian agama itu, sedangkan ajaran-ajaran kemanusiaan pada prinsipnya sama. Sesungguhnya Tuhan menurunkan agama untuk kepentingan manusia, dalam hal ini adalah keselamatan manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Misi keselamatan itu menyangkut keselamatan pribadi dan keselamatan orang lain, keselamatan di dunia dan keselamatan di akhirat. Semua agama meyakini adanya hari akhirat. Keselamatan orang lain, baik yang seagama maupun orang yang tidak seagama dengan kita, bahkan dengan orang tidak seagama sekalipun. Keselamatan pribadi sangat tergantung pada ibadah dan kepatuhan terhadap ajaran kemanusiaan dari agama yang dianut. Keselamatan orang lain baik yang seagama atau pun tidak, selain tergantung pada kebaktian/ibadah<span> </span>dan kepatuhan terhadap ajaran kemanusiaan agamanya, juga sangat tergantung pada “kita.” Kita bertanggung jawab terhadap orang lain yang se agama, atas keselamatannya di dunia dan atas keselamatannya di akhirat. Kita juga harus bertanggung jawab atas keselematan orang lain yang tidak se agama dengan kita di dunia, sedangkan keselamatannya di akhirat tidak dapat kita pertanggung jawabkan. Dengan begitu tidak ada suatu kewajiban untuk kita mengajak orang lain masuk dalam agama kita, dan jika seseorang tidak menyelamatkan orang lain dengan pengertian tidak melindungi atau ia menciderai jiwa, harta dan kehormatan orang lain, berarti ia telah melecehkan agamanya sendiri dan tentu saja termasuk perbuatan dosa.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="ChapterPart" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:6pt 19.85pt 6pt 0;"><span>Doktrin, Institusi dan Umat</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Doktrin, institusi dan umat termasuk elemen-elemen penting dari suatu agama. Doktrin agama adalah ajaran-ajaran dasar yang diyakini kebenarannya oleh penganutnya, karena berasal dari Tuhan. Doktrin keagamaan bersifat normatif dan pada umumnya meliputi kepercayaan, peribadatan dan ajaran-ajaran kemanusiaan yang dapat disebutkan sebagai ajaran moral. Doktrin tentang kepercayaan, ibadah dan moral berbeda antara satu agama dengan agama lain, tetapi banyak pula persamaan-persamaannya. Untuk kepentingan aplikasi suatu doktrin perlu diadakan interpretasi oleh ahli agama yang bersangkutan. Acap kali terjadi perbedaan hasil interpretasi itu. Perbedaan itulah yang menyebabkan timbulnya berbagai pendapat tentang suatu ajaran agama dan akhirnya timbul berbagai aliran dalam suatu agama sebagai polarisasi dari hasil interpretasi tersebut, dan berpotensi untuk terjadinya konflik internal.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Institusi keagamaan termasuk salah satu dari lima institusi dasar yang harus terdapat dalam suatu masyarakat. Ke lima institusi itu adalah rumah-tangga, pemerintahan, pendidikan, hukum, dan agama. Institusi keagamaan diperlukan untuk melayani umat dalam melaksanakan kehidupan keagamaannya serta memelihara kelangsungan dan pewarisan agama kepada umatnya. Karena itu dalam masyarakat terdapat institusi peribadatan/kebaktian seperti masjid, gereja, pura, dan wihara. Selain itu terdapat institusi keagamaan lainnya. Meskipun fungsinya sama, tetapi suatu instusi agama berbeda secara nyata dari institusi agama lain.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Umat suatu agama, merupakan indikator eksistensinya agama itu dalam masyarakat. Dalam masyarakat Indonesia terdapat umat Islam, umat Protestan, umat Katolik, umat Hindu, dan umat Budha. Kehidupan keagamaan umat suatu agama sangat bervariasi baik dari segi pengetahuan agama maupun pelaksanaan agama.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Dalam masyarakat plural, perbedaan dalam hal doktrin keagamaan, peranan institusi keagamaan, dan pengetahuan serta pemahaman agama berpotensi untuk menimbulkan konflik baik internal maupun eksternal, konflik horizontal maupun vertikal. Perbedaan doktrin yang tidak dapat dihindari itu tidak akan berkembang menjadi konflik apabila umat beragama yang berada dalam suatu masyarakat berjiwa toleran dengan membolehkan, membiarkan dan menghargai doktrin dan ajaran agama yang berlainan dengan agamanya atau pahamnya sendiri. Perlu dikembangkan sikap <em>agree in disagreement</em>. Sikap setuju untuk suatu doktrin agama dianut dan dilaksanakan oleh umatnya meskipun ia sendiri tidak setuju dengan doktrin dan ajaran agama itu. Peranan institusi yang mungkin berpotensi untuk menimbulkan konflik hendaknya dapat didialogkan untuk mencari jalan keluar. Untuk itu diperlukan komunikasi antara tokoh dan pemimpin umat beragama secara intensif dan terus menerus untuk menyelesaikan masalah-masalah yang timbul. Seringkali sikap dan perilaku umat beragama yang tidak benar dapat menimbulkan konflik. Sikap dan perilaku demikian mungkin disebabkan oleh ketidak pahaman terhadap ajaran agamnya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="ChapterPart" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:6pt 19.85pt 6pt 0;"><span>Beragama secara formal dan fungsional</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Pada setiap agama terdapat dua aspek yang berbeda tetapi berkaitan yaitu aspek formal dan aspek fungsional. Aspek formal terdiri atas sejumlah ajaran, tata upara peribadatan dan simbol-simbol yang membentuk agama itu sendiri dan dapat dibedakan dengan agama lain. Realitas suatu agama dilihat dari aspek formalnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Sementara itu aspek fungsional dari agama adalah kegunaan atau pengaruh aspek formal terhadap kehidupan sosial umat. Secara umum dapat disimpulkan bahwa aspek fungsional agama adalah kedamaian dan ketentraman dalam diri seseorang dan umat manusia. Jadi pengaruh dari penghayatan, pengamalan dan penggunaan agama (ajaran/doktrin dan interpretasi, ibadah dan simbol-simbol) terhadap terwujudnya misi agama, keselamatan dan terciptanya perdamaian dan ketentraman bagi kehidupan pribadi dan masyarakat. Selain itu tiap bahagian dari aspek formal mempunyai kegunaan atau pengaruh khusus terhadap sikap dan perilaku orang yang melaksanakannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Jadi hubungan antara kedua aspek agama itu sangat erat. Beragama secara total dan utuh apabila aspek formal diwujudkan sehingga menimbulkan aspek fungsionalnya. Jika tidak, keberagaman itu tidak sempurna. Seseorang yang rajin membaca kitab suci, tekun mengikuti dan melaksanakan ibadah dan selalu menggunakan simbol-simbol agamanya tetapi tidak membawa keselamatan bagi dirinya dan masyarakat, berarti ia hanya beragama secara formal. Tetapi jika seseorang merasa aman dan damai pada dirinya dan menciptakan kedamaian pada masyarakatnya karena pengaruh dari pelaksanaan agamanya, maka sesungguhnya ia telah beragama secara fungsional. Dengan begitu beragama secara formal belum menjamin keselamatan di dunia dan terutama di hari kemudian. Selain itu beragama secara formal mungkin bisa menyebabkan agama dirasakan sebagai suatu beban dalam hidup karena tidak dinikmati kegunaan agama yang dianutnya. Bahkan fanatisme terhadap aspek formal agama dapat menjerumuskan seseorang untuk melakukan sesuatu yang merusak ketentraman masyarakat jika simbol-simbol agamanya dirusak. Jika demikian halnya agama bukan saja tidak bermanfaat, tetapi agama itu berbahaya bagi masyarakat. </span><span>Kalau begitu suatu saat nanti agama itu ditinggalkan oleh masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Pembinaan umat harus dilakukan dalam suatu proses yang dimulai dengan pemberian pengetahuan agama<span> </span>dilanjutkan dengan pelaksanaan agama dan terciptanya fungsi agama. Beragama secara formal sangat penting untuk menampakkan eksistensi agama itu dalam masyarakat dan untuk mewujudkan fungsi agama. Untuk mewujudkan fungsi agama itu diperlukan beragama secara fungsional. Dalam masyarakat plural, patut didingat bahwa agama berbeda secara formal, tetapi bersatu secara fungsional yaitu untuk kedamaian dan ketentraman diri sendiri dan masyarakat. Adalah tugas yang berat tetapi suci bagi pemimpin umat beragama untuk membina umatnya agar beragama secara fungsional.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<h1><span>Politisasi Agama </span></h1>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Sesungguhnya ada hubungan antara agama dan politik. Sebab politik dalam pengertian distribusi dan pelaksanaan kekuasaan itu tentunya bertujuan untuk mewujudkan ketentraman dan keamanan dalam masyarakat sejalan dengan misi dan fungsi agama. Untuk itu diperlukan suatu sistem politik untuk penataan distribusi maupun pelaksanaan kekuasaan itu. Akan tetapi sistem politik belum menjamin terjadinya ketentraman dan keamanan dalam masyarakat jika sistem itu tidak disertai dengan etika politik. Pada masalah etika<span> </span>politik inilah agama memainkan peran yang sangat penting. Semua agama sarat dengan muatan moral, bagi individu, maupun sosial. Dan sekali lagi ditegaskan bahwa ada persamaan ajaran moral di antara agama-agama itu. Kekacauan yang terjadi dalam masyarakat karena baik politisi maupun masyarakat menanggalkan moralitas agama dari politik. Sehingga ada kesan seakan-akan politik adalah permainan kotor, penuh dengan kebohongan, kemunafikan, kecurangan dan segala macam sikap serta perilaku moral yang jelek.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span></span><span>Dalam masyarakat plural, agama seringkali dijadikan sebagai alat politik (politisasi agama). Hal demikian disebabkan oleh karena setiap agama mempunyai umat yang jelas. Sedangkan untuk berkuasa, politisi menghendaki dukungan massa yang terdiri atas umat berbagai agama. Dilain pihak, masyarakat sering juga menggunakan agama untuk kepentingan kegiatan politik. Agama dijadikan sebagai alat mobilisasi umat untuk melawan pemerintah. Sebaliknya dari pemerintah pun menggunakan agama sebagai motivasi untuk menggerakkan masyarakat. Jadi politisi, pemimpin masyarakat, dan pemerintah menjadikan agama sebagai alat untuk mencapai tujuan mereka, dan bukan sebaliknya politik dijadikan sebagai alat untuk menerapkan moral agama. </span>Dalam masyarakat plural, politisasi agama berpotensi untuk menimbulkan konflik.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="ChapterPart" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:6pt 19.85pt 6pt 0;">Penutup</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Dalam era globalisasi, masyarakat akan berkembang menjadi semakin majemuk sejalan dengan timbulnya berbagai segmen dalam masyarakat. Sesuai dengan kehendak Tuihan, dalam masyarakat plural, agama-agama itu tetap eksis. Oleh karena itu berbagai usaha untuk melenyapkan suatu agama bukan saja perbuatan yang sia-sia, tetapi lebih dari itu termasuk perbuatan dosa.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Baik kondisi masyarakat plural dan kondisi setiap agama itu sendiri merupakan potensi timbulnya berbagai konflik dalam masyarakat. Sesungguhnya jika fungsi agama berupa integrasi sosial, kedamaian dan ketentraman dapat terwujud, maka konflik sosial dapat dicegah.<span> </span>Selain fungsionalisasi agama dalam kehidupan pribadi dan masyarakat, kesamaan misi agama yaitu keselematan dapat menjadi perekat dalam kehidupan sosial. Agaknya konflik dalam masyarakat plural selama ini ditimbulkan oleh kekeliruan dalam memahami keberadaan agama lain. Oleh karena itu perlu dikaji ulang pandangan, sikap, dan perilaku dari umat suatu agama terhadap umat agama lain. Semoga.</p>
<p class="MsoNormal">
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> Lihat Alkitab, Kejadian 5 dan Al-Qurān, Al-Hujrat (49), 13</span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> Lihat Alkitab, kejadian 6-27</span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> Lihat Al-Qurāan, An-Nisa’ (4), 163</span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> Lihat Al-Qurān, Al-Mukmin (40), 78</span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> Berbagai bentuk kebaktian dan berbagai upacara yang terdapat dalam perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, dan berbagai bentuk ibadah dalam Islam, meskipun berbeda tata caranya tetapi tujuannya untuk keselamatan diri sendiri dan aplikasinya pada keselamatan orang. Ajaran kemanusiaan seperti sepuluh firman yang diajarkan nabi Musa AS dan yang diajarkan Yesus kristus serta yang diajarkan nabi Muhammad SAW, selain mempunyai kesamaan juga untuk keselamatan ummat manusia. </span><span>Demikian pula ajaran kemanusiaan dalam agama Hindu dan Budha.<span> </span></span></p>
</div>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/basnangsaid.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/basnangsaid.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/basnangsaid.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/basnangsaid.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/basnangsaid.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/basnangsaid.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/basnangsaid.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/basnangsaid.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/basnangsaid.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/basnangsaid.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/basnangsaid.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/basnangsaid.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/basnangsaid.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/basnangsaid.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/basnangsaid.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/basnangsaid.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=basnangsaid.wordpress.com&amp;blog=3495063&amp;post=10&amp;subd=basnangsaid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://basnangsaid.wordpress.com/2008/04/23/kedudukan-dan-peran-agama-dalam-masyplural/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e5a0d2479f21121265affa959c83d9b8?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">basnang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Al-Quran: antara teks dan konteks</title>
		<link>http://basnangsaid.wordpress.com/2008/04/23/al-quran-antara-teks-dan-konteks/</link>
		<comments>http://basnangsaid.wordpress.com/2008/04/23/al-quran-antara-teks-dan-konteks/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Apr 2008 03:19:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>basnang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://basnangsaid.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Basnang Said Mahasiswa Program Doktor UIN Makassar/Ketua LP. Maarif NU Sulawesi Barat/Staf pengajar pada Universitas Al Asy’ariyah Mandar I. Pendahuluan Sekedar untuk memulai bahwa teks bukan sekedar medium bagi ilmu pengetahuan, melainkan ia sendiri adalah obyek ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri, yang bisa menghadirkan pengetahuan baru. Tetapi teks sering kali menipu, membelenggu, dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=basnangsaid.wordpress.com&amp;blog=3495063&amp;post=8&amp;subd=basnangsaid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:14pt;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr" align="center"><strong><em>Oleh : Basnang Said</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr" align="center"><strong><em><span>Mahasiswa Program Doktor UIN Makassar/Ketua LP. Maarif NU Sulawesi Barat/Staf pengajar pada Universitas Al Asy’ariyah Mandar</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span>I.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Pendahuluan</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:54pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Sekedar untuk memulai bahwa teks bukan sekedar medium bagi ilmu pengetahuan, melainkan ia sendiri adalah obyek ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri, yang bisa menghadirkan pengetahuan baru. Tetapi teks sering kali menipu, membelenggu, dan menyembunyikan kebenaran yang ada dibaliknya sehingga orang tidak mampu menangkap kebenaran itu. Di situlah pentingnya kritik. <a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:54pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Teks yang dimaksud adalah antara lain Alquran. Dalam perjalanan pemikiran umat Islam, Alquran kerap kali menjadi obyek perdebatan khususnya eksistensi dan urgensi Alquran sebagai wahyu yang diturunkan Allah swt kepada Muhammad dan umatnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span> </span><span> </span>Sebagian besar kaum muslimin meyakini bahwa Alquran dari halaman pertama hingga terakhir merupakan kata-kata Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad secara verbatim, baik kata-katanya <em>(lafdhan)</em> maupun maknanya <em>(ma&#8217;nan)</em>. Kaum muslimin juga meyakini bahwa Alquran yang mereka lihat dan baca hari ini adalah persis seperti yang ada pada masa nabi lebih dari seribu empat ratus tahun silam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:63pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Tetapi keyakinan ini sesungguhnya lebih merupakan formulasi dan angan-angan teologis<em> (al-khayal al-din)</em> yang dibuat oleh para ulama sebagai bagian dari formulasi dokrin-doktrin Islam. Hakikat dan sejarah penulisan al-Quran sendiri penuh dengan berbagai nuansa yang rumit, dan tidak sunyi dari perdebatan, pertentangan, intrik, dan rekayasa.<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> </span>Belum lagi perdebatan para teolog dari<span> </span>muktazilah, asy&#8217;ariyah dan maturidiyah yang sering kali mempertanyakan eksistensi Al-Quran. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Ketika Salman Rusydi menyebutkan al-Quran sebagai <em>the satanic verses</em>,<a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> menghentakkan dunia Islam, memerahkan telinga dan muka para agamawan tetapi di sisi lain umat (Islam) dan kita semua lengah dan hanya konsen pada ajaran teks qur&#8217;anik tanpa mencoba mengaktualkan ajaran itu dalam konteks kehidupan. Kini tampak bahwa Al Qur&#8217;an sebuah benda yang memiliki dua dimensi tetapi keduanya tak pernah bertemu. Teks lari ke kanan dan konteksnya lari ke kiri. Makanya muncul adagium bahwa Islam mundur karena meninggalkan ajaran agamanya (Alquran) dan Barat maju karena meninggalkan agamanya dan mengambil hikmah ajaran Islam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Kekeliruan semata, jika jargon Islam atau Alquran <em>is solution</em> tetapi miskin bukti. Hanya umat yang progressiflah yang dapat menemukan manfaat dari Alquran dan mengamalkannya sekaligus menjadikan sebagai undang-undang peradaban ilmu dan pengetahuan.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Judul ini,<span> </span>membuat gemes penulis untuk mengungkap sisi penting aktualisasi al-Quran dalam kehidupan untuk menjadi pedoman hidup, mengambil spirit dan hikmahnya untuk perbaikan peradaban umat. Hanya dengan membaca secara konteks dari teks akan<span> </span>kandungan al-Quran, kemukjizatannya semakin tampak.<strong> </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span>II.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Alquran, Sejarah, dan Pemaknaan</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span>B.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Alquran sebagai Teks dan Arabisasi</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Alquran adalah sebuah teks yang mengatasi dan melampaui teks-teks lain dalam sejarah. Karena ruh keilahian Alquranlah yang membuatnya tahan dari pelbagai kritik dan gempuran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Sebagai sebuah teks, Alquran tak pernah kering apalagi habis. Teks alquran bisa ditafsirkan secara kaya, tergantung konteks sosial dan budaya struktur nilai dan kesadaran para pembacanya. Dengan demikian, persentuhan antara penafsir dan Alquran merupakan pergulatan yang dinamis bahkan sering tak terduga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Langkah awal yang tentunya tidak boleh diabaikan dalam penafsiran Alquran adalah memahami teksnya, yakni melihatnya dalam aspek kebahasaan, bahasa Arab. Tidak kurang dari sembilan kali Alquran sendiri menyebut bahwa alat komunikasi yang dipakainya adalah bahasa Arab.<a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Dalam literatur-literatur yang membincangkan tentang Alquran, para ulama menyebutkan bahwa Alquran turun secara berangsur-angsur dalam tempo 23 tahun. Malah ada yang mengatakan, 22 tahun 2 bulan 22 hari.<a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Penamaan Alquran bagi kitab suci ini tidak lebih karena ia adalah bahan bacaan umat Islam, umat Muhammad.<a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Orang –orang muslim sangat yakin bahwa Alquran benar-benar bersumber dari Allah swt. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Konsep wahyu dapat dianggap sebagai konteks sentral bagi teks itu sendiri. Teks menggunakan nama tersebut (wahyu) untuk menunjuk dirinya sendiri di banyak tempat. Meskipun ada beberapa nama lain bagi teks, seperti <em>Alquran, adzdzikr,</em> dan <em>al-kitab,</em> tetapi nama wahyu dapat mencakup semua nama tersebut sebagai konsep yang bermakna dalam kebudayaan, baik sebelum atau sesudah terbentuknya teks. Kalau as-Suyuthi dan az-Zarkazi pernah berusaha menghimpun nama-nama Alquran hingga mencapai lebih dari lima puluh nama dan mencampuradukkan antara nama dalam bentuk kata benda dengan nama dalam bentuk kata sifat. Oleh karena itu, kata wahyu terbatas pada <em>al-kitab, Alquran, ar-risalah,</em> dan<em> al-balag</em>.<a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span> </span>Keyakinan tentang sumber keilahian wahyu-wahyu yang diturunkan kepada Muhammad melalui malaikat jibril merupakan keyakinan standar dalam sistem teologi Islam. Kalau tidak ada keyakinan seperti ini, tak seorang pun dapat mengklaim dirinya muslim. Tetapi hal ini seringkali mendapat tantangan khususnya dari kaum non muslim.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span> </span>Pengakuan Muhammad bahwa ia merupakan penerima wahyu dari Tuhan semesta alam untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia mendapat tantangan dari orang arab yang sezaman dengannya. Alquran sendiri tidak menyembunyikan adanya oposisi yang serius terhadap nabi, tetapi justru merekam rentetan peristiwa tersebut tanpa memutarbalikkan pandangan-pandangan negatif para oposan kontemporer Nabi mengenai asal-usul genetik atau sumber wahyu yang diterimanya, termasuk ejekan dan celaan musuh-musuh Muhammad berikut bantahan terhadap miskonsepsi mereka. <a name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span> </span>Merupakan hal logis jika tantangan semacam ini diajukan selaras dengan perkembangan kuantitas wahyu yang ada di tangan nabi dari waktu ke waktu. Jadi ketika kepada nabi baru diturunkan beberapa surat, oposan-oposannya ditantang untuk mendatangkan perkataan atau sebuah surat semisal itu. Ketika belasan surat telah diwahyukan kepada nabi, mereka ditantang untuk mendatangkan sepuluh surat semisal itu. Dan ketika wahyu-wahyu Alquran dalam perbendaharaan nabi telah mengambil bentuk seperti kitab, maka para oposan Muhammad ditantang untuk mendatangkan yang seperti tantangannya. Tampak bahwa sejak semula Alquran seringkali mendapat tantangan- mungkin sudah menjadi sunnatullah. Hanya orang-orang berimanlah yang dapat bertahan dari segala gempuran terhadap kitab sucinya. Dan ketahanan Alquran terhadap gempuran itu sebagai bagian kemukjizatan<a name="_ftnref9" href="#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Alquran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Berbagai gagasan para oposan kontemporer Nabi tentang asal-usul atau sumber Alquran terlihat memiliki kemiripan dengan konsepsi yang dikembangkan di Barat sejak abad pertengahan hingga dewasa ini. Bahkan, dalam kasus-kasus tertentu, konsepsi yang diajukan sarjana Barat terlihat lebih ekstensif dan tidak jarang berbau apologetif. Pada abad pertengahan di Barat, Muhammad digagaskan sebagai penipu, tukang sihir, serta ajaran Alquran yang didakwahkannya itu tak lain dari satu bentuk kristen yang sesat dan penuh bid&#8217;ah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Gagasan Barat abad pertengahan di atas, yang lebih merupakan mitos dan fiksi imajinatif, memiliki pengaruh kuat di kalangan sarjana Barat pada masa-masa selanjutnya, dan terlihat sulit dienyahkan dari benak masyarakat Barat hingga dewasa ini. Tetapi konsepsi abad pertengahan itu secara sederhana bisa diabaikan karena tidak ditopang dan dilandasi oleh penelitian ilmiah yang serius. Kepentingan utama di balik penggagasannya lebih bersifat apologetik, karena difokuskan pada<span> </span>pembelaan keyakinan kristiani serta penyemaian rasa percaya diri di kalangan umat Kristen. Gagasan ini secara reflektif mengungkapkan bahwa walaupun umat Islam-musuh bebuyutan Kristen dalam serangkaian perang salib ketika itu- secara politik lebih superior dibanding umat kristen, secara religius kaum anti-kristus itu- salah satu istilah yang dilabelkan kepada umat Islam-memeluk agama yang lebih inferior dari agama kristen.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Jika kembali menengok latar kesejarahan Alquran dan dengan menghubungkan arab baik sebagai bangsa maupun sebagai budaya, maka tak dapat dipungkiri banyak fenomenal arab antara lain, budaya yang diungkap oleh Alquran dan kemudian seakan-akan menjadi ajaran- walaupun memang ia sebagai ajaran dan harus diakui sebagai ajaran-karena itulah aspek normatif yang harus diikuti sebagai indikasi kemusliman kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Khalil Abdul Karim, seorang sastrawan dan penemu ilmu Arudh<a name="_ftnref10" href="#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> secara tegas menjelaskan dengan tanda tanya besar <strong><em>adakah Islam otentik jika kenyataannya ia berasal dari tradisi lokal arab pra Islam.?<a name="_ftnref11" href="#_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[11]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></a></em></strong> Kandungan Alquran yang memuat kisah-kisah para tokoh-tokoh terdahulu, ajaran ritual, janji dan ancaman dan lain-lain sebenarnya hanyalah adopsi dari ajaran sebelumnya, Yahudi dan Nasrani dan budaya arab klasik. Oleh karena itu, ayat terakhir turun<em> &#8220;al-yauma akmaltu lakum diinakum watmamtu alaikum ni&#8217;matiy waradhiu lakum al-islam diinaa.&#8221;</em> Sebagai penegasan Islam memiliki ketersambungan ajaran-ajaran yang ada sebelumnya termasuk budaya arab lokal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Kalau hendak mengatakan bahwa hampir keseluruhan tradisi arab pra Islam menjadi ajaran Islam kini. Sekedar menyebut aspek-aspek yang tergolong arab pra Islam adalah 1.<span> </span>ritus-ritus peribadatan warisan suku arab yang meliputi; pengagungan baitul haram (Ka&#8217;bah dan tanah suci), haji dan umrah, sakralisasi bulan ramadhan, mengagungkan bulan-bulan haram, pertemuan umum pada hari jumat. 2. Ritus-ritus peribadatan warisan penganut tradisi hanifiyyah, pengharaman riba, pengharaman zina, pemotongan tangan pelaku pencurian, pengharaman memakan bangkai, darah, dan daging babi, larangan mengubur hidup-hidup anak perempuan dan pemikulan beban-beban pendidikan bagi mereka.3. poligami. Ada yang menarik bahwa ternayata budaya kawin lebih dari satu tidak saja melanda para lelaki tetapi juga dipraktekkan oleh kaum perempuan (monogami). Di antara para sahabat, dikenal Abubakar dengan 4 istri, Umar bin Khattab dengan 9 istri dan sahabat-sahabat nabi yang lain. Dari kaum perempuan ada Aisyah binti Thalhah bin Ubaidillah yang monogami dengan tiga suami dan lain-lain. 5. perbudakan, 6. kehormatan nasab, 7. seperlima bagian rampasan perang, 8. khilafah, 9. syuraa, dan masih banyak lagi.<a name="_ftnref12" href="#_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span> </span>Lalu, kini dan mungkin yang akan datang, umat Islam pasti tetap akan memperjuangkan syariat Islam. Bercermin dari fenomena arab di atas maka sebenarnya perjuangan sampai kepada syariat Islam-aspek khilafah, potong tangan, poligami, dan lain-lain- tidak lebih pada hegemoni arab ke umat yang non arab. Artinya bahwa tidak mesti yang arab harus diikuti atau sebaliknya tidak mesti yang tidak arab<span> </span>adalah jelek dan buruk. Adapun kalau ajaran-ajaran-yang tadinya budaya arab-lalu menjadi bagian Islam tidak menajdi persoalan. Kita akan tetap menjalankan ajaran Islam tetapi tidak membuat umat Islam melupakan aspek universalitas Islam. Maka ada aspek dalam Alquran yang harus diikuti titik dan komanya-mungkin ibadah-ibadah<em> mahdhah</em> yang <em>qat&#8217;iyy</em>, namun aspek lain perlu pemikiran dan kreatifitas manusia. Alquran juga menyuruh manusia menggunakan aqliyahnya. Dengan demikian Islam tak akan pernah lepas dari ajarannya yang<em> Shalihuh likulli zaman wamakan</em>.-kesesuaian dinamika dan gerak perubahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span> </span>Selanjutnya, klaim-klaim bid&#8217;ah, benar-dan salah oleh sebagian kecil umat Islam, dan kemudian atas dasar hadits-hadits Rasulullah saw, lantas kemudian muncul anggapan atau tuduhan sesat, selamat dan tidak selamat, kafir dan tidak kafir dan atau neraka dan surga, sebenarnya sebuah kekeliruan yang tak pantas untuk diucapkan. Menurut penulis tidak boleh<span> </span>semudah mengucapkan seperti itu. Kalau persoalan khilafiyah masih terpelihara terus, maka kapan moment penting untuk berpikir yang lebih besar untuk kemaslahatan yang lebih banyak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span> </span>Perbedaan pendapat seperti adagium <em>ikhtilafu ala ummati rahmat</em>, bukan sembarang kalimat, tetapi nilai positif dan dinamika yang muncul pasca perbedaan akan lebih banyak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span> </span>Alquran sebagai teks menurut Nasr Hamid Abu Zaid tidak lebih sebagai produk budaya <em>(muntaj tsiqafi)</em> yang dihasilkan oleh realitas manusia yang menyejarah. Mengkaji tradisi harus dimulai dari dasar, yaitu teks Alquran sebagai sumber kebudayaan Islam. <a name="_ftnref13" href="#_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>Beliau lebih lanjut mengkaji Alquran dengan, pertama, tercermin dalam usahanya untuk kembali melihat kembali konsep wahyu, dengan menelaah syarat-syarat kemungkinannya yakni menelaah syarat-syarat historitas dan pengetahuan yang menjadikan fenomena wahyu sebagai sesuatu yang mungkin dan masuk akal. Misalnya apa yang dimaksud oleh wahyu dengan kemungkinan komunikasi-informatif antara manusia dengan dunia lain. Kedua, dalam menganalisis tingkatan-tingkatan teks dari segi caranya dalam memproduksi makna. Dan dalam menyingkap mekanisme-mekanisme keterbentukan dan peneguhannya, khususnya mekanisme perbedaannya dengan teks yang serupa dengannya, seperti syair, dan perdukunan. Ketiga, menganalisis tipe-tipe penggunaan (pengfungsian) Alquran, dan bagaimana perubanhannya dari sebuah alat bagi proyek kebudayaan yang tujuannya adalah mengubah realitas menjadi sekedar mushaf atau alat hiasan, yakni sesuatu yang menjadi sakral dalam dirinya sendiri, dan oleh sebab itu, terjadi choosifikasi (pemburukan, <em>tasyyi)</em> dengan memisahkan teks dari realitas yang telah memproduksinya dan dari kebudayaan yang dengannya teks itu terbentuk dan berinteraksi, dan partisipasinya dalam merekonstruksi dan membentuknya kembali.<a name="_ftnref14" href="#_ftn14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Pandangan Nasr Hamid sebenarnya menurut penulis, tidak lebih pada paham bahwa Alquran, mengapa tak diutak atik untuk memperoleh hikmah yang lebih banyak darinya. Alquran bukanlah barang yang bisu yang memungkinkan siapa saja dapat berkomunikasi dengannya. Oleh karena itu, penafsiran Alquran berbeda-beda, karena tinjauan pandangan yang juga berbeda-beda. Dan inilah yang menjadi kemukjizatan Alquran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Prof. Dr. Quraish Shihab mengatakan bahwa salah satu kemukjizatan Alquran karena setiap kali membaca pasti menemukan makna dan maksud yang berbeda <a name="_ftnref15" href="#_ftn15"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[15]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Tafsir Alquran tidak mengenal kebenaran absolut, tunggal, dan satu. Tetapi Alquran dapat saja ditafsirkan oleh setiap orang pada setiap masa dan ruang yang hasilnya akan berbeda. Oleh karena itu, Ulil Abshar Abdallah,<a name="_ftnref16" href="#_ftn16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[16]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> menyebutkan bahwa Islam-Alquran sebagai ajaran-sebagai sebuah pasar besar dengan ratusan, bahkan ribuan toko dan kios di dalamnya. Di sana kita temukan toko di mana Islam ala GusDur diajajakan,. Di sebuah kios yang lain, kita temukan Islam sebagaimana ditafsirkan oleh Cak Nur. Ada sebuah kios yang ramai dikunjungi orang, termasuk anak-anak muda; di sana kita lihat Islam sebagaimana ditafsirkan oleh ustadz Abu Bakar Baasyir digelar. Sejumlah kios mengajarkan Islam ala Hassan Hanafie, Mohammad Arkoun,, Abid Al-Jabiri, Nasr Hamid Abu Zaid, Abdullah Ahmad naiem, Sayyid Qutb, Yusuf Qardhawi, Ali Syariati dan kemasan-kemasan imporan yang lain, juga tampak ramai dikerubuti oleh para mahasiswa.<a name="_ftnref17" href="#_ftn17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[17]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Beragam tafsiran Alquran seharusnya semakin mendewasakan umat untuk menerima perbedaan-perbedaan pendapat itu sebagai rahmat.<span> </span>Yakinlah bahwa tidak akan pernah muncul keseragaman dalam beragama (mungkin Islam) termasuk di dalam memahami Alquran. Implikasi pendapat ini, bahwa ada kesulitan menerapkan syariat Islam jika indikasinya pada persoalan jinayah siyasah, politik (khilafah-imamah), ekonomi-mungkin perbankan dan lain-lain. Syariat islam, sebaiknya dilihat sebagai sebuah nilai-nilai universal tanpa meremehkan kultural masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span>A.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Alquran dalam pandangan para teolog</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Tantangan teologis terbesar abad ini adalah bagaimana seorang beragama bisa mendefenisikan dirinya di tengah agama-agama lain. Dalam bahasa lain bisakah Alquran dipahami sebagai teks yang memberikan rahmat bagi semua orang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Penggalian terhadap makna teks yang hanya berhenti pada sisi teks tanpa mau melihat latar belakang dan setting histories yang ada dibalik teks pada akhirnya hanya akan membawa pemahaman yang parsial dan penafsiran yang tidak tepat sasaran, bahkan dapat menghasilkan sebentuk reduksi makna yang sebenarnya dari teks.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Teks keagamaan (Alquran) memang tak ada yang mengajarkan secara langsung radikalisme. Akan tetapi teks keagamaan itu dapat memberi inspirasi bagi munculnya tindakan radikal. Mengapa ? karena teks itu adalah &#8220;ambigu&#8221;. Satu sisi, teks mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan universal yang serba ideal dan humanistik, tapi saat yang sama juga menuturkan dan melegalkan tindakan-tindakan yang ekslusif-primordialistik demi mempertahankan apa yang disebut &#8220;keyakinan&#8221;.<a name="_ftnref18" href="#_ftn18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[18]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Dalam persoalan mengetahui yang baik dan buruk dan berlanjut pada urgensi dan eksistensi Alquran sebagai wahyu maka dalam teks-teks klasik tersedia dua jawaban. Ada golongan sunni yang dominan, dengan pandangan pokok bahwa kebaikan dan kejahatan itu ditentukan oleh agama. Manusia dapat tahu yang baik dan benar setelah ada informasi dari wahyu. Golongan kedua, muktazilah yang memandang manusia dengan akalnya sendiri dapat mengetahui batas-batas kebaikan dan keburukan, batas-batas kepantasan. Sudah tentu, jika dikatakan bahwa akal manusia dapat menentukan batas-batas tersebut, tidak berarti bahwa seluruh batas itu sudah diketahui oleh akal dari hari pertama. Akal manusia berkembang,<span> </span>mengalami evolusi, dan akan makin matang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Setiap wahyu membawa suatu wawasan tertentu mengenai yang baik dan yang jahat. Wahyu dapat mengangkat derajat akal manusia ke tingkat yang lebih tinggi dan bermutu untuk dapat lebih memahami batas-batas. Tetapi wahyu dapat memerosotkan akal manusia, manakala wahyu itu mengalami vulgarisasi, yaitu wahyu yang telah dibajak oleh kepentingan-kepentingan sesaat yang bersifat duniawi. Agar wahyu itu bisa pulih kembali dan memperoleh integritasnya lagi sebagai sumber moralitas, maka diperlukan akal yang bertanggung jawab dan penuh integritas. Kita semua tahu bahwa wahyu itu adalah laksana horizon atau cakrawala yang tak terbatas. Hampir mustahil bagi akal manusia yang terbatas untuk menjangkau seluruh horizon wahyu. Kenapa cakrawala wahyu yang terbentang luas itu, maka siapa pun dapat mengatakan sesuatu atas nama wahyu. Garansi bahwa wahyu dapat dipahami dengan tepat adalah integritas akal manusia itu sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Aqidah <em>ahlussunnah waljamaah</em> yang meliputi Asy,Ariyah dan maturidiyah memiliki pandangan yang berbeda tentang wahyu (Alquran). Asy&#8217;ariyah<span> </span>memandang bahwa wahyu<span> </span>dan akal sangat berbeda fungsi. Fungsi akal adalah untuk mengetahui hal-hal yang konkret. Ia tak berkuasa mengetahui hal-hal yang bersifat abstrak atau metafisika. Dalam hal ketuhanan, akal tak mampu mengetahui tugas-tugas dan kewajiban manusia terhadap Tuhannya. Ia tak mampu tahu hukum-hukum yang baik dan yang buruk. Juga tentang mana yang wajib dikerjakan dan mana yang mesti ditinggalkan. Fungsi wahyu sangatlah luas dan tidak terbatas. <a name="_ftnref19" href="#_ftn19"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[19]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>Ia pemberi informasi kepada manusia tentang hal-hal yang bersifat metafisik, menyingkap rahasia yang bersifat rahasia dan yang bersifat abstrak dan gaib bagi manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Sedangkan Maturidiyah memandang Alquran sebagai ajaran yang lengkap.di dalamnya terdapat ayat-ayat yang menghebohkan. Di dalam memahami Alquran perlu pencurahan kemampuan akal/rasio agar tidak memulnculkan kesalahpahaman. Maturidiyah agak tak sepakat dengan As&#8217;ariyah yang berpendapat bahwa beberapa ayat Alquran yang menyatakan bahwa Tuhan memiliki bentuk jasmaniyah dan ayat tersebut tak dapat ditakwilkan. Misalnya Tuhan bersemayam di atas singgasana (Thaha:65). Tangan Tuhan di atas tangan mereka (Al-Fath:10). Kata-kata tersebut menurut maturidi harus diberi kata kiasa.<a name="_ftnref20" href="#_ftn20"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[20]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Muktazilah berpandangan sama dengan konsep majazinya Asy&#8217;ariyah yang juga menyebutkan bahwa Alquran adalah makhluk. Jika ia makhluk maka ia akan lenyap seiring lenyapnya manusia. Oleh karena kemakhlukannya tentu Alquran punya segala kekurangan, dan sekaligus ia adalah produk budaya karena makhluk adalah berbudaya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Lebih lanjut muktazilah melihat Alquran sebagai perkataan yang terdiri dari huruf dan suara, artinya disamakan dengan perkataan yang biasa kita kenal. Perkataan menyatakan pikiran yang ada pada dirinya, supaya diketahui orang lain. Kalau Alquran terdiri dari kata-kata, sedang kata-kata itu baru, maka Alquran pun baru (hadits).selain itu, sifat qur&#8217;an bukanlah sifat zat, tetapi adalah salah satu sifat perbuatan. Karena itu Alquran adalah makhluk. Artinya Tuhan mengadakan perkataan kalam pada lauh mahfidzh, atau jibril atau utusanNya.<a name="_ftnref21" href="#_ftn21"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[21]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Adapun fungsi wahyu menurut muktazilah terdiri dari fungsi konfirmasi dan informasi, memperkuat apa-apa yang belum diketahui akal, dan dengan demikian menyempurnakan pengetahuan yang telah diperoleh akal.<a name="_ftnref22" href="#_ftn22"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[22]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Wahyu yang mempunyai fungsi konfirmasi bagi muktazilah dikandung dalam keterangan al-syahrastani&#8221; dan jika syariat membawa penjelasan tentang baik dan buruk, syariat memberi informasi dan tidak menentukan baik dan buruk <em>(kana mukhbiran &#8216;anha la musbitan laha).</em><a name="_ftnref23" href="#_ftn23"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[23]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Adapun landasan naqliyahnya dan akliyahnya muktazilah dapat dilihat pada QS. Zukhruf:3, Hud: 1, Yusuf:2, attaubah: 6,al-Baqarah: 30. sedangkan landasan pikirannya adalah pada isinya Alquran yang memuat cerita-ceritamasa lampau. Hal ini berarti baru. Selain itu, Alquran berisi perintah dan larangan, janji dan ancama. Kesemuanya itu adalah hal-hal yang berbeda-beda dan berlawanan tidak mungkin menjadi sifat zat dan idak mungkin qadim seperti za pula.<a name="_ftnref24" href="#_ftn24"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[24]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Ibn Rusyd dan ibn Hambal juga memiliki pendapat yang berbeda dengan ketiga aliran di atas. Ibn Rusyd membenarkan adanya sifat kalam pada Tuhan, sebagai kelanjutan dari sifat ilmu dan qodrat. Apa ang dimaksud berkata tidak lebih pada suatu pekerjaan, di mana orang lain dapat mengerti dan mengetahui isi hatinya.jadi termasuk salah satu pekerjaan orang itu sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Kalau pada manusia perbuatan itu harus ada syarat-syarat, misalnya cara, maka perkataan Tuhan juga untuk orang-orang pilihannya, juga dengan perantara yang diadakan, tetapi ak harus sama. Cara tersebu ada tiga: berupa malaikat, berupa wahyu, tidak berupa kata-kata, tetapi sipendengar dapat langsung mengerti apa yang dimaksud, dan berupa kata-kata yang diadakan Tuhan pada pendengaran orang yang dituju perkataanNya.<a name="_ftnref25" href="#_ftn25"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[25]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Dengan demikian jelaslah bahwa Al-Quran adalah qadim. Akan tetapi perkataan yang menyalinnya (menunjukkanya) adalah baru yang diadakan oleh Tuhan sendiri bukan manusia.lain halnya dengan perkataan kita yang biasa etapi izin dari Tuhan. Tulisan yang ada dalam mushaf juga perbuatan kita, atas izinNya. Dengan demikian harus dihormati, karena tulisan-tulisan iu menjadi tanda perkataan yang diadakan Tuhan dan makna yang ada pada zatNya bukan makhluk.<a name="_ftnref26" href="#_ftn26"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[26]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> </span>Ibn Hanbal juga mengakui kekadiman Alquran yang berupa kata dan huruf yang dapat dibaca dan ditulis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Nasr Hamid abu Zaid</span><a name="_ftnref27" href="#_ftn27"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[27]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> menformat pemahaman bahwa keberadaan Alquran yang tertulis secara azali itu adalah teks yang dikodifikasi dalam lauh mahfudzh dengan huruf-huruf yang dipastikan arab. Masing-masing huruf sebesar gunung Qaf, mitos tentang gunung yang menyelimuti bumi dari segala penjurunya dalam konsep kuno, syiah dan penganut tasawwuf khususnya. Konsep mengenai eksistensi teks yang azali memunculkan dua kesimpulan penting: pertama berlebih-lebihan dalam mengultuskan teks dan di dalam menggesernya dari sebuah fakta teks bahasa yang penuh makna dan dapat dipahami, menjadi teks ilusratif. Seiring dengan perkembangan seni-khususnya kaligrafi dan dekorasi- Alquran dari segi eksistensi tulisannya, menjadi sumber kreatifitas seniman arab. Dari sudut pandang konsep mimetic arab, dapat dikatakan bahwa seniman arab berusaha meniru tulisan teks kuno yang azali yang ada dalam lauh mahfudzh. Asumsi ini didukung oleh adanya pemisahan, yang dilakukan kalngan Asy&#8217;ariy, antara kalam spiritual yang azali dari Alquran dengan tiruan vokalnya dalam bacaan; kalam spiritual yang qadim merupakan sifat yang menempel pada zat ilahiyah, dan tidak lepas darinya, sementara bacaan pembaca merupakan imitasi dalam waktu terhadap sifat azali tersebut. Ini pada tataran vocal. Atas dasar konsep ini, mengapa kaligrafer arab tidak meniru tulisan teks yang azali yang terdapat dalam lauh mahfudzh?. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Konsekuensi yang kedua yang ditimbulkan oleh konsep tentang eksisensi azali teks tertulis, yang setiap hurufnya sebesar gunung Qaf, adalah adanya keyakinan terhadap kedalaman makna teks dan kemajemukan taraf-taraf makna teks, sebab makna dan signifikansinya, pada satu sisi harus sesuai dengan kalam spiritual yang qadim-yang menyatu dengan ilmu Tuhan-dan pada sisi lain harus sesuai dengan ukuran huruf Alquran yang luar biasa besarnya itu. Mengaitkan kemajemukan araf-taraf makna teks dengan asal usul ilahiahnya dan eksistensi azaliah teks, menyebabkan makna teks tertutup sebab pada akhirnya, menembus taraf-taraf maknanya menjadi tidak mungkin. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila konsep teks yang menyatukan makna<span> </span>bahasanya dengan Pembicaranya (Allah), menjadi dominan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span>B.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Alquran, Tafsir Konteks dan kekinian.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Upaya untuk memahami Alquran, dalam kenyataannya dilakukan kaum muslimin melalui penafsiran. Tafsir berasal dari kata <em>fassara, yufassiru, tafsiiran-</em>menjelaskan, menerangkan, menyingkap, dan atau menampakkan. Secara singkat tafsir adalah penjelasan atas Alquran.<a name="_ftnref28" href="#_ftn28"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[28]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Sebagai upaya untuk memahami dan menjelaskan kandungan pesan Alquran, tafsir dapat disebutkan telah eksis pada awal islam dan dimotori oleh Nabi Muhammad sendiri. Salah satu<span> </span>bagian Alquran yang mengungkap peran Muhammad sebagai penjelas wahu adalah QS (16):44. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Penafsiran Alquran yang dilakukan rasulullah saw terekam dalam kumpulan hadits, biasanya dengan judul kitab tafsir, yang disusun mengikuti frekuensi surah dalam mushaf utsmani.<a name="_ftnref29" href="#_ftn29"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[29]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Jumlah riwayat tafsir ini relatif sedikit dan tidak mencakup keseluruhan Alquran. Sejumlah sarjana Muslim lebih jauh menekankan bahwa penjelasan Nabi terhadap Alquran tidak hanya bersifat verbal, etapi juga bersifat praktis. Prilaku actual nabi, dengan demikian, dipandang sebagai penjelasan <em>par excellence </em>atas Alquran. Imam Ahmad Bin hanbal, misalnya menegaskan bahwa sunnah menerangkan Alquran dan menjelaskannya. Gagasan semacam inilah yang kemudian menjadi basis eksploitasi hadis-hadis nabi dalam penafsiran Alquran.<a name="_ftnref30" href="#_ftn30"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[30]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Sejarah penafsiran Alquran, dengan memanfaatkan tipologi Ignaz Goldziher, bisa dengan melalui pendekatan yang menyeleksi purposif mufassir-mufassir dari berbagai aliran yang ada untuk dikaji secara ringkas. Ia mengasumsikan eksistensi lima aliran tafsir di dalam Islam, yaitu, tradisional, dogmatis, mistik, sectarian, dan modernis. <a name="_ftnref31" href="#_ftn31"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[31]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Urgensi erhadap konteks kesejarahan alquran terletak pada realitasnya bahwa sebagian besar muatan Alquran itu berkaitan dengan suasana keagamaan, keyakinan, pandangan dunia dan ada istiadat masyarakat tempat ia turun, masyarakat Arab. Indikator yang amat jelas adalah diturunkannya Alquran secara tadarruj selama 23 tahun masa kenabian dan fenomena <em>nasikh </em>dan <em>mansukh, makkiyah dan madaniya </em>dalam ayat-ayat Alquran.<a name="_ftnref32" href="#_ftn32"><span class="MsoFootnoteReference"><em><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[32]</span></strong></span><!--[endif]--></span></em></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Perhatian terhadap pentingnya konteks dalam menterjemahkan Alquran, pemikir Fazlurrahman menetukan 3 kategori awal penafsiran Alquran yang tampak amat concern terhadap konteks histories ayat-ayat Alquran. Ketiga rumusan itu adalah :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">untuk menentukan makna teks Alquran, suatu pendekatan histories harus digunakan, erutama terhadap ajaran-ajaran sosiologisnya. Alquran perlu dipelajari dalam tatanan kronologisnya agar diketahui perkembangan gagasan-gagasannya dan makna keseluruhan dari pesan Alquran yang sistimatis dan koheren dapat diketahui.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">membedakan antara ketetapan-ketetapan legal dan tujuan yang menajdi maksud ketetapan l;egal tersebut.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0;text-align:justify;text-indent:0;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">sasaran-sasaran Alquran harus dipahami dengan tetap memberi perhatian terhadap latar belakang sosiologisnya, yakni lingkungan di mana nabi bergerak dan bekerja.<a name="_ftnref33" href="#_ftn33"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[33]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Ketika terjadi dialog dengan teman-teman HTI (Hizbutahrir) misalnya yang tak sepakat adanya aspek social dan budaya dalam mengkaji Alquran, maka sebuah pengingkaran pada tidak adanya hubungan Alquran dengan social arab, padahal hal seperti ini tak mungkin dipungkiri. Turunyya Alquran yang dengan sebab-seba (Sab nuzul) sebuah indikasi bahwa Alquran tak pernah lepas dari sisi social kemasyarakatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Beragam tafsir karya masa lalu yang ada dihadapan kita saat ini dengan pasti menjadi kekayaan intelektual muslim sampai hari ini, tetapi bukan sesuatu yang baku dan tunggal. Ia adalah produk pemikiran pada masanya yang dapat saja bertentangan dengan perkembangan kini. Kalaupun terpaksa ada yang <em>mansukh</em> karena perkembangan, maka karya itu tetap menjadi referensi untuk dijadikan perbandingan keilmuan dalam tradisi ilmiah. Adagium usul <em>Almuhafadzatu al alqadimishshalih wa al-alkhsu bi aljadidi al-asla </em>tetap perlu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span>III.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Kesimpulan</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Berdasarkan pokok-pokok pikiran di atas, maka penulis menarik beberapa poin penting dalam makalah ini, sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Alquran sesungguhnya adalah undang-undang kehidupan yang tak mungkin bertentangan dengan aspek kemanusiaan. Alquran tak akan termakan oleh ruang dan waktu. Ia tetap awet sepanjang masa. Dengan demikian tafsirannya tak boleh kaku dan tidak baku karena ia adalah hasil bacaan orang yang hidup disuatu zaman yang akan berbeda bacaannya pada orang yang hidup di zaman lain. Oleh karena itu, Alquran pasti terkandung makna yang berbeda-beda tergantung pihak yang membacanya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">antara teks dan konteks bukan ukuran antara langit dan bumi. Teks Alquran yang dari Tuhan mungkin mélangit-langit tetapi ia tak akan pernah jauh dari manusia yang membumi. Realitas manusialah Alquran diturunkan. Ia harus menjadi aturan yang penuh rahmat sehingga tak satupun manusia dirugikan atas tafsirannya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Alquran adalah fenomena arab tetapi ia memiliki kandungan yang universal sehingga tetap relative yang non arab. Ke-arab-an Alquran adalah sebuah kebetulan tetapi tak membuat kita harus merubah teks arabnya, biarlah ia tetap dengan bahasa aslinya namun konteksnya tak mutlak arab. Ia adalah pedoman untuk seluruh manusia yang tak pandang batas.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Makalah ini jauh masih sederhana, saran Bapak dosen/pemandu dan para peserta seminar akan memberikan kesempurnaan tulisan ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Wallahu a,lam bishshawab.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><br /> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr" align="center"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">KEPUSTAKAAN</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:-42pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:6pt 0 0.0001pt 42pt;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;">Harb, Ali,<em> Naqd an-nash</em>, diterjemahkan oleh M. Faisol Fatawi dengan judul<em> Kritik nalar Alquran</em> (Cet. II, Yogyakarat; LKiS, 2003)</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:-42pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:6pt 0 0.0001pt 42pt;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;">Assyaukani, Luthfi<em> Upaya Merumuskan Keberagamaan yang Dinamis</em>,( Cet.<span> </span>I, Jakarta; 2005), h. 1</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:-42pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:6pt 0 0.0001pt 42pt;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;">Wahid, Abdurrahman, Tuhan Tak Perlu dibela…………….) </span><span style="font-size:14pt;" dir="rtl"><span> </span></span><span style="font-size:14pt;"></span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:-42pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:6pt 0 0.0001pt 42pt;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;"><span> </span>Adnan Amal, Taufik, <span> </span><em>Rekonstruksi sejarah Alquran</em> ( Cet. I, FKBA, Yogyakarta, 2001), h. 45.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:-42pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:6pt 0 0.0001pt 42pt;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;">Zarkazy, Muhammad Badr al-Din, <em>al-Burhan fi ulum Alquran</em>, (Mesir : Isa al-Babi al-Hal;abi, tt</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:-42pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:6pt 0 0.0001pt 42pt;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;">Suyuthi, Jalauddin , <em>Al-Itqan fi Ulum Alquran, </em>(dar al-Fikr, tt) </span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:-42pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:6pt 0 0.0001pt 42pt;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;">Abu Zaid, Nasr Hamid, <em>Mafhun an-nash dirasah fi &#8216;ulum Alquran,</em> diterjemahkan oleh oleh LKiS &#8220;<em>Tekstualitas Alquran,</em> (Cet. IV, LKiS; Yogyakarta; 2005)</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:-42pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:6pt 0 0.0001pt 42pt;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;">Shihab, M.Quraish, Mukjizat Alquran ditinjau daria spek kebahasaan, isyarat ilmiah, dan pemberitaan gaib, (cet. Ke 15, Bandung: Mizan, 2006)</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:-42pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:6pt 0 0.0001pt 42pt;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;">Karim, <span> </span>Khalil Abdul, <em>Al-Juzuru at-arikhiah liasysyari&#8217;ah al-islamiyah</em>, edisi Indoensia diterjemahkan oleah Kamran As&#8217;ad,( Cet. 1, Yogakara: LKiS, 2003</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:-42pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:6pt 0 0.0001pt 42pt;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;"><span> </span>Asmawi, Muhammad Said, <em>AgainstIslamic Extrmism</em> (Carolyin Fluehr-Lobban, The Board of Regents ofd the state of Florida, 1998.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:-42pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:6pt 0 0.0001pt 42pt;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;">Abu Zaid, Nasr hamid, <span> </span>Wacana yang melawan fundamenalisme namun masih berpijak pada buminya, dalam Ali Harb,kRiik nalar Alquran, (Cet Kedua: Yogyakarta; LKiS, 2003</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:-42pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:6pt 0 0.0001pt 42pt;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;">Abdallah, Ulul Abshar, <em>&#8220;Menyegarkan kembali pemahaman tentang Islam</em>, yang dimuat oleh Harian Kompas sekitar 2001.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:-42pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:6pt 0 0.0001pt 42pt;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;">Abdallah, Ulil Abshar, <em>Pasar Raya Tafsir dan Perahu Nuh</em>, dalam Abdul Moqsit Gazali,<span> </span><em>Upaya merumuskan kebergamaan yang Dinamis</em>, ( Cet. Pertama: Jakarata:Jaringan Islam Liberal, 2005), h. 7. </span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:-42pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:6pt 0 0.0001pt 42pt;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;">Qurtubiy, Sumanto, membongkar teks ambigu dalam Abdul Moqsit gazali,<span> </span>Upaya merumuskan kebergamaan yang Dinamis, ( Cet. Pertama: Jakarata:Jaringan Islam Liberal, 2005), h. 16.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:-42pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:6pt 0 0.0001pt 42pt;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;">Fakhruddin, Fuad Muh, <em>Sejarah Perkembangan Pemikiran Islam,</em> (Cet. Kedua, Bandung: Mizan, 2000.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:-42pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:6pt 0 0.0001pt 42pt;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;">Hanafi, Ahmad,<em> Theology Islam (Ilmu kalam),</em> (Cet kesebelas, Jakarta; Bulan Binang, 1996), h. 113.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:-42pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:6pt 0 0.0001pt 42pt;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;">Nasution,Harun <em>Teologi Islam, aliran-aliran sejarah analisa perbandingan, </em>(Cetke 5, Jakarta: UI Press, 1986), h. 99.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:-42pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:6pt 0 0.0001pt 42pt;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;">Al-Syahrastani, <em>Kitab Nihaya al-Iqdam fi, ilm al-kalam,</em> Ed(Alfred Guillaume, London: Oxford University Press, 1934), h. 371.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:-42pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:6pt 0 0.0001pt 42pt;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;">Abu Zaid, Nasr Hamid, <em>Tekstualitas Alquran, Kritik Terhadap Ulumul Qur&#8217;an.</em> (Cet. IV, Yogyakara; LKiS, 2005), h. 45.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:-42pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:6pt 0 0.0001pt 42pt;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;">Yunus, Mahmud</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:-42pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:6pt 0 0.0001pt 42pt;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;">Shihab, Qurais, <em>Membumikan Alquran, </em>(Cet. Ke 14, Bandung: Mizan, 1996</span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>Ali Harb,<em> Naqd an-nash</em>, diterjemahkan oleh M. Faisol Fatawi dengan judul<em> Kritik nalar Alquran</em> (Cet. II, Yogyakarat; LKiS, 2003), h. sampul. Ali Harb adalah kritikus ilmuwan asal Lebanon kelahiran 1941. Buku ini kritikannya terhadap pemikir-pemikir kontemporer Mesir, Sudan, al-Jazair<span> </span>terkait pandangan-pandangan mereka tentang Alquran sebagai teks.</p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span dir="rtl"> </span>Luthfi Asysyaukani,<em> Upaya Merumuskan Keberagamaan yang Dinamis</em>,( Cet.<span> </span>I, Jakarta; 2005), h. 1</p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>Ketika umat islam memprotes munculnya ayat-ayat setan, serentak umat Islam dunia memprotes termasuk umat islam. Tetapi jusru mengherankan tokoh muslim sekaliber Gus Dur malah membela salman Rusdy. Dari peristiwa ini muncul tulisan Abdurrahman Wahid di Kompas dengan judul Tuhan Tak perlu dibela. Baca Abdurrahman Wahid, Tuhan Tak Perlu dibela…………….) <span dir="rtl"><span> </span></span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Lihat QS.Ar-ra&#8217;du (13): 37,26, as-syura (26): 195, Yusuf (12):2, annahl (16):103, 139; azzumar (39) :38, as-sajadah (41):3, Assyura (42):7, Az-Zukhruf (43):3, Al-Ahkaf (46):12.<span dir="rtl"> </span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"></a><span> </span>3. Taufik Adna Amal, <em>Rekonstruksi sejarah Alquran</em> ( Cet. I, FKBA, Yogyakarta, 2001), h. 45.</p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"></a>Terkait dengan asal-usul dan akar kata Alquran, pembaca dapat membuka literature-literatur maddah bahasa Arab. Atau baca juga Muhammad Badr al-Din al-Zarkadziy, <em>al-Burhan fi ulum Alquran</em>, (Mesir : Isa al-Babi al-Hal;abi, tt), h. 278. atau Jalauddin al-Suyuthy, <em>Al-Itqan fi Ulum Alquran, </em>(Dar al-Fikr, tt), h. 87 <span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span><span dir="rtl"> </span></p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>Lihat as-Suyuthi, <em>Al-Itqan fi Ulum Alquran,</em> Juz I, T.t, h. 50 dan az-Zarkazy,<em> Al-Burhan fi Ulum Alquran, </em>Juz I, h. 273-276. Untuk menuntaskan bacaan tentang wahyu, baca Nasr Hamid Abu Zaid, <em>Mafhun an-nash dirasah fi &#8216;ulum Alquran,</em> diterjemahkan oleh oleh LKiS &#8220;<em>Tekstualitas Alquran,</em> (Cet. IV, LKiS; Yogyakarta; 2005)</p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn8" href="#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><em>Op.Cit</em>, h. 51 dalil –dalil tentang penentangan di atas dapat dilihat pada Alquran (52:29 dan 69:42 nabi sebagai tukang tenung dan wahyu-wahyu yang disampaikan sebagai perkataan tukang tenung. Dibagian lain nabi sebagai penyair, 21:5, 37:36, 52:30 atau nabi kerasukan jin atau berada di bawah pengaruhnya, 15:6, 68:51, 7:184, 37:36, 44:14, 23:70, 34:8, 51:52..</p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn9" href="#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>Menarik buku M.Quraish Shihab, <em>Mukjizat Alquran Di tinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah, dan Pemberitaan Gaib,</em> (cet. Ke 15, Bandung: Mizan , 2006). Di dalamnya dapat ditemukan mukjizat menurut agama Islam, makna mu,jizat Alquran, dan yang paling menarik adalah aspek kebahasaan, yang walaupun orang arab dikenal sebagai penyair tetapi syair-syair buatannya yang mirip dengan Alquran tak mampu membohongi nabi bahkan setiap kebohongannya pasti terungkap dikemudian hari.</p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn10" href="#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>Ilmu arudh adalah salah satu cabang ilmu bahasa arab yang cukup menarik dipelajari. Di dalamnya berisi mazana-mzan atau timbangan-timbangan dengan rumusan yang ada untuk menimbang sair-syair arab dengan memakai rumus. Kalangan pesantren menjadikan pelajaran ini sebagai kekhasan pesantren yang tak semua lembaga pendidikan pesantren menguasai aau mengajarlannya. Penulis sejak diperkenalkan dan diajarkan pelajaranm ini oleh<em> anregurutta</em> dipesantren As&#8217;adiyah Sengkang, menjadikan sebagai pelajaran hobby tetapi sayang sudah banyak yang hilang dari faile-file penulis karena ketiadaan mengulanginya. Di UIN Alauddin hanya 1 atau 2 orang yang mampu dalam mata kuliah ini.</p>
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn11" href="#_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>Khalil Abdul Karim, <em>Al-Juzuru at-arikhiah liasysyari&#8217;ah al-islamiyah</em>, edisi Indoensia diterjemahkan oleah Kamran As&#8217;ad,( Cet. 1, Yogakara: LKiS, 2003), h.160. tentang aspek-aspek yang berkaitan langsung dengan pemaknaan seakan-akan ijtihad tertutup, pembaca dapat melihat Muhammad Said Al-Asmawiy, <em>AgainstIslamic Extrmism</em> (Carolyin Fluehr-Lobban, The Board of Regents ofd the state of Florida, 1998.</p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span> </span></p>
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn12" href="#_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>Lihat Ibid, h. 3- 159</p>
</div>
<div id="ftn13">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn13" href="#_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>Nasr hamid abu Zaid, Nasr Hamid Abu Zais: <em>Wacana yang melawan fundamenalisme namun masih berpijak pada buminya, </em>dalam Ali Harb,kRiik nalar Alquran, (Cet Kedua: Yogyakarta; LKiS, 2003), h. 308.</p>
</div>
<div id="ftn14">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn14" href="#_ftnref14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><em>Ibid,</em> h. 316-317.</p>
</div>
<div id="ftn15">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn15" href="#_ftnref15"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[15]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>Baca Qurais Shihab, <em>Membumikan Alquran, </em>(Cet. Ke 14, Bandung: Mizan, 1996), h..</p>
</div>
<div id="ftn16">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn16" href="#_ftnref16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[16]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Ulil Abshar Abdallah, Kordinator JIL adalah menantu budayawan NU/Mustasyar PB NU KH. Mustofa Bisri. Jebolan LIPIA Jakarta dan Pondok Pesantren Maslakul Huda Pati, Jawa Tengah asuhan Rais Am PB NU/Ketua Umum MUI Pusat, KH.AM.Sahal Mahfudz, pernah menggegerkan dunia pemikiran Islam di Indonesia ketiak sebauh tulisannya <em>&#8220;Menyegarkan kembali pemahaman tentang Islam</em>, yang dimuat oleh Harian Kompas sekitar 2001. Sontak Forum Umat Islam Bandung,KH. Atian menvonis Ulil dengan hukuman wajib bunuh atau darah Ulil halal.<span> </span>Peristiwa ini tak menyurutkan niat Ulil untuk tetap mengembangkan Islam yang toleran. Di Tubuh ulama NU, ketika berlangsung muktamar NU ke 31 di Asrama Haji Donohudan Jawa Tengah, Ulil mendapat kecaman dan tidak diperbolehkan pemikiran-pemikiran liberal Ulil diakomodir. Pemikiran-pemikiran &#8220;mungkin nakal&#8221; akhir-akhir ini memang banyak dimotori oleh kalangan muda NU, misalnya kelompok kajian Islam Progressif oleh Zuhairi Misrawi, LKiS yang domotori Jadul Maula dkk, The Wahid Institut, Yenny Wahid, Ahmad Suaedy dkk, Desantara, DR. Bisri Effendi,dari LIPI, P3M, DR. Masdar Farid Mas&#8217;udi, Puan Amal Hayati, dan lain-lain. Di kalangan anak muda Muhammadiyah muncul JIMM, dimotori antara lain Muslim A. Rahman , Sukidi dkk. Pemikiran jenaka dan sangat filosofis ini, sebenarnya kritik social bagi masyarakat Islam selama ini yang terkesan dualisme dalam pelaksanaan ajaran agama. Dogma ajaran di satu sisi tidak terintegrasi dalam aksi nyata umat Islam di sisi lainnya. Misalnya, hampir semua-semua Negara muslim terbesar tertinggal pada aspek pendidikan dan ekonomi, padahal betapa banyak ajaran normative yang menghendaki umat Islam memiliki etos kerja, berpengetahuan, berperadaban, dan lain-lain.<span> </span>Pemikiran ini mungkin di mata banyak orang &#8220;ada kesan menghina, angkuh, anak durhaka&#8217; tetapi niat yang suci mewarnai hati para pengusungnya.</p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr">Dalam sejarah, ditemukan jarangnya muncul kecocokan antara penganut Islam literal dan liberal. Ibn Rusyd juga mengalami demikian. Tetapi kritik tidak mesti dengan radikalisme dan kekerasan. Sebaiknya dengan cara-cara ilmiah, dengan perang menulis di media, misalnya.</p>
</div>
<div id="ftn17">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn17" href="#_ftnref17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[17]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Ulil Abshar Abdallah, <em>Pasar Raya Tafsir dan Perahu Nuh</em>, dalam Abdul Moqsit Gazali,<span> </span><em>Upaya merumuskan keberagamaan yang Dinamis</em>, (Cet. Pertama: Jakarta: Jaringan Islam Liberal, 2005), h. 7.</p>
</div>
<div id="ftn18">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn18" href="#_ftnref18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[18]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>Sumanto alQurtubiy, <em>Membongkar Teks Ambigu</em> dalam Abdul Moqsit Gazali, <em><span> </span>Upaya Merumuskan Keberagamaan yang Dinamis, </em>( Cet. Pertama: Jakarata:Jaringan Islam Liberal, 2005), h. 16.</p>
</div>
<div id="ftn19">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn19" href="#_ftnref19"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[19]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Lihat DR. Fuad Muh. Fakhruddin, <em>Sejarah Perkembangan Pemikiran Islam,</em> (Cet. Kedua, Bandung: Mizan, 2000), h. 11.</p>
</div>
<div id="ftn20">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn20" href="#_ftnref20"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[20]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> <em>Ibid, </em>h. 15.</p>
</div>
<div id="ftn21">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn21" href="#_ftnref21"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[21]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>Lihat Ahmad Hanafi MA,<em> Theology Islam (Ilmu kalam),</em> (Cet. kesebelas, Jakarta; Bulan Binang, 1996), h. 113.</p>
</div>
<div id="ftn22">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn22" href="#_ftnref22"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[22]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Harun Nasution, <em>Teologi Islam, aliran-aliran sejarah analisa perbandingan, </em>(Cetke 5, Jakarta: UI Press, 1986), h. 99.</p>
</div>
<div id="ftn23">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn23" href="#_ftnref23"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[23]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>Al-Syahrastani, <em>Kitab Nihaya al-Iqdam fi, ilm al-kalam,</em> (Alfred Guillaume, London: Oxford University Press, 1934), h. 371.</p>
</div>
<div id="ftn24">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn24" href="#_ftnref24"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[24]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> <em>Ibid,</em> h. 113-114.</p>
</div>
<div id="ftn25">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn25" href="#_ftnref25"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[25]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><em>Ibid, </em>h. 118.</p>
</div>
<div id="ftn26">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn26" href="#_ftnref26"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[26]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><em>Ibid, </em>h. 119.</p>
</div>
<div id="ftn27">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn27" href="#_ftnref27"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[27]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Baca Nasr Hamid Abu Zaid, <em>Tekstualitas Alquran, Kritik Terhadap Ulumul Qur&#8217;an.</em> (Cet. IV, Yogyakara; LKiS, 2005), h. 45.</p>
</div>
<div id="ftn28">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn28" href="#_ftnref28"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[28]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Mahmud Yunus,</p>
</div>
<div id="ftn29">
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn29" href="#_ftnref29"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">[29]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> Lihat misalnya Bukhari, Shahih, Muslim, Shahih dan kitab-kitab lainnya.</span></p>
</div>
<div id="ftn30">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn30" href="#_ftnref30"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[30]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Alquran h. 354.</p>
</div>
<div id="ftn31">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn31" href="#_ftnref31"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[31]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>Ibid, h. 355.</p>
</div>
<div id="ftn32">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn32" href="#_ftnref32"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[32]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>Disadur dari makalah M.Syukur Derry, Mahasiswa Program S3 tahun 2005, judul yang sama dengan penulis h. 8,<span> </span>yang mengutip <em>Manna Al-qatan mabahis fi Ulumi Al-Qur&#8217;an</em>, Beirut: muassasah Risalah, 1993, h. 21<span dir="rtl"> </span></p>
</div>
<div id="ftn33">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:left;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn33" href="#_ftnref33"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[33]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Fazlurrahman, <em>Cita-Cita Islam</em>, terjemahan Suyanto, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2000, h. 52-54.<span dir="rtl"> </span></p>
</div>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/basnangsaid.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/basnangsaid.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/basnangsaid.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/basnangsaid.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/basnangsaid.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/basnangsaid.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/basnangsaid.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/basnangsaid.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/basnangsaid.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/basnangsaid.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/basnangsaid.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/basnangsaid.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/basnangsaid.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/basnangsaid.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/basnangsaid.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/basnangsaid.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=basnangsaid.wordpress.com&amp;blog=3495063&amp;post=8&amp;subd=basnangsaid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://basnangsaid.wordpress.com/2008/04/23/al-quran-antara-teks-dan-konteks/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e5a0d2479f21121265affa959c83d9b8?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">basnang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP</title>
		<link>http://basnangsaid.wordpress.com/2008/04/16/pelestarian-lingkungan-hidup/</link>
		<comments>http://basnangsaid.wordpress.com/2008/04/16/pelestarian-lingkungan-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Apr 2008 04:15:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>basnang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://basnangsaid.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[I. PENDAHULUAN Bencana selalu menimbulkan kesedihan, penderitaan, dan kerugian. Semua orang pasti setuju dengan pendapat ini. Di Koran dan televisi di seantero dunia secara khusus Indonesia para korban murung dan putus asa. Aceh menangis dan Yogya pun berduka. Tambah pangandaran Jawa Barat. Semua penuh dengan luka dan derita. Ada yang mengatakan, ini sudah takdir Allah. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=basnangsaid.wordpress.com&amp;blog=3495063&amp;post=7&amp;subd=basnangsaid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 style="margin-left:0;text-indent:0;"><span style="font-size:12.5pt;letter-spacing:0.4pt;">I. </span><span style="letter-spacing:0.4pt;">PENDAHULUAN</span><span style="font-size:12.5pt;letter-spacing:0.4pt;"></span></h1>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Bencana selalu menimbulkan kesedihan, penderitaan, dan kerugian. Semua orang pasti setuju dengan pendapat ini. Di Koran dan televisi di seantero dunia secara khusus Indonesia para korban murung dan putus asa. Aceh menangis dan Yogya pun berduka. Tambah pangandaran Jawa Barat. Semua penuh dengan luka dan derita.</span><span id="more-7"></span><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9pt;text-indent:45pt;line-height:25pt;"><span>Ada yang mengatakan, ini sudah takdir Allah. Mungkin betul. Para ilmuwan pun mengamini karena letak geografis Indonesia memang rawan bencana. Apalagi bencana sudah dalam rencana Tuhan seperti Q.S (Al-hadid) : 22. Deskripsi ala Indonesia di atas sekedar untuk menghentakkan kita bahwa sudah sedemikian parahkah alam dan lingkungan ini sehingga tak sayang terhadap penghuninya ?.<span> </span>Mungkin Tuhan mulai bosan bersahabat dengan kita. Demikian syair lagu yang sering dilantunkan oleh kalangan arti. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9pt;text-indent:45pt;line-height:25pt;"><span>Lingkungan yang menjadi perbincangan dalam forum ini senada saja maknanya dengan alam. Alam secara jelas disebutkan dalam Al-Qur&#8217;an, tepatnya pada QS.(1): 1. Tetapi yang berbeda<span> </span>adalah peristilahan lingkungan hidup secara baku, baik dari aspek ajaran maupun tradisi keilmuan Islam, kedua-duanya tidak terdapat dalam konsep yang konkrit.</span><a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> </span><span>Namun isyaratnya jelas di dalam al-Qur’an.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Konseptualisasi lingkungan atau alam dalam Islam merupakan pemahaman rasional terhadap ayat-ayat <em>kauniyah</em> yang terbentang di hadapan manusia, di samping ayat-ayat <em>qauliyah</em> yang cenderung menjelaskan tentang alam dan seluruh isinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><!--[if gte vml 1]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span style="position:absolute;z-index:1;left:0;margin-left:249px;margin-top:442px;width:82px;height:40px;"></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="vertical-align:top;" width="82" height="40"><!--[endif]--><!--[if !mso]--><span style="position:absolute;left:0;z-index:1;"></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td><!--[endif]--></p>
<div class="shape" style="padding:3.6pt 7.2pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:11pt;">1</span></p>
</div>
<p><!--[if !mso]--></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p></span><!--[endif]--><!--[if !mso &amp; !vml]--> <!--[endif]--><!--[if !vml]--></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p></span><!--[endif]--><span>Keberadaan alam dan seluruh benda-benda yang terkandung di dalamnya merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan. Secara keseluruhan saling membutuhkan, dan saling melengkapi kekurangannya. Kelangsungan hidup dari setiap unsur kekuatan alam terkait dengan keberadaan hidup kekuatan lain. Kejadian alam dan apa yang di dalamnya saling mendukung sehingga ia disebut alam secara keseluruhan. Alam dan apa-apa yang ada di dalamnya seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang termasuk manusia dan benda mati yang ada di sekitarnya, serta kekuatan alam lainnya seperti angin, udara dan iklim hakekatnya adalah bagian dari keberadaan alam.</span><a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Masalah lingkungan dikenal dua kata kunci yang sangat erat hubungannya dengan keserasian lingkungan hidup, yaitu <em>ekologi</em> dan <em>ekosistem</em>. Ungkapan ekologi, <em>ecologi</em> berasal dari bahasa Yunani, <em>oikos</em> yang berarti rumah tangga dan kata <em>logos</em> yang berarti ilmu. Jadi ekologi dapat diartikan sebagai studi tentang rumah tangga makhluk hidup. Ilmu pengetahuan yang membicarakan tentang interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya, termasuk benda mati yang ada disekitarnya</span><a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span>. Sebab didalam ekologilah dibicarakan adanya struktur dan interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Keberadaan makhluk hidup tidak dapat dipisahkan dari makhluk hidup lainnya, interaksi dalam pengertian saling membutuhkan adalah dasar berkembangnya eksistensi makhluk hidup menjadi makhluk yang mempunyai makna dalam kehidupan.</span><a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Kehidupan yang mempunyai makna yang sebenarnya merupakan kehidupan yang memiliki nilai kemanfaatan dalam proses berlangsungnya hidup di alam jagad raya ini. Unsur yang terpenting dalam mewujudkan hidup yang bermakna terletak pada seluruh makhluk hidup yang memiliki fungsi kegunaan, baik atas dirinya maupun sesama makhluk hidup serta alam sekitarnya sebagai tempat makhluk hidup berada, karena pada setiap makhluk hidup ada kekuatan yang membangkitkan yang disebut energi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Keberadaan matahari sebagai sumber energi sangat dibutuhkan oleh semua makhluk. Tumbuh-tumbuhan membutuhkan sinar matahari sebagai upaya mematangkan makanan yang dibutuhkan dan batang pepohonan mampu mengatasi banjir yang akan membahayakan makhluk hidup yang lain; hewan, tumbuhan termasuk manusia. Pada pokoknya setiap energi yang ada pada semua makhluk hidup saling dibutuhkan oleh sesamanya makhluk hidup yang masing-masing tergantung<span> </span>kepada makhluk hidup yang lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Atas dasar keterkaitan makhluk yang satu dengan yang lain dalam satu sistem kehidupan ini terbentuk suatu sistem kehidupan yang disebut Ekosistem</span><a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span>. Ciri-ciri adanya ekosistem adalah berlangsungnya pertukaran dan transformasi energi yang sepenuhnya berlangsung di antara berbagai komponen dalam sistem itu sendiri atau dengan sistem lain di luarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Energi pada setiap makhluk hidup dibutuhkan oleh makhluk hidup yang lain yang menyebabkan terjadinya kelangsungan hidup. Dalam Islam saling keterkaitan ini merupakan salah satu tujuan penciptaan Allah swt, sebab Allah menciptakan sesuatu dengan<span> </span>tidak sia-sia (dengan suatu tujuan).</span><a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Adanya keterkaitan menyebabkan terjadinya dinamisasi yang lebih mantap, seimbang dan harmonis dalam kawasan lingkungan hidup. Kestabilan dan kedinamisasian dalam lingkungan terletak pada upaya mengelola dan melestarikan komponen lingkungan hidupnya. Kemudian melanjutkannya dengan melihat apa kaitan kemanfaatannya pada populasi lain, pengelolaan dan kelestarian lingkungan hidup erat hubungannya dengan mendudukkan keseluruhan komponen lingkungan hidup secara kodrati. Selain itu, dalam konteks kebangsaan, rentetan perisiwa dan bencana yang melanda negeri ini- sekedar untuk menyebut- tsunami di Aceh dan Nias Sumaera Utara, banjir banding di Sinjai Sulawesi selatan, dan atau tsunami lagi di Pangandaran jawa Barat, perlu muncul di alam kesadaran kita bahwa tidak mesti hanya melimpahkan kepada Tuhan akan penyebabnya. Tetapi perlu koreksi diri, apa yang salah dalam pengelolaan alam dan lingkungan selama ini.Malah yang terakhir, semburan Lumpur Lapindo Brantas di Sidoarjo Jawa Timur semakin menguatkan keyakinan kita bahwa benar firman Allah dalam QS. (30) Rum:41.<span> </span>Inilah per-masalahan yang akan dikaji pada penulisan makalah ini. Tidak saja pada normatifitas al-Qur&#8217;an dan hadits sebagai peringatan yang disampaikan sebelumnya tetapi juga pada bukti-bukti nyata bagaimana akibat kaum yang tak peduli akan ajaran al-Qur&#8217;an tentang pelestarian alam/lingkungan.</span></p>
<h1 style="text-indent:0;margin:6pt 0 0.0001pt -4.8pt;"><span style="letter-spacing:0.4pt;">II. PENGERTIAN PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Kata pelestarian berasal dari kata “lestari” yang berarti tetap seperti keadaan semula, tidak berubah, bertahan kekal.</span><a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> </span><span>Kemudian mendapat tambahan <em>pe</em> dan akhiran <em>an</em>, menjadi pelestarian yang berarti; (1) proses, cara, perbuatan melestarikan; (2) perlindungan dari kemusnahan dan kerusa-kan, pengawetan, konservasi; (3) pengelolaan sumber daya alam yang menjamin pemanfaatannya secara bijaksana dan manjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya.</span><a name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Sedangkan lingkungan hidup berarti; (1) kesatuan ruang dengan semua benda, daya keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya; (2) lingkungan di luar suatu organisme yang terdiri atas organisme hidup, seperti tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia.</span><a name="_ftnref9" href="#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Lingkungan hidup tidak saja bersifat fisik seperti tanah, udara, air, cuaca dan sebagainya, namun dapat juga berupa sebagai lingkungan kemis maupun lingkungan sosial.</span><a name="_ftnref10" href="#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> </span><span>Lingkungan sosial meliputi antara lain semua faktor atau kondisi di dalam masyarakat yang dapat menimbulkan pengaruh atau perubahan sosiologis, misalnya : ekonomi, politik dan sosial budaya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Lingkungan meliputi, yang dinamis (hidup) dan yang statis (mati). Lingkungan dinamis meliputi wilayah manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Lingkungan statis meliputi alam yang diciptakan Allah swt, dan industri yang diciptakan manusia. Alam yang diciptakan Allah, meliputi lingkungan bumi, luar angkasa dan langit, matahari, bulan dan tumbuh-tumbuhan. Industri ciptaan manusia, meliputi segala apa yang digali manusia dari sungai-sungai, pohon-pohon yang ditanam, rumah yang dibangun, peralatan yang dibuat, yang dapat menyusut atau membesar, untuk tujuan damai atau perang.</span><a name="_ftnref11" href="#_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span></span></p>
<h1 style="text-indent:0;margin:6pt 0 0.0001pt -9.05pt;"><span style="letter-spacing:0.4pt;">III. DESKRIPSI UMUM HADIS –HADIS TENTANG LINGKUNGAN HIDUP</span></h1>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Dalam mengkaji hadis-hadis yang secara khusus membicarakan tentang lingkungan, sebenarnya terdapat banyak kesulitan. Kesulitan pokok adalah tidak adanya term yang jelas tentang lingkungan, misalnya kata yang secara special tentang lingkungan. Beda dengan term lainnya misalnya ilmu, nikah, dan lain-lain yang dengan gampang diakses melalui CD hadis dengan metode takhrij huruf atau tema. Term lingkungan hanya dapat diperoleh dengan membaca keseluruhan matan hadis, menterjemahkan dan mengambil kesimpulan dan menetapkannya sebagai obyek pembahasan.</span><span> Kata<em> </em>zara&#8217;a: menanam misalnya, baru dapat ditetapkan setelah membaca keseluruhan matan hadisnya.</span><a name="_ftnref12" href="#_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span></span><span>Sebagai pelengkap penulis mencantumkan kata-kata yang terkait fauna, flora, udara, air dan tanah yang terambil dari Al-qur&#8217;an dan (mungkin) hadis. Kata- kata dalam hadis sangat susah menghitung jumlah kata yang diinginkan misalnya kata <em>dabbat</em>, karena ketiadaan kamus hadis sebagaimana yang dimiliki al-Qur&#8217;an misalnya <em>mu&#8217;jam li alfadzil Qur&#8217;an.</em></span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Term-term yang dapat menjadi dasar pencarian hadis yang berkaitan dengan lingkungan meliputi :</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>1.<span> </span>Fauna</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27.3pt;text-indent:30.8pt;line-height:24pt;"><span><span> </span>Fauna, dalam al-Qur’an ditemukan kata “</span><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;" dir="rtl">دابة</span><span>/</span><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;" dir="rtl">الدواب</span><span>” dan kata “</span><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;" dir="rtl">الأنعام</span><span>”. Yang pertama berulang sebanyak 18 kali,</span><a name="_ftnref13" href="#_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> sementara yang kedua berulang sebanyak 32 kali</span><a name="_ftnref14" href="#_ftn14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span>. <em>Dabbah</em> arti dasarnya adalah binatang yang merangkak. Juga diartikan hewan, binatang dan ternak.</span><a name="_ftnref15" href="#_ftn15"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[15]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> </span><span>Sedangkan <em>al-An’am</em>, arti dasarnya ternak. Ternak disini meliputi: unta, lembu, dan kambing. </span><span>Mahmud Yunus me-masukkan kerbau.<a name="_ftnref16" href="#_ftn16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[16]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27.3pt;text-indent:-15.4pt;line-height:24pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Flora</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27.3pt;text-indent:30.1pt;line-height:24pt;"><span>Kata flora dalam kamus bahasa Indonesia, diartikan dengan “segala tumbuh-tumbuhan yang terdapat dalam suatu daerah atau di suatu masa”.<a name="_ftnref17" href="#_ftn17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[17]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span><span>Istilah ini kemudian dipakai untuk seluruh jenis tumbuhan dan tanaman.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:28.05pt;text-indent:30.9pt;line-height:24pt;"><span style="font-size:12.5pt;letter-spacing:0.4pt;">Sebagai padanan dari kata flora, dalam al-Qur’an digunakan kata<span> </span>“</span><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">نبات</span><span style="font-size:12.5pt;letter-spacing:0.4pt;">” dan “</span><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">الحرث</span><span style="font-size:12.5pt;letter-spacing:0.4pt;">”. Yang pertama berulang sebanyak 9 kali,</span><a name="_ftnref18" href="#_ftn18"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[18]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:12.5pt;letter-spacing:0.4pt;"> sementara yang kedua berulang sebanyak 12 kali.</span><a name="_ftnref19" href="#_ftn19"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[19]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:12.5pt;letter-spacing:0.4pt;"> </span><em><span style="font-size:12.5pt;letter-spacing:0.4pt;">Nabat</span></em><span style="font-size:12.5pt;letter-spacing:0.4pt;"> berarti tumbuh-tumbuhan dan <em>al-harts </em>berarti tanaman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:20.3pt;text-indent:-13.3pt;line-height:25pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Tanah, Air dan Udara (Angin)</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2"><span>Setelah fauna dan flora, maka unsur lingkungan yang sangat vital dalam kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya ialah tanah, air dan udara (angin).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:33.6pt;text-indent:-14pt;line-height:25pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Tanah (bumi); dalam bahasa Arab tanah berarti “</span></span><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;" dir="rtl">الأرض</span><span>”. Kata “</span><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;" dir="rtl">الأرض</span><span>” berulang sebanyak 451 kali.<a name="_ftnref20" href="#_ftn20"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[20]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:33.6pt;text-indent:-14pt;line-height:25pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Air; kata “</span></span><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;" dir="rtl">ماء</span><span>” yang berarti air disebut sebanyak 59 kali dalam al-Qur’an. Selain itu ada 4 bentuk lain, masing-masing disebut satu kali, yaitu: </span><span><span> </span></span><span>“</span><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;" dir="rtl">ماءك، ماءها، ماءكم، ماؤها</span><span>” sehingga seluruhnya berjumlah 63 kali.<a name="_ftnref21" href="#_ftn21"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[21]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:33.6pt;text-indent:-14pt;line-height:25pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>c.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Udara; dalam <em>Kamus Umum Bahasa Indonesia,</em> angin antara lain berarti : (1) gerakan atau aliran udara; (2) hawa, udara.<a name="_ftnref22" href="#_ftn22"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[22]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Dalam al-Qur’an, udara atau angin “</span></span><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;" dir="rtl">الريح، الرياح</span><span>”, berulang sebanyak 28 kali.<a name="_ftnref23" href="#_ftn23"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[23]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<h1 style="text-indent:0;margin:12pt 0 0.0001pt -2.85pt;"><span style="letter-spacing:0.4pt;">IV. HADIS-HADIS<span> </span>TENTANG LINGKUNGAN HIDUP</span></h1>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Islam sebagaimana yang terkandung dalam dalil-dalil normatif seperti Al-qur&#8217;an, hadis, kaedah-kaedah fiqih<span> </span>memuat sejumlah aspek dan tujuan perbaikan lingkungan. </span><span>Aspek<span> </span>yang dimaksud tertera dalam kolom berikut ini :</span></p>
<table class="MsoTableGrid" style="border:medium none;border-collapse:collapse;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:89.95pt;padding:0 5.4pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><em><span>Tujuan</span></em></strong></p>
</td>
<td style="width:90pt;border:1pt 1pt 1pt medium solid solid solid none windowtext windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><em><span>Al-Qur&#8217;an</span></em></strong></p>
</td>
<td style="width:90pt;border:1pt 1pt 1pt medium solid solid solid none windowtext windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><em><span>Hadits</span></em></strong></p>
</td>
<td style="width:90pt;border:1pt 1pt 1pt medium solid solid solid none windowtext windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><em><span>Kaidah Fiqih</span></em></strong></p>
</td>
<td style="width:90pt;border:1pt 1pt 1pt medium solid solid solid none windowtext windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><em><span>Tasawwuf</span></em></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:89.95pt;border:medium 1pt 1pt none solid solid 0 windowtext windowtext;padding:0 5.4pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:normal;" align="center"><strong><span>Pemeliharaan Lingkungan</span></strong></p>
</td>
<td style="width:90pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span>Al-A&#8217;raf: 55, al-Baqarah: 205, ar Rum: 41, al-Qashash:77, Saba : 27-28</span></p>
</td>
<td style="width:90pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span>Shahih Muslim:2618, sunan at-turmudzi: 2799, Sunan Abu Daud: 25</span></p>
</td>
<td style="width:90pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
</td>
<td style="width:90pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:89.95pt;border:medium 1pt 1pt none solid solid 0 windowtext windowtext;padding:0 5.4pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:normal;" align="center"><strong><span>Pemanfaaan lingkungan</span></strong></p>
</td>
<td style="width:90pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span>Al-Baqarah:22, an-Nahl: 11, al-Anbiyaa:30, az-Zumar: 21, Qaf:7-11,   al-Hadid :4, Fathir:12, al-Zalzalah: 2</span></p>
</td>
<td style="width:90pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span>Musnad Ahmad:22422, shahih Bukhari:4207</span></p>
</td>
<td style="width:90pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><em><span>Dar&#8217;u al-mafasid muqaddamun ala jalbi al-mashalih </span></em><span>(Mencegah kerusakan itu harus lebih   didahulukan daripada menarik kemaslahatan)</span></p>
</td>
<td style="width:90pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span>Kisah Hayy Ibn Yaqdzan, Karya Ibn Tufail</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:89.95pt;border:medium 1pt 1pt none solid solid 0 windowtext windowtext;padding:0 5.4pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:normal;" align="center"><strong><span>Pencegahan bencana lingkungan</span></strong></p>
</td>
<td style="width:90pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span>Al-Baqarah:11-12, 195,ali imran:190-191</span></p>
</td>
<td style="width:90pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span>Sunan Ibn Majah :2340, Shahih Muslim:282</span></p>
</td>
<td style="width:90pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
</td>
<td style="width:90pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-72pt;line-height:normal;"><span>Keterangan : Doktrin yang tercantum di atas sekedar sampel, masih banyak dalil-<span> </span>dalil yang memerintahkan menjaga lingkungan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3"><span>Dapat dibayangkan bahwa ketika al-Qur’an diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw, 14 abad yang silam, Dia sudah berbicara tentang daur ulang lingkungan yang sehat lewat angin, gumpalan awan, air, hewan, tumbuh-tumbuhan, proses penyerbukan bunga, buah-buahan yang saling terkait dalam kesatuan ekosistem.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:10.5pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Mengingat banyaknya hadis yang berkaitan dengan lingkungan hidup, maka pembahasannya pada makalah ini akan dibatasi pada beberapa hadis saja sebagai sampel mengenai pelestarian lingkungan hidup.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:19.6pt;text-indent:-13.15pt;line-height:25pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><em><span><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><em><span>Kewajiban Memelihara dan Melindungi Hewan</span></em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Salah satu hadis yang menganjurkan berbuat baik dengan memelihara dan melindungi binatang dengan cara : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:1.4pt;line-height:25pt;"><span>(a) memberikan makanannya, sebagaimana sabda Rasulullah saw ;</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:34.3pt;text-align:justify;line-height:28pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ </span><span style="font-size:21pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;" dir="ltr"><span>e</span></span><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;"> </span><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">…</span><span style="letter-spacing:0.2pt;" dir="ltr"> </span><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">وَعَلَى الَّذِي يَرْكَبُ وَيَشْرَبُ النَّفَقَةُ</span><span style="letter-spacing:0.2pt;" dir="ltr"> </span><a name="_ftnref24" href="#_ftn24"><span class="MsoFootnoteReference"><span dir="ltr"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[24]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:34.3pt;line-height:15pt;"><span>Artinya :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:53.9pt;line-height:15pt;"><span>Dari Abu Hurairah, berkata: Rasulullah saw bersabda : ….</span><span>“Orang yang menunggangi dan meminum (susunya) wajib memberinya makanan”. (HR. Bukhari)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.2pt;text-indent:-1.4pt;line-height:25pt;"><span>(b) menolongnya, sebagaimana sabda Rasulullah saw :</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:32.2pt;text-align:justify;line-height:28pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّه عَنْهم أَنَّ النَّبِيَّ </span><span style="font-size:21pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;" dir="ltr"><span>e</span></span><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;"> قَالَ بَيْنَا رَجُلٌ بِطَرِيقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ </span><span style="letter-spacing:0.2pt;" dir="ltr"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:32.3pt;text-align:justify;line-height:26pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">الْعَطَشُ فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيهَا فَشَرِبَ ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ فَقَالَ الرَّجُلُ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبَ مِنَ الْعَطَشِ مِثْلُ الَّذِي كَانَ بَلَغَ مِنِّي فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلَا خُفَّهُ مَاءً فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّه وَإِنَّ لَنَافِي الْبَهَائِمِ لَأَجْرًا فَقَالَ فِي كُلِّ ذَاتِ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْر</span><a name="_ftnref25" href="#_ftn25"><span class="MsoFootnoteReference"><span dir="ltr"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[25]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">ٌ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-4.1pt;line-height:15pt;margin:6pt 0 0.0001pt 25.8pt;"><span>Artinya : </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:53.85pt;text-indent:0.55pt;line-height:14pt;"><span>Dari Abu Hurairah, berkata; Rasulullah saw bersabda : “suatu ketika seorang laki-laki tengah berjalan di suatu jalanan, tiba-tiba terasa olehnya kehausan yang amat sangat, maka turunlah ia ke dalam suatu sumur lalu minum. Sesudah itu ia keluar dari sumur tiba-tiba ia melihat seekor anjing yang dalam keadaan haus pula sedang menjilat tanah, ketika itu orang tersebut berkata kepada dirinya, demi Allah, anjing initelah menderita seperti apa yang ia alami. Kemudian ia pun turun ke dalam sumur kemudian mengisikan air ke dalam sepatunya, sepatu itu digigitnya. Setelah ia naik ke atas, ia pun segera memberi minum kepada anjing yang tengah dalam kehausan iu. Lantaran demikian, Tuhan mensyukuri dan mengampuni dosanya. Setelah Nabi saw, menjelaskan hal ini, para sahabat bertanya: “ya Rasulullah, apakah kami memperoleh pahala dalam memberikan makanandan minuman kepada hewan-hewan kami ?”. Nabi menjawab : “tiap-tiap manfaat yang diberikan kepada hewan hidup, Tuhan memberi pahala”. (HR. Bukhari dan Muslim)</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3"><span>Hadis di atas memberikan ketegasan betapa Islam sangat peduli akan keselamatan dan perlindungan hewan. Bahkan disebutkan, bahwa bagi yang menolong hewan sekaligus memperoleh tiga imbalan, yaitu : (1) Allah berterima kasih kepadanya; (2) Allah mengampuni dosa-dosanya; dan (3) Allah memberikan imbalan pahala kepadanya Di samping sebagai Pencipta, Allah adalah penguasa terhadap seluruh makhluk-Nya, termasuk binatang. Dia lah yang memberi rezeki, dan Dia mengetahui tempat berdiam dan tempat penyimpanan makanannya, Allah swt, berfirman dalam QS. Hud (11): 6</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:20.4pt;text-align:justify;line-height:28pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ(6)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:21pt;line-height:15pt;"><span>Terjemahnya : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:46.2pt;line-height:15pt;"><span>Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).</span><a name="_ftnref26" href="#_ftn26"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[26]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Secara implisit, ayat ini menjelaskan bahwa Allah swt, senantiasa memelihara dan melindungi makhluk-Nya, termasuk binatang dengan cara memberikan makanan dan memotoring tempat tinggalnya. Manusia sebagai makhluk Allah awt, yang termulia diperintahkan untuk selalu berbuat baik dan dilarang untuk berbuat kerusakan di atas bumi, sebagaimana firman-Nya da;a, QS. al-Qashasah (28): 77</span><span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:15.4pt;" dir="rtl"><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;">وَابْتَغِ فِيمَا ءَاتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ(77)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:16.15pt;line-height:15pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:16.15pt;line-height:15pt;"><span>Terjemahnya :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.1pt;line-height:15pt;"><span>Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.<a name="_ftnref27" href="#_ftn27"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[27]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Di lain ayat, yakni QS. al-A’rāf (7) Allah berfirman :</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:25pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;">&#8230; وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;line-height:25pt;"><span>Terjemahnya :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36.4pt;line-height:15pt;"><span>… dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman&#8221;. </span><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;" dir="rtl"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:20.4pt;text-indent:34.3pt;line-height:24pt;"><span>Ayat di atas, melarang untuk merusak lingkungan, dan justeru sebaliknya yakni<span> </span>ayat tersebut menganjurkan manusia untuk berbuat baik dan atau memelihara lingkungannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-13.9pt;line-height:25pt;margin:6pt 0 0.0001pt 19.55pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><em><span><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><em><span>Penanaman Pohon dan Penghijauan</span></em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:23.8pt;text-indent:30.8pt;line-height:25pt;"><span>Salah satu konsep pelestarian lingkungan dalam Islam adalah perhatian akan penghijauan dengan cara menanam dan bertani. Nabi Muhammad saw menggolongkan orang-orang yang menanam pohon sebagai shadaqah. Hal ini diungkapkan secara tegas dalam dalam hadits Rasulullah saw, yang berbunyi : </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:23.8pt;text-align:justify;line-height:28pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">… قَالَ رَسُولُ اللَّهِ </span><span style="font-size:21pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;" dir="ltr"><span>e</span></span><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;"> مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ </span><a name="_ftnref28" href="#_ftn28"><span class="MsoFootnoteReference"><span dir="ltr"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[28]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:0.7pt;line-height:15pt;"><span>Artinya : </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:38.5pt;line-height:15pt;"><span>“…. Rasulullah saw bersabda : tidaklah seorang muslim menanam tanaman, kemudian tanaman itu dimakan oleh burung, manusia, ataupun hewan, kecuali baginya dengan tanaman itu adalah sadaqah”. (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Anas). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:38.5pt;line-height:15pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:21.7pt;text-indent:32.9pt;line-height:25pt;"><span>Pada<span> </span>QS. al-An’am (6): 99, Allah berfirman ;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:23.1pt;text-align:justify;line-height:28pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُتَرَاكِبًا وَمِنَ النَّخْلِ مِنْ طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَجَنَّاتٍ مِنْ أَعْنَابٍ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ انْظُرُوا إِلَى ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَيَنْعِهِ إِنَّ فِي ذَلِكُمْ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ(99)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:23.8pt;line-height:15pt;"><span>Terjemahnya : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45.15pt;line-height:15pt;"><span>Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.</span><a name="_ftnref29" href="#_ftn29"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[29]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:23.8pt;text-indent:30.8pt;line-height:25pt;"><span>Ada</span><span> dua pertimbangan mendasar dari upaya penghijauan ini, yaitu : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:29.4pt;text-indent:-19.6pt;line-height:25pt;"><span>(a)<span> </span>pertimbangan manfaat, sebagaimana disebutkan dalam QS. Abasa (80): 24-32, sebagai berikut :</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:29.4pt;text-align:justify;line-height:28pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ إِلَى طَعَامِهِ(24)أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا(25)ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا<span> </span>(26) فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّا(27)وَعِنَبًا وَقَضْبًا(28)وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا(29)وَحَدَائِقَ غُلْبًا<span> </span>(30)وَفَاكِهَةً وَأَبًّا(31)مَتَاعًا لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ(32)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.65pt;line-height:15pt;"><span>Terjemahnya : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:46.2pt;line-height:15pt;"><span>maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguh-nya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.<span class="MsoFootnoteReference"> </span></span><a name="_ftnref30" href="#_ftn30"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[30]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:25.8pt;text-indent:-14.6pt;line-height:25pt;"><span>b)<span> </span>pertimbangan keindahan, sebagaimana disebutkan dalam QS. al-Naml (27): 60, sebagai berikut :</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-left:28.05pt;line-height:28pt;" dir="rtl"><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُنْبِتُوا شَجَرَهَا أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُونَ(60)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:15pt;margin:6pt 0 0.0001pt 24.5pt;"><span>Terjemahnya : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:52.5pt;line-height:15pt;"><span>Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).</span><a name="_ftnref31" href="#_ftn31"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[31]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:23.8pt;text-indent:30.8pt;line-height:25pt;"><span>Maka lihatlah pada ungkapan ini “kebun-kebun yang sangat indah” yang berarti menyejukkan jiwa, mata dan hati ketika memandangnya. Setelah Allah swt, memaparkan nikmat-nikmat-Nya, baik berupa tanaman, kurma, zaitun, buah delima dan semacamnya, Dia melanjutkan firman-Nya </span><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;" dir="rtl">أنظروا إلى ثمره إذ أثمر وينعه</span><span> </span><em><span>“</span></em><em><span>lihatlah/perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pula) kematangannya”</span></em><span> (QS. 6 : 99).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:38.5pt;line-height:15pt;"><span>Imam al-Qurtubi, mengatakan di dalam tafsirnya ; “Bertani bagian dari fardhu kifayah, maka pemerintah harus menganjurkan manusia untuk melakukannya, salah satu bentuk usaha itu adalah dengan menanam pohon.”<a name="_ftnref32" href="#_ftn32"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[32]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-13.9pt;line-height:25pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.3pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><em><span><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><em><span>Menghidupkan Lahan Mati</span></em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Lahan mati berarti tanah yang tidak bertuan, tidak berair, tidak di isi bangunan dan tidak dimanfaatkan.<a name="_ftnref33" href="#_ftn33"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[33]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Allah swt, telah menjelaskan dalam QS. Yasin (36): 33 ;</span><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;" dir="rtl"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:25pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">وَءَايَةٌ لَهُمُ الْأَرْضُ الْمَيْتَةُ أَحْيَيْنَاهَا وَأَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا فَمِنْهُ يَأْكُلُونَ(33)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;line-height:25pt;"><span>Terjemahnya :</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:40.5pt;text-indent:-0.55pt;line-height:15pt;"><span>Dan suatu tanah (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati, Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka dari padanya mereka makan”.<a name="_ftnref34" href="#_ftn34"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[34]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Di ayat lain, tepatnya QS. al-Haj (22): 5-6 Allah swt, berfirman :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.3pt;text-align:justify;line-height:28pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">&#8230; وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيج ٍ(5) ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّهُ يُحْيِي الْمَوْتَى وَأَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ(6)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:-0.7pt;line-height:25pt;"><span>Terjemahnya : </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.65pt;text-indent:-0.55pt;line-height:15pt;"><span>… Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila Kami telah menurunkan air diatasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbu-hkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dia lah yang hak dan sesungguhnya Dia lah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.<a name="_ftnref35" href="#_ftn35"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[35]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Kematian sebuah tanah akan terjadi kalau tanah itu ditinggalkan dan tidak ditanami, tidak ada bangunan serta peradaban, kecuali kalau kemudian tumbuh didalamnya pepohonan. Tanah dikategorikan hidup apabila di dalamnya terdapat air dan pemukiman sebagai tempat tinggal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Menghidupkan lahan mati adalah ungkapan dalam khazanah keilmuan yang diambil dari pernyataan Nabi saw, dalam </span><span>bagian matan </span><span>hadis, yakni </span><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;" dir="rtl">مَنْ أَحْيَا أَرْضًا مَيِّتَةً فَهِيَ لَهُ</span><span style="letter-spacing:0.2pt;"> </span><a name="_ftnref36" href="#_ftn36"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[36]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.2pt;"> (</span><em><span>Barang siapa yang menghidupkan tanah (lahan) mati maka ia menjadi miliknya</span></em><span>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Dalam hadis ini Nabi saw, menegaskan bahwa status kepemilikan bagi tanah yang kosong adalah bagi mereka yang menghidupkannya, sebagai motivasi dan anjuran bagi mereka yang menghidupkannya. Menghidupkan lahan mati, usaha ini dikategorikan sebagai suatu keutamaan yang dianjurkan Islam, serta dijanjikan bagi yang mengupayakannya pahala yang amat besar, karena usaha ini adalah dikategorikan sebagai usaha pengembangan pertanian dan menambah sumber-sumber produksi.<a name="_ftnref37" href="#_ftn37"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[37]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Sedangkan bagi siapa saja yang berusaha untuk merusak usaha seperti ini dengan cara menebang pohon akan dicelupkan kepalanya ke dalam neraka. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw sebagaimana dalam bagian matan hadis, yakni ; </span><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;" dir="rtl">مَنْ قَطَعَ سِدْرَةً صَوَّبَ اللَّهُ رَأْسَهُ فِي النَّارِ</span><span> </span><a name="_ftnref38" href="#_ftn38"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[38]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> (<em>Barang siapa yang menebang pepohonan, maka Allah akan mencelupkannya ke dalam neraka</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Maksud hadis di atas, dijelaskan kemudian oleh Abu Daud setelah meriwayatkan hadis tersebut, yaitu kepada orang yang memotong pepohonan secara sia-sia sepanjang jalan, tempat para musafir dan hewan berteduh. Ancaman keras tersebut secara eksplisit merupakan ikhtiar untuk menjaga kelestarian pohon, karena keberadaan pepohonan tersebut banyak memberi manfaat bagi lingkungan sekitar. Kecuali, jika penebangan itu dilakukan dengan pertimbangan cermat atau menanam pepohonan baru dan menyiram-nya agar bisa menggantikan fungsi pohon yang ditebang itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-13.9pt;line-height:25pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.3pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><em><span><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><em><span>Udara</span></em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Salah satu kebutuhan pokok manusia adalah udara, dalam hal ini udara yang mengandung oksigen yang diperlukan manusia untuk pernafasan. Tanpa oksigen, manusia tidak dapat hidup.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Tuhan beberapa kali menyebut angin (udara) dan fungsinya dalam proses daur air dan hujan. Firman Allah swt dalam QS. al-Baqarah (2): 164</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.3pt;text-align:justify;line-height:28pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ(164)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.3pt;line-height:15pt;"><span>Terjemahnya : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:35.7pt;line-height:15pt;"><span>Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.</span><a name="_ftnref39" href="#_ftn39"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[39]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Pada ayat lain, yakni QS. al-Rum (30): 48 Allah juga berfirman :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:21pt;text-align:justify;line-height:28pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ(48)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.3pt;text-indent:0.55pt;line-height:15pt;"><span>Terjemahnya : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:34.3pt;text-indent:0.55pt;line-height:15pt;"><span>Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan ke luar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira.</span><a name="_ftnref40" href="#_ftn40"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[40]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Udara merupakan pembauran gas yang mengisi ruang bumi, dan uap air yang meliputinya dari segala penjuru. Udara adalah salah satu dari empat unsur yang seluruh alam bergantung kepadanya. Empat unsur tersebut ialah tanah, air, udara dan api. Dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern telah membuktikan bahwa keempat unsur ini bukanlah zat yang sederhana, akan tetapi merupakan persenyawaan dari berbagai macam unsur.<a name="_ftnref41" href="#_ftn41"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[41]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Air misalnya, terdiri dari unsur oksigen dan hidrogen. Demikian juga tanah yang terbentuk dari belasan unsur berbeda. Adapun udara, ia terbentuk dari sekian ratus unsur, dengan dua unsur yang paling dominan, yaitu nitrogen<a name="_ftnref42" href="#_ftn42"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[42]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> yang mencapai sekitar 78,084 persen dan oksigen<a name="_ftnref43" href="#_ftn43"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[43]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> sebanyak 20,946 persen. Satu persen sisanya adalah unsur-unsur lain.<a name="_ftnref44" href="#_ftn44"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[44]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Termasuk hikmah kekuasaan Tuhan dalam penciptaan alam ini, bahwa Dia menciptakan udara dengan nitrogen dan sifatnya yang pasif sebagai kandungan mayoritasnya, yaitu 78 persen dari udara. Kalau saja kandungan udara akan gas nitrogen kurang dari itu, niscaya akan berjatuhan bunga-bunga api dari angkasa luar karena mudahnya menembus lapisan bumi (hal itu yang kerap kali terjadi) dan terbakarlah segala sesuatu yang ada pada permukaan bumi.<a name="_ftnref45" href="#_ftn45"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[45]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Fungsi lain dari udara/angin adalah dalam proses penyerbukan/ mengawinkan tumbuh-tumbuhan. Allah swt, berfirman dalam QS. al-Hijr (15): 22 sebagai berikut :</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:25pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">وَأَرْسَلْنَا الرِّيَاحَ لَوَاقِحَ فَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَسْقَيْنَاكُمُوهُ وَمَا أَنْتُمْ لَهُ بِخَازِنِينَ(22)</span><span style="letter-spacing:0.2pt;" dir="ltr"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:15pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.3pt;"><span>Terjemahnya : </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:35.7pt;line-height:15pt;"><span>Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpan-nya.<a name="_ftnref46" href="#_ftn46"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[46]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Dengan Di antara sekian banyak manfaat angin adalah kemampuannya dalam menggerakkan kapal-kapal untuk terus berlayar dengan izin Allah. Angin berfungsi juga untuk mengalirkan air dari satu tempat ke tempat lain, dan yang menyebabkan terbaginya hewan-hewan air ke berbagai permukaan air. Dalam kehidupan tumbuh-tumbuhan, anginlah yang membawa benih-benih yang menyebabkan kesuburan dan penyerbukan serta penyebaran tumbuh-tumbuhan ke berbagai belahan bumi.<a name="_ftnref47" href="#_ftn47"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[47]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Namun angin juga bisa menjadi bencana bagi makhluk hidup ketika ia menjadi badai misalnya, Allah telah menghancurkan kaum ‘Ad dengan angin badai karena kekafiran dan kesombongan mereka di atas muka bumi ini, lalu mereka berkata, “Siapakah diantara kita yang lebih kuat ?”. Allah swt, berfirman dalam QS. al-Dzariyat (51): 41-42</span><span></span></p>
<p class="MsoBodyText3" dir="rtl"><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;">وَفِي عَادٍ إِذْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الرِّيحَ الْعَقِيمَ(41)مَا تَذَرُ مِنْ شَيْءٍ أَتَتْ عَلَيْهِ إِلَّا جَعَلَتْهُ كَالرَّمِيمِ(42)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.3pt;line-height:15pt;"><span>Terjemahnya : </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.1pt;line-height:15pt;"><span>Dan juga pada (kisah) ‘Ad ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan. Angin itu tidak membiarkan satu pun yang dilandanya melainkan dijadikannya seperti serbuk.<a name="_ftnref48" href="#_ftn48"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[48]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Sebagai manusia terkadang muncul ketika datang angin topan yang sangat kencang dengan membawa debu dan hawa panas, yang akan membuat sebagian manusia sakit, mereka lupa bahwa itu semua terjadi atas kehendak Allah dan berjalan sesuai dengan hukum alam Nya yang tidak dapat dirubah. Sebab itulah Nabi saw, melarang pencelaan terhadap angin, beliau bersabda :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:16.15pt;text-align:justify;line-height:28pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">قَالَ رَسُولُ اللَّهِ </span><span style="font-size:21pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;" dir="ltr"><span>e</span></span><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;"> لَا تَسُبُّوا الرِّيحَ فَإِنَّهَا تَجِيءُ</span><span style="letter-spacing:0.2pt;" dir="ltr"> </span><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">بِالرَّحْمَةِ وَالْعَذَابِ وَلَكِنْ سَلُوا اللَّهَ </span><span style="letter-spacing:0.2pt;" dir="ltr"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:16.15pt;text-align:justify;line-height:28pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">مِنْ خَيْرِهَا وَتَعَوَّذُوا مِنْ شَرِّهَا</span><span style="letter-spacing:0.2pt;" dir="ltr"> </span><a name="_ftnref49" href="#_ftn49"><span class="MsoFootnoteReference"><span dir="ltr"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[49]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.3pt;line-height:15pt;"><span>Artinya :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:30.1pt;line-height:15pt;"><span>Rasulullah saw bersabda : </span><span>Janganlah kalian mencela angin, karena sesungguhnya ia berasal dari ruh Allah Ta’ala yang datang membawa rahmat dan azab, akan tetapi mohonlah kepada Allah dari kebaikan angin tersebut dan berlindunglah kepada Allah dari kejahatannya. (HR. Ahmad dari Abu Hurairah)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Sungguh, nikmat udara merupakan suatu nikmat yang sangat besar. Dengan demikian, manusia dituntut untuk memanfaatkannya sesuai dengan<span> </span>karunia yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka, dengan melestarikannya bukan dengan mencemarinya dan merusaknya, yang akan membawa mudharat bagi dirinya dan makhluk ciptaan Allah Swt, lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-12.45pt;line-height:25pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.3pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><em><span><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><em><span>Air</span></em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Sumber kekayaan lain yang sangat penting untuk dijaga adalah air, sumber kehidupan bagi manusia, tumbuh-tumbuhan dan hewan. Allah Swt, berfirman dalam QS. al-Anbiya’ (21): 30</span><span>, yakni “</span><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;" dir="rtl">وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ</span><span>” </span><span>(<em>Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu hidup</em>). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Pada hakekatnya, air adalah kekayaan yang mahal dan berharga. Akan tetapi karena Allah menyediakannya di laut, sungai bahkan hujan secara gratis, manusia seringkali tidak menghargai air sebagaimana mestinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Namun satu hal penting yang layak direnungkan, bahwa air bukanlah komoditas yang bisa tumbuh dan berkembang. Ia tidak sama, misalnya dengan kekayaan nabati atau hewani, sebab itulah Allah swt, mengisyaratkan dalam QS. al-Mu’minun (23): 18</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:28pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَسْكَنَّاهُ فِي الْأَرْضِ وَإِنَّا عَلَى ذَهَابٍ بِهِ لَقَادِرُونَ(18)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:16.8pt;line-height:25pt;"><span>Terjemahnya : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:38.85pt;line-height:15pt;"><span>Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.<a name="_ftnref50" href="#_ftn50"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[50]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Jika makhluk hidup terutama manusia tidak bisa hidup tanpa air, sementara kuantitas air terbatas, maka manusia wajib menjaga dan melestarikan kekayaan yang amat berharga ini. Jangan sekali-kali melakukan tindakan-tindakan kontra produktif, yaitu dengan cara mencemarinya, merusak sumbernya dan lain-lain. Termasuk pula dengan tidak menggunakan air secara berlebih-lebihan (<em>israf</em>), menurut ukuran-ukuran yang wajar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:-0.7pt;line-height:25pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Larangan mencemari air</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:30.1pt;text-indent:24.5pt;line-height:25pt;"><span>Bentuk-bentuk pencemaran air yang dimaksud oleh ajaran Islam di sini seperti kencing, buang air besar dan sebab-sebab lainnya yang dapat mengotori sumber air. Rasululullah saw bersabda :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:30.05pt;text-align:justify;line-height:28pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">… اتَّقُوا الْمَلَاعِنَ الثَّلَاثَةَ الْبَرَازَ فِي الْمَوَارِدِ وَقَارِعَةِ الطَّرِيقِ وَالظِّلِّ</span><span style="letter-spacing:0.2pt;" dir="ltr"> </span><a name="_ftnref51" href="#_ftn51"><span class="MsoFootnoteReference"><span dir="ltr"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[51]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:30.1pt;line-height:25pt;"><span>Artinya :</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:52.5pt;line-height:15pt;"><span>Jauhilah tiga macam perbuatan yang dilaknat ; buang air besar di sumber air, ditengah jalan, dan di bawah pohon yang teduh. (HR. Abu Daud)</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:30.1pt;text-indent:24.5pt;line-height:25pt;"><span>Rasulullah saw, juga bersabda :</span><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;" dir="rtl"> لَا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ الَّذِي لَا يَجْرِي ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيهِ</span><span style="letter-spacing:0.2pt;"> </span><a name="_ftnref52" href="#_ftn52"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[52]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.2pt;"> (</span><em><span>Janganlah salah seorang dari kalian kencing di air yang diam yang tidak mengalir, kemudian mandi disana. </span></em><span>HR. Al-Bukhari</span><span style="letter-spacing:0.2pt;">)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.05pt;text-indent:26.6pt;line-height:24pt;"><span>Pencemaran air di zaman modern ini tidak hanya terbatas pada kencing, buang air besar, atau pun hajat manusia yang lain. Bahkan banyak ancaman pencemaran lain yang jauh lebih berbahaya dan berpengaruh dari semua itu, yakni pencemaran limbah industri, zat kimia, zat beracun yang mematikan, serta minyak yang mengenangi samudra.<a name="_ftnref53" href="#_ftn53"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[53]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.05pt;text-indent:-12.6pt;line-height:24pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Penggunaan air secara berlebihan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.05pt;text-indent:26.6pt;line-height:24pt;"><span>Ada</span><span> bahaya lain yang berkaitan dengan sumber kekayaan air, yaitu penggunaan air secara berlebihan. Air dianggap sebagai sesuatu yang murah dan tidak berharga. Karena hanya manusia-manusia yang berfikir yang mengetahui betapa berharga kegunaan dan nilai air.</span><span> Hal ini sejalan dengan </span><span>QS. al-An’am (6): 141, yakni </span><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;" dir="rtl"><span> </span>وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ</span><span> (<em>Dan janganlah kalian israf (berlebih-lebihan). Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlaku israf</em>).</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.05pt;text-indent:26.6pt;line-height:24pt;"><span>Ayat di atas, didukung juga oleh salah satu hadis, yakni</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:29.4pt;text-align:justify;line-height:25pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:18pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">&#8230; أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِسَعْدٍ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ فَقَالَ مَا هَذَا السَّرَفُ يَا سَعْدُ قَالَ أَفِي الْوُضُوءِ سَرَفٌ قَالَ نَعَمْ وَإِنْ كُنْتَ عَلَى نَهْرٍ جَارٍ</span><a name="_ftnref54" href="#_ftn54"><span class="MsoFootnoteReference"><span dir="ltr"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[54]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27.3pt;line-height:normal;"><span>Artinya :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:38.5pt;text-indent:2.1pt;line-height:normal;"><span>… Nabi saw, pernah bepergian bersama Sa’ad bin Abi Waqqas. Ketika Sa’ad berwudhu, Nabi berkata : “Jangan menggunakan air berlebihan”. Sa’ad bertanya : “Apakah menggunakan air juga bisa berlebihan ?”. Nabi menjawab: “Ya, sekalipun kamu melakukannya di sungai yang mengalir”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.95pt;text-indent:-13.3pt;line-height:24pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><em><span><span>6.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><em><span>Menghindari Kerusakan dan Menjaga Keseimbangan Alam.</span></em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:21pt;text-indent:33.6pt;line-height:25pt;"><span>Salah satu tuntunan terpenting Islam dalam hubungannya dengan lingkungan, ialah bagaimana menjaga keseimbangan alam/ lingkungan dan habitat yang ada tanpa merusaknya. Karena tidak diragukan lagi bahwa Allah menciptakan segala sesuatu di alam ini dengan perhitungan tertentu. </span><span>Seperti dalam firman Nya dalam QS. al-Mulk (67): 3</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:16.8pt;text-align:justify;line-height:25pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ(3)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.2pt;line-height:25pt;"><span>Terjemahnya : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36.25pt;text-indent:-0.55pt;line-height:15pt;"><span>Allah yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak<span> </span>seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang. Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang.<a name="_ftnref55" href="#_ftn55"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[55]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Inilah prinsip yang senantiasa diharapkan dari manusia, yakni sikap adil dan moderat dalam konteks keseimbangan lingkungan, tidak hiperbolis atau pun meremehkan, sebab ketika manusia sudah bersikap hiperbolis atau meremehkan, ia cenderung menyimpang, lalai serta merusak. Hiperbolis di sini maksudnya adalah berlebih-lebihan dan melewati batas kewajaran. Sementara meremehkan maksudnya ialah lalai serta mengecilkan makna yang ada.<a name="_ftnref56" href="#_ftn56"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[56]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Keduanya merupakan sikap yang tercela, sedangkan sikap adil dan moderat adalah sikap terpuji.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Sikap adil, moderat, ditengah-tengah dan seimbang seperti inilah yang diharapkan dari manusia dalam menyikapi setiap persoalan. Baik itu berbentuk materi maupun inmateri, persoalan-persoalan lingkungan dan persoalan umat manusia, serta persoalan hidup seluruhnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Keseimbangan yang diciptakan Allah swt, dalam suatu lingkungan hidup akan terus berlangsung dan baru akan terganggu jika terjadi suatu keadaan luar biasa, seperti gempa tektonik, gempa yang disebabkan terjadinya pergeseran kerak bumi.<a name="_ftnref57" href="#_ftn57"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[57]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Tetapi menurut al-Qur’an, kebanyakan bencana di planet bumi disebabkan oleh ulah perbuatan manusia yang tidak bertanggung jawab. Firman Allah swt yang menandaskan hal tersebut adalah QS. al-Rum (30): 41, sebagai berikut :</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:16.75pt;text-align:justify;line-height:28pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ(41)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.9pt;line-height:25pt;"><span>Terjemahnya</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.1pt;text-indent:1.4pt;line-height:15pt;"><span>Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar)”.<a name="_ftnref58" href="#_ftn58"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[58]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Selanjutnya Allah awt, berfirman di dalam QS. Ali Imran (3): 182 </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:25pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:19pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ(182)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;line-height:25pt;"><span>Terjemahnya :</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:38.25pt;text-indent:-0.55pt;line-height:15pt;"><span>(Adzab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba Nya.<a name="_ftnref59" href="#_ftn59"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12.5pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[59]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Di abad ini, campur tangan umat manusia terhadap lingkungan cenderung meningkat dan terlihat semakin meningkat lagi terutama pada beberapa dasawarsa terakhir. Tindakan-tindakan mereka tersebut merusak keseimbangan lingkungan serta keseimbangan interaksi antar elemen-elemennya. </span><span>Terkadang karena terlalu berlebihan, dan terkadang pula karena terlalu meremehkan. Semua itu menyebabkan penggundulan hutan di berbagai tempat, pendangkalan laut, gangguan terhadap habitat secara global, meningkatnya suhu udara, serta menipisnya lapisan ozon yang sangat mencemaskan umat manusia dalam waktu dekat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Demikianlah, kecemasan yang melanda orang-orang yang beriman adalah kenyataan bahwa kezhaliman umat manusia dan tindakan mereka yang merusak pada suatu saat kelak akan berakibat pada hancurnya bumi beserta isinya.</span></p>
<h2 style="margin:6pt 0 0.0001pt -9.05pt;"><span>VI. PENUTUP</span></h2>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Berdasar<span> </span>uraian di atas maka disimpulkan bahwa m</span><span>asalah pelestarian lingkungan hidup terungkap dalam beberapa hadis sebagai perintah bagi manusia agar menjaga dan atau memelihara lingkungan mereka dengan baik (<em>ihsān</em>). Unsur-unsur lingkungan hidup yang ditunjuk oleh hadis adalah; fauna, flora, tanah, air, dan udara. Upaya-upaya yang harus ditempuh dalam melestarikan lingkungan hidup adalah antara lain; memelihara dan melindungi hewan; m</span><span>enanam </span><span>p</span><span>ohon dan </span><span>penghijauan; menghidupkan lahan mati; memanfaatkan udara dan air dengan baik, serta yang terpenting adalah </span><span>bagaimana </span><span>agar </span><span>keseimbangan alam/ lingkungan dan habitat </span><span>dijaga dan berupaya mengindari untuk </span><span>merusaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Al-Qur’an sebagai <em>hudan li al-nas </em>sudah barang tentu, bukan hanya petunjuk dalam arti metafisis-eskatologis, tetapi juga menyangkut masalah-masalah praktis kehidupan manusia di alam dunia sekarang ini, termasuk di dalamnya, patokan-patokan dasar tentang bagaimana manusia menyantuni alam semesta dan melestarikan lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, energi pada setiap makhluk hidup dibutuhkan oleh makhluk hidup yang lain, yang menyebabkan terjadinya kelangsungan hidup. </span><span>Dalam Islam saling keterkaitan ini merupakan salah satu tujuan penciptaan Allah. Sebab Allah menciptakan sesuatu dengan tidak sia-sia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15.4pt;text-indent:39.2pt;line-height:25pt;"><span>Berdasar pada rumusan kesimpula di atas, maka dapat diimplikasikan bahwa persepsi hadis tentang pelestarian lingkungan merupakan isyarat tentang adanya keteraturan yang harus dijaga oleh setiap makhluk hidup dalam satu sistem, dan apabila sistem itu terganggu menyebabkan porak-porandanya makhluk hidup yang kokoh dan tergantung pada ekosistem.</span></p>
<h3 style="text-indent:-0.55pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.3pt;"><strong><span>Wa Allahu A’lam bin al-Sawab …</span></strong><strong><span style="font-style:normal;"></span></strong></h3>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<h4><span style="font-size:12pt;">DAFTAR PUSTAKA</span></h4>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-51.6pt;line-height:normal;margin:12pt 0 0.0001pt 51.6pt;"><em><span style="font-size:8.5pt;"> </span></em></p>
<h5><span>Al-Qur’an al-Karim</span></h5>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-51.6pt;line-height:15pt;margin:12pt 0 0.0001pt 51.6pt;"><span>Abdillah, Mujiono. <em>Agama Ramah Lingkungan Perspektif Al-Qur’an.</em> </span><span>Cet I; Jakarta: Paramadina, 2001</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-51.6pt;line-height:15pt;margin:12pt 0 0.0001pt 51.6pt;"><span>Abdullah, Amin. <em>Falsafah Kalam di Era Post Modernisme.</em> Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-51.6pt;line-height:15pt;margin:12pt 0 0.0001pt 51.6pt;"><span>Al-Baqi’, Muhammad Fu’ad Abdul. <em>Mu’jam al-Mufahraz li Alfaz al-Qur’an al-Karim.</em> Indonesia: Maktabah Dahlan, t.th</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-51.6pt;line-height:15pt;margin:12pt 0 0.0001pt 51.6pt;"><span style="text-decoration:underline;"><span><span> </span></span></span><span>. <em>Al-Lu’lu wa al-Marjan,</em> juz III. </span><span>Cet I ; Kairo : Dar al-Hadis, 1997</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-51.6pt;line-height:15pt;margin:12pt 0 0.0001pt 51.6pt;"><span>Begon, Michael, John L. Herper, Colin R. Townsend, Ecology: <em>Industrials, Populations, Ani Communities.</em> Massachu Setts: Sinaur Associaties, Inc., 1986</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-51.6pt;line-height:15pt;margin:12pt 0 0.0001pt 51.6pt;"><span>Al-Bukhariy, Abu Abdullah bin Mughirah bin al-Bardizbat. </span><em><span>Shahih al-Bukhari,</span></em><span> juz II. Bairut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1992</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-51.6pt;line-height:15pt;margin:12pt 0 0.0001pt 51.6pt;"><span>Departemen Agama RI, <em>Al-Qur’an dan Terjemahnya. </em>Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci al-Qur’an, 1992 </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-51.6pt;line-height:15pt;margin:12pt 0 0.0001pt 51.6pt;"><span>Departemen Pendidikan Nasional, <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia.</em> edisi III; Jakarta: Balai Pustaka, 2001</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-51.6pt;line-height:15pt;margin:12pt 0 0.0001pt 51.6pt;"><span>Ghazali, Bahri. </span><em><span>Lingkungan Hidup dalam Pemahaman Islam.</span></em><span> Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996</span><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-51.6pt;line-height:15pt;margin:12pt 0 0.0001pt 51.6pt;"><span>M. Soerjani dkk, <em>Lingkungan Sumber Daya Alam dan Kependudukan dalam Pembangunan.</em> Jakarta;<span> </span>UI Press, 1987 </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-51.6pt;line-height:15pt;margin:12pt 0 0.0001pt 51.6pt;"><span>Al-Marāghi, Ahmad Musthāfa. <em>Tafsīr al-Marāgi, </em>juz I. Mesir: Musthāfa al-Babi al-halabi, 1974</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-51.6pt;line-height:15pt;margin:12pt 0 0.0001pt 51.6pt;"><span>Munziri, <em>Mukhtashar al-Sunan.</em> Pakistan: Maktabah al-Atsariyah, t.th</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-51.6pt;line-height:15pt;margin:12pt 0 0.0001pt 51.6pt;"><span>Muslim bin al-Hajjaj, Abu Husain. <em>Shahih Muslim,</em> juz IV. Bairut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, t.th</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-51.6pt;line-height:15pt;margin:12pt 0 0.0001pt 51.6pt;"><span>Al-Naysaburi, Abi al-Hasan Ali bin Ahmad al-Wahidi. <em>Asbab al-Nuzul. </em>Jakarta: Dinamika Barakah Utama, t.th</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-51.6pt;line-height:15pt;margin:12pt 0 0.0001pt 51.6pt;"><span>Qardhawi, Yusuf. <em>Ri’ayah al-Biah fi al-Syari’ah al-Islam</em> diterjemahkan oleh Abdullah Hakam Shah dengan judul “Islam Agama Ramah Lingkungan”. Cet I; Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2002</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-51.6pt;line-height:15pt;margin:12pt 0 0.0001pt 51.6pt;"><span>Rahman, Fazhlur<em>. Al-Qur’an Sumber Ilmu Pengetahuan,</em> alih bahasa M. Arifin. Jakarta: Bina Aksara, 1987</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-51.6pt;line-height:15pt;margin:12pt 0 0.0001pt 51.6pt;"><span>Riyadi, Slamet. <em>Ekologi Ilmu Lingkungan Dasar-Dasar dan Pengertiannya.</em> Surabaya: Usaha Nasional, 1998</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-51.6pt;line-height:15pt;margin:12pt 0 0.0001pt 51.6pt;"><span>Shihab, M. Quraish. <em>Wawasan Al-Qur’an.</em> Bandung: Mizan, 1996</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-51.6pt;line-height:15pt;margin:12pt 0 0.0001pt 51.6pt;"><span>Al-Sijistaniy, Abu Sawud Sulayman Muhammad bin al-Asyats. <em>Sunan Abu Dawud, </em>juz III.<em> </em>Indonesia: Makbatah Dahlan, t.th</span><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-51.6pt;line-height:15pt;margin:12pt 0 0.0001pt 51.6pt;"><span>Al-Suyuti, Jalal al-Din. <em>al-Durru al-Mantsur fi al-Tafsir al-Ma’tsur, </em>juz II. Bairut: Dar al-Maktab al-Ilmiah, 1411 H / 1990 M </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-51.6pt;line-height:15pt;margin:12pt 0 0.0001pt 51.6pt;"><span>Yunus, Mahmud. </span><em><span>Kamus Arab-Indonesia.</span></em><span> Jakarta: Hidakarya Agung, 1990</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-51.6pt;line-height:15pt;margin:12pt 0 0.0001pt 51.6pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoHeader" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:18pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:normal;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Soerjani dkk, cenderung menyatakan bahwa lingkungan pada hakekatnya adalah keterkaitan antara manusia dengan makhluk lain juga dengan benda mati yang ada di sekitanya. Lihat M. Soerjani dkk, <em>Lingkungan Sumber Daya Alam dan Kependudukan dalam Pembangunan</em> (Jakarta;<span> </span>UI Press, 1987), h.3 </span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Fazhlur Rahman, <em>Al-Qur’an Sumber Ilmu Pengetahuan,</em> alih bahasa M. Arifin (Jakarta: Bina Aksara, 1987), h. 76</span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><em><span style="letter-spacing:0.4pt;">Ecologi as the Scientific Study of the Interactions between Organisme and their Environtment,</span></em><span style="letter-spacing:0.4pt;"> Michael Begon, John L. Herper, Colin R. Townsend, Ecology: <em>Industrials, Populations, Ani Communities</em> (Massachu Setts: Sinaur Associaties, Inc., 1986), P. X. Lihat juga M. Soerjani dkk, <em>op.cit,. </em>h. 21</span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Bahri Ghazali, <em>Lingkungan Hidup dalam Pemahaman Islam</em> (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), h.8</span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><em><span style="letter-spacing:0.4pt;">Ibid., </span></em><span style="letter-spacing:0.4pt;">h, 3 “Ekosistem adalah satuan kehidupan yang terdiri atas suatu komunitas makhluk hidup (dari berbagai jenis) dengan berbagai benda mati yang berinteraksi membentuk suatu sistem”.</span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Allah swt berfirman : </span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا</span><span style="letter-spacing:0.4pt;"> (<em>Dan Kami tidak men-ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dengan sia-sia (tanpa tujuan)</em>. (QS. Shad/38 : 27) </span></p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Departemen Pendidikan Nasional, <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia</em> (edisi III; Jakarta: Balai Pustaka, 2001), h. 665</span></p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn8" href="#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><em><span style="letter-spacing:0.4pt;">Ibid.</span></em><span style="letter-spacing:0.4pt;"></span></p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn9" href="#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><em><span style="letter-spacing:0.4pt;">Ibid.</span></em><span style="letter-spacing:0.4pt;">, h. 675.</span></p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn10" href="#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Slamet Ryadi, <em>Ekologi Ilmu Lingkungan Dasar-Dasar dan Pengertiannya</em> (Surabaya: Usaha Nasional, 1998), h. 22</span></p>
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn11" href="#_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Mujiono Abdillah, <em>Agama Ramah Lingkungan Perspektif Al-Qur’an</em> (Cet I; Jakarta: Paramadina, 2001), h. 30 -31</span></p>
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:19.3pt;text-indent:36pt;"><a name="_ftn12" href="#_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> </span>Muhammad Fuad Abdul Baqi&#8217;<span> </span><em>Al-lu&#8217;lui wa al-marjan,</em> juz III (cet I ; Kairo : dar al-hadits, 1997), h. 116.</p>
</div>
<div id="ftn13">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn13" href="#_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Kata “</span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">دابة</span><span style="letter-spacing:0.4pt;">” berulang sebanyak 14 kali, dan “</span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">الدواب</span><span style="letter-spacing:0.4pt;">” sebanyak 4 kali. Muhammad Fu’ad Abdul Baqi’, <em>Mu’jam al-Mufahraz li Alfaz al-Qur’an al-Karim</em> (Indonesia: Maktabah Dahlan, t.th), h. 520-523</span></p>
</div>
<div id="ftn14">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn14" href="#_ftnref14"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Kata “</span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">الأنعام</span><span style="letter-spacing:0.4pt;">” berulang sebanyak 26 kali, “</span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">انعاما</span><span style="letter-spacing:0.4pt;">” 2 kali, “</span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">انعامكم</span><span style="letter-spacing:0.4pt;">” 3 kali dan “</span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">انعامهم</span><span style="letter-spacing:0.4pt;">” 1 kali. <em>Ibid.</em> h. 879-880. Di samping itu, al-Qur’an juga menyebutkan beberapa jenis binatang yang telah ditentukan sifatnya, misalnya : “</span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">السلع</span><span style="letter-spacing:0.4pt;">” dan “</span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">الجوارح</span><span style="letter-spacing:0.4pt;">” (binatang buas). Lihat QS. 5: 2), “</span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">الصيد</span><span style="letter-spacing:0.4pt;">” (binatang buruan). Lihat QS. 5: 95, “</span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">الهدي والقلائد</span><span style="letter-spacing:0.4pt;">”. Lihat QS. 5: 2</span></p>
</div>
<div id="ftn15">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn15" href="#_ftnref15"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[15]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Dari kata “</span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">دبيبا، دبا، يدب، دب</span><span style="letter-spacing:0.4pt;">” yang berarti : merangkak, berjalan perlahan-lahan, juga diartikan : merayap. Lihat Mahmud Yunus, <em>Kamus Arab-Indonesia</em> (Jakarta: Hidakarya Agung, 1990), h. 123. M. Quraish Shihab, mengartikan <em>dabbah</em> dengan “yang bergerak”. Lihat M. Quraish Shihab, <em>Wawasan Al-Qur’an</em> (Bandung: Mizan, 1996), h. 445</span></p>
</div>
<div id="ftn16">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn16" href="#_ftnref16"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[16]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><em><span style="letter-spacing:0.4pt;">Ibid,</span></em><span style="letter-spacing:0.4pt;"> Mahmud Yunus, h. 459</span></p>
</div>
<div id="ftn17">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn17" href="#_ftnref17"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[17]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Departemen Pendidikan Nasional, <em>op. cit., </em>h. 278</span></p>
</div>
<div id="ftn18">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn18" href="#_ftnref18"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[18]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Kata “</span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">نبا</span><span style="letter-spacing:0.4pt;">” berulang sebanyak 4 kali, “</span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">نباتا</span><span style="letter-spacing:0.4pt;">” 3 kali, “</span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">نباته</span><span style="letter-spacing:0.4pt;">” 2 kali, “</span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">انبتنا</span><span style="letter-spacing:0.4pt;">” 8 kali, “</span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">أنبتت</span><span style="letter-spacing:0.4pt;">” 2 kali, “</span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">تنبت</span><span style="letter-spacing:0.4pt;">” 2 kali, “</span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">أنبتكم</span><span style="letter-spacing:0.4pt;">” 1 kali, “</span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">أنبتها</span><span style="letter-spacing:0.4pt;">” 1 kali, “</span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">تنبت</span><span style="letter-spacing:0.4pt;">” 1 kali, dan “</span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">ينبت</span><span style="letter-spacing:0.4pt;">” 1 kali.</span></p>
</div>
<div id="ftn19">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn19" href="#_ftnref19"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[19]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Kata “</span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">الحرث</span><span style="letter-spacing:0.4pt;">” 5 kali, “</span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">حرث</span><span style="letter-spacing:0.4pt;">” 5 kali, “</span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">حرثكم</span><span style="letter-spacing:0.4pt;">” 1 kali dan “</span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">حرثه</span><span style="letter-spacing:0.4pt;">” 1 kali</span></p>
</div>
<div id="ftn20">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn20" href="#_ftnref20"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[20]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Kata “</span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">الأرض</span><span style="letter-spacing:0.4pt;">” 45 kali, “</span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">أرضا</span><span style="letter-spacing:0.4pt;">” 2 kali, “</span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">أرضكم</span><span style="letter-spacing:0.4pt;">” 3 kali, “</span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">أرضنا</span><span style="letter-spacing:0.4pt;">” 3 kali, “</span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">أرضهم</span><span style="letter-spacing:0.4pt;">” 1 kali, dan “</span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:0.4pt;" dir="rtl">أرضى</span><span style="letter-spacing:0.4pt;">” 1 kali</span></p>
</div>
<div id="ftn21">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn21" href="#_ftnref21"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[21]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Muhammad Fuad Abdul Baqi’,<em> Mu’jam …op.cit.,</em> h. 857</span></p>
</div>
<div id="ftn22">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn22" href="#_ftnref22"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[22]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Departemen Pendidikan Nasional, <em>op. cit.,</em> h. 42</span></p>
</div>
<div id="ftn23">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn23" href="#_ftnref23"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[23]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;"> Muhammad Fuad Abdul Baqi’, <em>Mu’jam… op.cit.,</em> h. 414</span></p>
</div>
<div id="ftn24">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn24" href="#_ftnref24"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[24]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Abu Abdullah bin Mughirah bin al-Bardizbat al-Bukhariy, <em>Shahih al-Bukhari,</em> juz II (Bairut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1992), h. 888. </span><span style="letter-spacing:0.4pt;">Lihat juga al-Syaukani, <em>Nail al-Authar,</em> juz V, h. 353- 354.</span></p>
</div>
<div id="ftn25">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn25" href="#_ftnref25"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[25]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><em><span style="letter-spacing:0.4pt;">Ibid.,</span></em><span style="letter-spacing:0.4pt;"> <em>Shahih al-Bukhari,</em> juz II, h. 833; Abu Husain Muslim bin al-Hajjaj, <em>Shahih Muslim,</em> juz IV (Baurut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, t.th), h. 1761.</span></p>
</div>
<div id="ftn26">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn26" href="#_ftnref26"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[26]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Departemen Agama RI, <em>Al-Qur’an dan Terjemahnya </em>(Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci al-Qur’an, 1992), h. 327 </span></p>
</div>
<div id="ftn27">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn27" href="#_ftnref27"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[27]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><em><span style="letter-spacing:0.4pt;">Ibid., </span></em><span style="letter-spacing:0.4pt;">h.<span> </span>623</span></p>
</div>
<div id="ftn28">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn28" href="#_ftnref28"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[28]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Lihat Muhammad Fuad Abdul Baqi’, <em>Al-Lu’lu wa al-Marjan,</em> juz III (Cet I ; Kairo : Dar al-Hadis, 1997), h. 116</span></p>
</div>
<div id="ftn29">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn29" href="#_ftnref29"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[29]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Departemen Agama RI, <em>op. cit., </em>h. 203-204 </span></p>
</div>
<div id="ftn30">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn30" href="#_ftnref30"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[30]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><em><span style="letter-spacing:0.4pt;">Ibid., </span></em><span style="letter-spacing:0.4pt;">h. 1025-1026</span></p>
</div>
<div id="ftn31">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn31" href="#_ftnref31"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[31]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><em><span style="letter-spacing:0.4pt;">Ibid., </span></em><span style="letter-spacing:0.4pt;">h. 601 </span></p>
</div>
<div id="ftn32">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn32" href="#_ftnref32"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[32]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Al-Qurtubi, <em>Tafsir al-Qurtubi </em>(juz III), h. 306</span></p>
</div>
<div id="ftn33">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn33" href="#_ftnref33"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[33]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Yusuf Qardhawi, <em>op. cit.,</em> h, 100</span></p>
</div>
<div id="ftn34">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn34" href="#_ftnref34"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[34]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Departemen Agama RI, <em>op. cit., </em>h. 709 </span></p>
</div>
<div id="ftn35">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn35" href="#_ftnref35"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[35]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><em><span style="letter-spacing:0.4pt;">Ibid., </span></em><span style="letter-spacing:0.4pt;">h. 512 </span></p>
</div>
<div id="ftn36">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn36" href="#_ftnref36"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[36]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Abu Daud, <em>Sunan Abu Daud, op. cit.,</em> (3073)</span></p>
</div>
<div id="ftn37">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn37" href="#_ftnref37"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[37]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Yusuf Qardhawi, <em>op. cit.,</em> h. 101</span></p>
</div>
<div id="ftn38">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn38" href="#_ftnref38"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[38]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Abu Daud, <em>op. cit., Kitab Adab</em> (5239)</span></p>
</div>
<div id="ftn39">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn39" href="#_ftnref39"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[39]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Departemen Agama RI, <em>op. cit., </em>h. 40 </span></p>
</div>
<div id="ftn40">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn40" href="#_ftnref40"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[40]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><em><span style="letter-spacing:0.4pt;">Ibid., </span></em><span style="letter-spacing:0.4pt;">h. 649 </span></p>
</div>
<div id="ftn41">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn41" href="#_ftnref41"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[41]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Yusuf Qardhawi, <em>op.cit.,</em> h. 260</span></p>
</div>
<div id="ftn42">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn42" href="#_ftnref42"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[42]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Nitrogen adalah gas yang pasif dan mandul. <em>Ibid.</em></span></p>
</div>
<div id="ftn43">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn43" href="#_ftnref43"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[43]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;"> Oksigen adalah gas yang aktif dan sangat penting bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. <em>Ibid,</em> h. 261.</span></p>
</div>
<div id="ftn44">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn44" href="#_ftnref44"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[44]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;"> ibid</span></p>
</div>
<div id="ftn45">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn45" href="#_ftnref45"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[45]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Lihat <em>ibid, </em>dan bandingkan dengan<em> </em>Muhammad Abdul Qadir Al-Faqqi, <em>Al-Bi’ah ; Masyakiluha wa Qadhayaha, op. cit.,</em> h. 52-69. </span></p>
</div>
<div id="ftn46">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn46" href="#_ftnref46"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[46]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Departemen Agama RI, <em>op. cit., </em>h. 392 </span></p>
</div>
<div id="ftn47">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn47" href="#_ftnref47"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[47]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Abdul Majid al-Najjar, <em>Qadhaya Al-Bi’ah min Manzhur Al-Islami,</em> yang disalin dari <em>Ilmu Bi’ah karya Ulya Hatukh dan Muhammad, Handani, </em>h. 92.</span></p>
</div>
<div id="ftn48">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn48" href="#_ftnref48"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[48]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Departemen Agama RI, <em>op. cit., </em>h. 861</span></p>
</div>
<div id="ftn49">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn49" href="#_ftnref49"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[49]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Ahmad, <em>Musnad Ahmad bin Hanbal</em> (2/268, 409, dan 518). Dan Ibnu Majah, <em>kitab Al-Adab</em> (3727)</span></p>
</div>
<div id="ftn50">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn50" href="#_ftnref50"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[50]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Departemen Agama RI, <em>op. cit., </em>h. 528 </span></p>
</div>
<div id="ftn51">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn51" href="#_ftnref51"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[51]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><em><span style="letter-spacing:0.4pt;">Sunan Abu Dawud, op. cit., kitab al-thaharah (24)</span></em><span style="letter-spacing:0.4pt;"></span></p>
</div>
<div id="ftn52">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn52" href="#_ftnref52"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[52]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><em><span style="letter-spacing:0.4pt;">Shahih al-Bukhari, op. cit., kitab al-thahara (232)</span></em></p>
</div>
<div id="ftn53">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:15.3pt;text-indent:39.95pt;line-height:12pt;"><a name="_ftn53" href="#_ftnref53"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[53]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Yusuf Qardhawi,<em> op.cit.,</em> h. 153</span></p>
</div>
<div id="ftn54">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.95pt;line-height:12pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.3pt;"><a name="_ftn54" href="#_ftnref54"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[54]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">HR. Ahmad bin Hanbal, <em>op. cit., </em>(6768) <em>Kitab MusnadMukatstsirin min Sahabat.</em></span></p>
</div>
<div id="ftn55">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn55" href="#_ftnref55"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[55]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Departemen Agama RI, <em>op. cit., </em>h. 955 </span></p>
</div>
<div id="ftn56">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn56" href="#_ftnref56"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[56]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Yusuf Qardhawi, <em>op.cit.,</em> h.235</span></p>
</div>
<div id="ftn57">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn57" href="#_ftnref57"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[57]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;"> M. Amin Abdullah, <em>op.cit</em>., h. 183</span></p>
</div>
<div id="ftn58">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn58" href="#_ftnref58"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[58]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="letter-spacing:0.4pt;">Departemen Agama RI, <em>op. cit., </em>h. 647 </span></p>
</div>
<div id="ftn59">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:39.9pt;line-height:13pt;margin:6pt 0 0.0001pt 15.4pt;"><a name="_ftn59" href="#_ftnref59"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="letter-spacing:0.4pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.4pt;">[59]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><em><span style="letter-spacing:0.4pt;">Ibid., </span></em><span style="letter-spacing:0.4pt;">h. 108</span></p>
</div>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/basnangsaid.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/basnangsaid.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/basnangsaid.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/basnangsaid.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/basnangsaid.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/basnangsaid.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/basnangsaid.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/basnangsaid.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/basnangsaid.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/basnangsaid.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/basnangsaid.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/basnangsaid.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/basnangsaid.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/basnangsaid.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/basnangsaid.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/basnangsaid.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=basnangsaid.wordpress.com&amp;blog=3495063&amp;post=7&amp;subd=basnangsaid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://basnangsaid.wordpress.com/2008/04/16/pelestarian-lingkungan-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e5a0d2479f21121265affa959c83d9b8?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">basnang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JENDER DALAM PERSPEKTIF HADIS</title>
		<link>http://basnangsaid.wordpress.com/2008/04/16/jender-dalam-perspektif-hadis/</link>
		<comments>http://basnangsaid.wordpress.com/2008/04/16/jender-dalam-perspektif-hadis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Apr 2008 04:09:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>basnang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://basnangsaid.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Islam memberikan penghargaan yang sama antara laki-laki dan perempuan. Islam sama sekali tidak mengandung sisi diskriminatif ajaran khususnya eksistensi kaum perempuan. Dalam berbagai hal, posisi laki dan perempuan penuh dengan keseimbangan yang masing-masing jenis itu bekerja berdasarkan proporsionalnya masing-masing. Tak terkait adil dan tidak adil, merugikan atau menguntungkan, semua bekerja atas tugas-tugas alamiah sesuai keadaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=basnangsaid.wordpress.com&amp;blog=3495063&amp;post=6&amp;subd=basnangsaid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Islam memberikan penghargaan yang sama antara laki-laki dan perempuan. Islam sama sekali tidak mengandung sisi diskriminatif ajaran khususnya eksistensi kaum perempuan. Dalam berbagai hal,<span> </span>posisi laki dan perempuan penuh dengan keseimbangan yang masing-masing jenis itu bekerja berdasarkan proporsionalnya masing-masing. Tak terkait adil dan tidak adil,<span> </span>merugikan atau menguntungkan, semua bekerja atas tugas-tugas alamiah sesuai keadaan dan kondisi fisik yang telah diciptakan Allah swt.</span><span id="more-6"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span> </span>Laki-laki yang dikodratkan memiliki tubuh atau jasmani yang kekar dan kuat membuat secara alamiah tugasnya mencari nafkah di luar rumah. Di luar itu, kaum laki-laki karena tubuhnya yang kuat dan keras tahan akan berbagai rintangan di tempat di mana mereka mencari nafkah. Lain perempuan yang dikodrati Allah dengan tubuh yang lembut sedikit lemah dan jasmani yang memiliki rahim sebagai tempat membuahi untuk kelangsungan generasi, secara alamianya harus berada di rumah menunggu sang suami memperoleh nafkah untuk dirinya dan anaknya tetapi tugas mereka adalah menjaga dan memelihara anak-anak hasil hubungan dengan suaminya dengan penuh kasih sayang. Tugas-tugas itu adalah tugas alamiah yang tetap mengikat masing-masing pihak tetapi tidak menghalangi masing-masing mereka untuk terjun ke dalam berbagai bidang di mana mereka juga telah diberi potensi oleh Tuhan untuk berkembang berdasarkan potensinya masing-masing.<span> </span>Maka tak ada jalan menghalangi perempuan memperoleh dan mencari hakekat kehidupan melalui tugas-tugas publik seperti pendidikan, politik dan lain-lain sebagaimana kaum laki-laki mencari dan berusaha memperoleh hal itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span> </span>Ajaran Islam yang<span> </span>selama ini oleh sebagian pendukung gerakan emansipasi perempuan dianggap bias gender dan tak berpihak perempuan sebenarnya menurut pakar jender, Prof.DR. Nasaruddin Umar, MA, harus ada kemampuan mengartikulasikan sejumlah ayat yang dinilai bias jender ke dalam lingkungan masyarakat kita, dengan melakukan penelaahan ulang secara kritis terhadap ayat-ayat Alquran.<span> </span>Prinsip-prinsip kesetaraan jender di dalam Alquran antara lain laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai hamba Tuhan yang mengemban amanah dan menerima perjanjian primordial dengan Tuhan.(Nasaruddin Umar; 2001)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span> </span>Selain itu, faktor budaya arab yang kemudian menjadi ajaran dan seolah-olah bagian dari syariat Islam. Padahal budaya patriarki itu sesungguhnya akan terproses berdasarkan perkembangan kemajuan umat manusia. Contoh konkrit pembagian harta warisan yang tampak sangat diskriminatif jika hanya meninjaunya dari sisi fisik ayat tanpa melihat latar belakang kondisi di mana dan kapan ayat tersebut turun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span> </span>Dalam penjelasan-penjelasan selanjutnya, khususnya hadis-hadis nabi Muhammad saw, justru banyak sekali sabda-sabda beliau yang memberi kedudukan yang sama antara laki-laki dan perempuan. Sangat berbeda dengan penafsiran ayat-ayat Alquran yang bias jendernya dalam berbagai hal. Misalnya, pembakuan tanda huruf, tanda baca, dan <em>qiraah</em>, pengertian kosa kata <em>mufradat</em>, penetapan rujukan kata ganti <em>dhamir</em>, penetapan batas pengecualiaan, penetapan arti huruf <em>atf</em>, struktur bahasa arab, terjemahan Alquran, metode tafsir, pengaruh riwayat-riwayat <em>israiliyyat</em>, dan pembukuan dan pembakuan kitab-kitab fiqih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Klasifikasi<span> </span>Hadis – Hadis Tentang Jender</span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:normal;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">Dalam kitab-kitab hadis, banyak sekali hadis-hadis yang ditemukan (mungkin) bias gender teapi tidak sedikit juga tampak keberpihakan yang kuat terhadap perempuan. Berikut kitab-kitab dan pasal-pasal yang memuat sejumlah qaul nabi tentang perempuan sebagai berikut :</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:27.8pt;text-indent:-18pt;line-height:normal;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><em><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">Sunan al-Turmuzi </span></em></span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">kitab <em>thaharah</em> memuat hadis nomor 105, Sunan <em>Abu Dawud</em> kitab <em>thaharah</em> hadis nomor 203, <em>Musnad Ahmad </em>pada <em>Baqy al-Anshar </em>hadis nomor 24999, 25761<em>, </em>dan dalam <em>Sunan al-Darimi </em>kitab <em>thaharah</em> hadis nomor 757, diperoleh hasil takhrij tentang perempuan mitra laki-laki</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:27.8pt;text-indent:-18pt;line-height:normal;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><em><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">Sunan<span> </span>Abu Dawud, </span></em></span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">kitab iman hadis nomor 114, dan Musnad Ahmad pada Musnad al-Qabail hadis nomor 26023, diperoleh hasil <em>takhrij</em> tentang perempuan bisa menjadi imam shalat.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:27.8pt;text-indent:-18pt;line-height:normal;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><em><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">Shahih Muslim, </span></em></span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">kitab Iman, hadis nomor 114, dan <em>Sunan Ibn Majah, </em>kitab <em>al</em>-<em>fitn</em> hadis nomor 3993, diperoleh hasil <em>takhrij</em> hadis tentang kelebihan laki-laki dan perempuan.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:27.8pt;text-indent:-18pt;line-height:normal;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><em><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">Shahih al-Bukhariy, </span></em></span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">kitab Anbiy</span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">ā</span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">&#8216;, hadis nomor 3048; dan kitab Nikah hadis nomor 4787; juga dalam <em>Shahih Muslim, </em>kitab al-Radha&#8217;, hadis nomor 2671, diperoleh hasil <em>takhrij</em> hadis tentang penciptaan perempuan dari tulang rusuk yang bengkok.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:27.8pt;text-indent:-18pt;line-height:normal;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;"><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><em><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">Shahih al-Bukhari, kitab al-Magazi </span></em></span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">hadis nomor 4073, kitab al-fitn hadis nomor 6570, <em>Sunan al-Nasai </em>kitab Adab al-Qadha hadis nomor 5293, Ahmad pada Musnad al-Basriyyin hadis nomor 19507, 19542, 19573, dan 19570 diperoleh hasil <em>takhrij</em> tentang kepemimpinan kaum perempuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Istilah Jender.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Pada pertengahan abad ke 20, banyak univeristas di Eropa dan Barat terutama di Amerika serikat,<span> </span>memunculkan peristilahan jender. Istilah itu kini telah merebak ke seantero dunia dengan banyaknya mahasiswa-mahasiswi yang menjadikannya sebagai obyek kajian.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:11.2pt;text-indent:36.4pt;line-height:normal;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">&#8220;Jender&#8221; berasal dari bahasa Inggris, <em>gender, </em>berarti &#8220;jenis kelamin&#8221;.(John M. Echols:1993).<span> </span>Dalam <em>Webster&#8217;s New World Dictionary, </em>disebutkan; <em>Gender the apparent disparity between man and women in values and behavior, </em>maksudnya bahwa jender diartikan sebagai &#8220;perbedaan dari segi nilai dan tingkah laku&#8221;(Victoria Neufeldt:1994). Dari definisi ini, dapat diketahui bahwa jender adalah suatu istilah untuk membedakan kaum laki-laki dan perempuan dalam aspek tertentu, misalnya sifat dasar dan tingkah laku, juga termasuk perbedaan dari segi &#8220;sex&#8221;, jenis kelamin secara biologis. Karena itu, penting sekali memahami terlebih dahulu perbedaan antara jenis kelamin (sex) dan gender. Yang dimaksud jenis kelamin, adalah perbedaan biologis hormonal dan patologis antara perempuan dan laki-laki, misalnya laki-laki memiliki penis, testis, dan sperma, sedangkan perempuan mempunyai vagina, payudara, ovum, dan rahim.(Sriherawati;2003).<span> </span>Jadi laki-laki dan perempuan secara biologis berbeda, dan masing-masing mempunyai keterbatasan dan kelebihan biologis tertentu. </span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">Misalnya, perempuan bisa mengandung, melahirkan, dan menyusui bayinya, sementara laki-laki memproduksi sperma. Perbedaan biologis tersebut bersifat kodrati, atau pemberian Tuhan dan tidak seorangpun dapat mengubahnya.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:11.2pt;text-indent:36.4pt;line-height:normal;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">Adapun yang dimaksud jender, adalah seperangkat sikap, peran, tanggungjawab, fungsi, hak, dan perilaku melekat pada diri laki-laki dan perempuan akibat bentukan budaya atau lingkungan masyarakat tempat manusia itu berada, tumbuh dan dibesarkan.(Siti Musda Mulia; 2003). Sebagai contoh, laki-laki sering digambarkan sebagai manusia kuat, tegar, dan perkasa, sementara perempuan digambarkan figur yang lemah, rapuh, dan lembut-gemulai. Gambaran seperti ini, sebenarnya wajar sesuai realita namun merupakan hal yang naif bila dikembangkan ke wilayah pelecehan, dan ketidakadilan. </span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">Misalnya karena laki-laki kuat, maka ia harus menang, dan karena perempuan lemah, maka ia harus terkalahkan. Karena laki-laki tegar dan perkasa, maka ia harus menjadi pemimpin, dan karena perempuan rapuh, maka ia harus dipimpin. Padahal, sesuai dengan realita juga, tidak selama-nya orang kuat fisik menang secara intelektual, dan tidak selamanya orang yang tegar dan perkasa bisa menjadi pemimpin. Justeru karena ketegaran, dan keperkasaaan sering digunakan orang untuk berlaku kejam dan otoriter dalam kepemimpinanya, dan hal ini seperti tidak sejalan dengan prinsip-prinsip kepemimpinan.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:11.2pt;text-indent:36.4pt;line-height:normal;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">Dengan demikian, konkritnya, jender didefinisikan sebagai interpretasi mental dan kultural terhadap perbedaan kelamin, yakni laki-laki dan perempuan. Jender juga biasa didefinisikan sebagai konsep pembagian kerja yang dianggap tepat bagi laki-laki dan perempuan sesuai situasi, dan kondisi budaya.(Nasaruddin Umar;1999). Sejalan dengan itu, jender bisa juga dirumuskan sebagai suatu konsep yang mengacu pada peran-peran dan tanggungjawab laki-laki dan perempuan sebagai hasil konstruksi sosial yang dapat diubah sesuai dengan perubahan zaman.(Musda mulia:</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:11.2pt;text-indent:36.4pt;line-height:normal;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">Dalam perspektif kondisi budaya, dan kondisi sosial kaum perempuan di masa sebelum dan sesudah Nabi saw, berbeda. Bahkan perbedaan itu sampai masa kini semakin jauh. </span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">Rekaman <em>sense </em>sejarah sebelum kedatangan Nabi saw, kaum perempuan ditempatkan dalam posisi memprihatinkan. Mereka disekap, diperjualbelikan, sementara yang sudah berumah tangga, sepenuhnya berada dalam kekuasaan suaminya. Mereka tidak memiliki hak-hak sipil, termasuk tidak memiliki hak waris. Kondisi yang demikian, menyebabkan setelah Nabi saw datang, risalahnya merumuskan konsep jender sebagaimana yang termaktub hadis-hadisnya yang akan ditakhrij dan disyarah secara tematik. Namun sebelum hadis-hadis tersebut ditakhrij dan disyarah, penulis perlu rumuskan bahwa jender yang dimaksud dalam kajian ini, adalah mengandung interpretasi persamaan kedudukan antara perempuan dan laki-laki dalam melakukan segala aktivitas sesuai dengan kodratnya masing-masing.</span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:11.35pt;text-align:justify;text-indent:32.3pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Lebih awal perlu juga penulis tegaskan bahwa, memang hadis mengakui adanya perbedaan <em>(distinction) </em>antara lelaki dengan perempuan, akan tetapi perbedaan itu bukanlah pembedaan <em>(discrimination) </em>yang menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain. Perbedaan yang dimaksud untuk mendukung misi pokok Islam, yaitu terciptanya hubungan harmonis yang didasari kasih sayang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span> </span></span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Kesetaraan kaum laki-laki dengan perempuan sebenarnya sudah sering dikumandangkan oleh aktifis dan cendekiawan mauslim/muslimah. Di Mesir seorang Qasim Amin telah mendendangkan perlunya kesetaraan tanpa melihat jenis kelamin ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Menurut Qasim Amin (1863-1908), murid Muhammd Abduh, bahwa masyarakat Islam tak akan pernah maju tanpa mengikutsertakan perempuan sebagai bagian integral dalam masyarakat. Perempuan harus berperan membangun suatu tatanan kehidupan yang lebih baik. Menurut Qasim bahwa kemunduran umat Islam karena kaum perempuannya tidak mendapatkan pendidikan yang memadai.<span> </span>Seorang wanita tak akan mungkin melakukan tugas-tugas kehidupannya<span> </span>di lingkungan sosial jika tak dibekali dengan pendidikan. Oleh sebab itu, perempuan harus diberi hak pendidikan, minimal pendidikan dasar agar wanita dapat berperan banyak di masyarakat di samping mendidik putera-puterinya.(Qasim Amin;1970)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Dalam studi sosiologi, jender didefenisikan sebagai peranan yang harus dijalankan oleh wanita dan pria yang terbentuk secara sosial.(Heizer;1991). Pembicaraan mengenai jender tergambar bahwa pembedaan berdasarkan jender itu berbeda dari seks (jenis kelamin). Pembedaan jenis kelamin hanya sekadar menunjuk pada hal-hal yang berkaitan dengan fungsi biologis perempuan dan laki-laki, maka pembedaan jender menunjuk pada hal-hal yang berkaitan dengan nilai-nilai sosial suatu masyarakat yaitu yang mencakup apa yang seharusnya dilakukan oleh seseorang yang berjenis kelamin laki-laki atau perempuan.(Zohrah Nazaruddin;2004)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Kemitraan tidak selamanya ditafsirkan dengan persamaan dalam keserupaan, tetapi pengertian lain adalah persamaan dalam kerjasama dan kesejajaran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Hadis-hadis yang(mungkin) bias jender.</span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:13cm;text-indent:-13cm;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:13cm;text-indent:-13cm;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:13cm;text-indent:-13cm;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Hadis yang tak mendukung perempuan menjadi pemimpin</span></strong><span style="font-size:15pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;" dir="rtl"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Dalam hadis disebutkan artinya : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Usman bin Haitsan menceritakan kepada kami, Auf menceritakan kepada kami dari al-Hasan al Basri) dari Abu Bakrah, ia mengatakan, telah menyadarkan aku melalui kalimat-kalimat yang aku dengar dari Rasulullah saw; ketika aku hampir saja ikut terlibat dalam perang jamal (unta). Yaitu ketika disampaikan kepada Nabi Muhammad saw, bahwa bangsa Persia telah mengangkat anak perempuan Kisra sebagai penguasa (ratu) mereka. Pada saat itu nabi mengatakan: tidak akan pernah beruntung bangsa yang diperintah oleh seorang perempuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span> </span>Terhadap hadis ini, oleh Ibnu hajar (w.852) mengatakan bahwa hadis tersebut melengkapi kisah Kisrah yang telah merobek-robek surat nabi Muhammad saw. Pada suatu saat ia dibunuh oleh anak laki-lakinya. Anak itu kemudian juga membunuh saudara-saudaranya. Ketika dia mati diracun, kekuasaan kerajaan akhirnya berada di tangan anak perempuannya. Bahrah binti Syiruyah Ibn Kisrah. Tidak lama kemudian kekuasaannya hancur berantakan, sebagaimana doa Nabi saw. (Zohrah Nasaruddin: 2004) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span> </span>Hadis ini jelas diungkapkan dalam kerangka pemberitahuan, sebuah informasi yang disampaikan Nabi saw semata, dan bukan kerangka legitimasi hukum. Tegasnya hadis ini tidak memiliki relevansi hukum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span> </span>Abdul Al-Qadir Abu Faris mengatakan bahwa hadis ini tidak hanya berlaku bagi bangsa Persia di mana ia diturunkan, tetapi juga berlaku bagi semua bangsa yang dipimpin perempuan. Jadi, yang harus menjadi pertimbangan adalah bunyi hadis ini yang menunjukkan arti umum (general), bukan pertimbangan konteks atau sebab, sesuai dengan kaidah fiqih :<em> “al-ibrah bi umum al-lafz la bikhusushi al sabab”(Qadir Faris;1984) </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span> </span>Hadis ini sesungguhnya tak dapat dipertahankan jika dihadapkan dalam fakta-fakta sejarah yang ada.<span> </span>Sejumlah perempuan telah membuktikan kemampuannya memimpin bangsanya dengan kesuksesan yang gemilang. Sebelum Islam, dikenal sosok dan tokoh hartawati perempuan, Ratu Bulqis, penguasa negeri Saba, seperti yang dikisahkan Alquran. Kepemimpinannya dikenal sukses gemilang, Negara yang aman, makmur, dan sentosa. </span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Kesuksesan ini antara lain karena Balqis mampu mengatur negaranya dengan sikap dan pandangan demokratis. Indira Gandhi, Margareth Tatcher, Srimavo Bandaranake, Benazir Butto, Syekh Hazina Zia adalah beberapa contoh saja dari pemimpin bangsa di masa modern ini yang cukup sukses memimpin dengan jenis kelamin perempuan. Sebaliknya terdapat beberapa Negara dengan kepala negaranya laki-laki tetapi gagal menjalankan pemerintahan. </span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Kesuksesan dan kegagalan sebuah kepemimpinan tak ditentukan oleh jenis kelamin. Tetapi lebih pada sistem dan kemampuan yang dimiliki. Kemampuannya itu erat kaitannya dengan bawahan 3 kecerdasan (emosional, intelektual, dan spiritual) dan atau salah satunya yang dibawa oleh manusia, entah laki-laki atau perempuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span> </span>Dengan demikian, hadis di atas harus dipahami dari sisi esensinya dan tidak bisa digeneralisir, tetapi lebih bersifat spesifik untuk kasus bangsa Persia pada saat itu. Yang paling penting dalam kepemimpinan adalah kemampuan dan intelektualitas, dua hal yang dapat dimiliki oleh siap saja, laki-laki atau perempuan. Kaidah<span> </span><em>“al-ibrah bi umum al-lafz la bikhusushi al sabab”</em>dapat dijadikan dasar hukum sepanjang esensinya tetap.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span> </span>Lebih dari itu, untuk persoalan-persoalan yang menyangkut kemasyarakatan dan politik, maka yang paling penting adalah faktor kemaslahatan. Ibn Qayyim Al-Juaziyah (w. 751 H), mengutip ucapan Ibnu Uqail dengan tegas mengatakan : “ dalam urusan-urusan politik yang diperlukan adalah cara-cara yang lebih mendekati kemashlahatan masyarakat dan jauh dari ke<em>mafsadatan, </em>meskipun tak pernah dilakukan oleh rasulullah saw tidak ada aturan wahyu Tuhan <em>(al-siyasah ma kana fi’lan yakuma<span> </span>maahu al-nas<span> </span>aqrab ila al-shalah wa ab’ad an fasad wa in lam yada’hu al rasul saw. Wa nazala bihi wahyun.</em> Kaidah yang benar dalam hal ini adalah<span> </span><em>la siyasta illa wa wafaqa al-syar’ah</em> (yang diucapkan oleh syara/agama). Menurut Ibn Qayyim cara berpikir yang menggunakan kaidah yang terakhir sedemikian rupa sehingga agama tidak lagi mampu memberikan kemaslahatan bagi manusia.(qayyim Al-jauziyah) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span> </span>Kaidah fiqih menyatakan dengan jelas mengenai hal ini <em>“tasharruf al-imam ‘ala al-raiyyah manuthun bi al-maslahah, </em>(Tindakan penguasa atas rakyatnya harus didasarkan atas kemaslahatan mereka). Kemaslahatan dalam kekuasaan umum/publik antara lain dapat ditegaskan melalui cara-cara kepemimpinan demokratis dan berdasarkan konstitusi, serta perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia, bukan kekuasaan tirani dan otoriter. Di sini sekali lagi perlu dinyatakan bahwa kepemimpinan publik tak ada kaitannya dengan urusan jenis kelamin, melainkan pada kualifikasi dan sistem yang mendukungnya.(said Agil Husin AlMunawar;2004) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span> </span>Ada kelompok yang menawarkan kebolehan perempuan memimpin suatu negara apabila sudah sampai kepada batas darurat karena tak ada lagi laki-laki yang mampu menduduki jabatan tersebut. Apakah kita sudah berada di posisi sedarurat itu?. Yang perlu diangkat ke permukaan itu adalah kemampuan dan intelektualitas mereka yang dicalonkan, apakah mampu atau tidak memangku amanah itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span> </span>Pertanyaan selanjutnya, apakah perempuan memang relatif banyak kendala tampil menduduki jabatan puncak, apalagi presiden ?. Banyak penelitian yang hasilnya di mana realitas emansipasi lebih dilihat dari efesiensi dan produktifitas kaum perempuan yang tetap tak seoptimal kaum laki-laki. Itulah sebabnya, Amerika Serikat tak pernah sekalipun dipimpin oleh perempuan karena berpikir realitas. Sedangkan Negara-negara berkembang dibiarkan dipimpin oleh perempuan. Mungkin hal itu kesenjangan AS untuk dengan mudah mendikte negara-negara berkembang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span> </span>Dalam sejarah bangsa Indoesia, dari NAD sampai Papua juga belum ada kerajaan dipimpin oleh seorang perempuan kecuali Aceh Utara, itupun kacau dan Puteri Sina di Jepara itupun hanya legenda. Dalam fakta-fakta selanjutnya, Indonesia dipimpin oleh seorang perempuan. Beberapa Bupati dan wakil Bupati, malah Gubernur Banten seorang perempuan yang dipilih secara langsung (PILKADA) oleh pemilih yang dominan laki-laki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Hadis perempuan berasal dari tulang rusuk yang bengkok</span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:6pt 13.3pt 0.0001pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">Terjemah Hadis:</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:0 2.25pt 0.0001pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Abu Kuraib dan Musa bin Hizam menceritakan kepada kami, berkata: Husain bin Ali menceritakan kepada kami, dari Ali, dari Zaidah, dari Maysaarah al-Asyja&#8217;iy, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah ra, berkata: Rasulullah saw bersabda: Saling berpesanlah kepada kaum perempuan, karena sesungguhnya perempuan diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, dan karena itu perempuan seperti tulang rusuk, jika kalian mencoba meluruskannya ia akan patah. Tetapi jika kalian membiarkan-nya maka kalian akan menikmatinya dengan tetap dalam bengkok, maka saling berwasiatlah kalian atas perempuan. (HR. al-Bukhari</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:2.25pt;text-align:justify;text-indent:0;line-height:normal;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" dir="ltr"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Hadis ini menggambarkan betapa perempuan diciptakan dari asal ciptaan yang negatif (bengkok). Jikalau kemudian dalam kultur masyarakat perempuan selalu digambarkan sebagai jenis kelamin nomor 2 dari laki-laki maka hal itu sebagai kelanjutan atas pemahaman-pemahaman yang terlanjur memojokkan perempuan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Kepercayaan diri seorang perempuan mestinya terbentuk sejak lahir, karena sejak awal tidak pernah dibebani dengan dosa warisan seperti dalam tradisi Yahudi-Kristen. Otonomi perempuan dalam tradisi Islam sejak awal terlihat begitu kuat. Perjanjian, ba’iat, sumpah, dan nazar yang dilakukannya mengikat dengan sendirinya sebagaimana halnya laki-laki. Berbeda dengan tradisi Yahudi-Kristen, seorang perempuan hidup di dalam pangkuan ayahnya atau suaminya, maka perjanjian, sumpah, dan nazarnya dapat digugurkan oleh ayah atau suami yang bersangkutan.(Nasaruddin Umar;2001)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Hadis di atas masih kontroversial mengenai asal kejadian perempuan. Jika membaca sepintas lalu betapa banyak ketimpangan yang memojokkan perempuan yang seharusnya tidak demikian. Akan tetapi, jika disimak secara mendalam dengan menggunakan metode analisis semantik, semiotik, hermeneutik, dan teori sabab nuzul, maka dapat dipahami hadis-hadis atau ayat itu merupakan suatu proses mewujudkan keadilan secara konstruktif di dalam masyarakat. Semua ayat-ayat dan hadis-hadis yang berhubungan dengan masalah-masalah tersebut di atas ternyata <em>sabab nuzul</em> dan <em>sabab wurud</em>nya, untuk menanggapi kasus-kasus yang terjadi di masa Rasul. Ini artinya ayat-ayat atau hadis-hadis<span> </span>tersebut bersifat khusus.(Nasaruddin Umar;2001)</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Hadis tentang Perempuan Minim agama dan akal</span></strong><strong><span style="font-size:15pt;font-family:&quot;"></span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:0 13.9pt 0.0001pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">Artinya:</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:0 -0.55pt 0.0001pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">Muhammad bin Rumhi bin al-Muhajir al-Mishriyyu menceritakan kepada kami, al-Laits memberitakan kepada kami, dari Ibn al-Hadi, dari Abdullah bin Dinar, dari Abdillah bin Umar, dari Rasulullah saw bersabda: Wahai kaum perempuan ! bersedekahlah kalian dan per-bayaklah istigfar. Karena, aku melihat kalian lebih ramai menjadi penghuni neraka. Seorang perempuan yang cukup pintar di antara mereka bertanya, wahai Rasulullah, kenapa kami kaum perempuan yang lebih ramai menjadi penghuni neraka? Rasulullah bersabda: Kalian banyak mengutuk dan mengingkari suami. Aku tidak melihat yang kekurangan akal dan agama dari pemiliki pemahaman lebih daripada golongan kalian. Perempuan itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah Apakah maksud kekurangan akal dan agama itu. Rasulullah saw bersabda: maksud kekurangan akal ialah penyaksian dua orang perempuan sama dengan penyaksian seorang laki-laki. Inilah yang dikatakan kekurangan akal. Begitu juga perempuan tidak mengerjakan sembahyang pada malam-malam yang dilaluinya kemudian berbuka pada bulan ramadhan karena haid, maka inilah yang dikatakan kekurangan agama.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:30.9pt;line-height:normal;margin:0 -1pt 0.0001pt 13.9pt;"><span style="font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Sebagian besar literatur Islam menganggap kekurangan itu sebagai sesuatu yang melekat secara alamiah pada diri seseorang perempuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Tetapi sebagian ulama, di antaranya Abdul Halim Muhammad Abu Syukkah berpendapat bahwa kekurangan di sini bukanlah kekurangan yang bersifat fitri (alami dan mutlak). Akan tetapi kekurangan yang dimaksud adalah kekurangan relatif, yaitu kekurangan yang diakibatkan oleh hal-hal seperti siklus masa haid, nifas, ataupun masa-masa hamil. Kekurangan ini tak mengurangi kemampuan mereka dalam melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh laki-laki.(Tahriiru al-mar’ah, juz 1).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Dengan demikian hadis ini tidak bertentangan dengan kenyataan bahwa banyak perempuan yang mendapat anugerah Allah berupa kelebihan-kelebihan di berbagai bidang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Perempuan dapat saja mengungguli laki-laki. Aisyah ra mengungguli para sahabat dalam menghafal hadis Rasuullah saw yang telah dilupakan oleh sebagian sahabat laki-laki. Ia juga berperan aktif dalam perang Jamal (perang unta) sebagai panglima pasukannya. Dalam periwayatan hadis juga tercatat sejumlah perempuan ahli hadis, baik dari generasi sahabat, tabi’in, maupun sesudahnya. Sejarah juga mencatat beberapa nama perempuan yang menangani urusan –urusan publik bersama laki-laki. Umar bin Khattab pernah mengangkat seorang perempuan bernama al-syifa untuk memangku jabatan sebagai akuntan pasar madinah. Dalam hal ini, argumentasi yang paling jelas dan kuat adalah keterangan Alquran melalui bahasa burung Hud-Hud, tentang kerajaan Ratu Bulqis, sebagaimana dalam QS (27) :32 :</span><span style="font-size:15pt;font-family:&quot;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Dengan demikian, kekurangan akal dan agama tidak tergantung pada jenis kelamin, tetapi pada kemampuan seseorang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Dewasa ini sudah banyak perempuan yang pandai, karena<span> </span>mereka mempunyai kesempatan yang luas untuk mencari ilmu. Ini sejalan dengan hadis nabi yang berbunyi: menuntut ilmu wajib bagi laki-laki dan perempuan.</span><span style="font-size:15pt;" dir="rtl"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Selain itu, proses modernisasi yang kian canggih, telah melahirkan berbagai kebutuhan yang mendesak seseorang untuk dipenuhi. Orang harus bekerja keras, sehingga banyak laki-laki yang tak sempat mengajar istrinya. </span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Bahkan tak sedikit yang justru tidak mengerti tentang masalah agama. Kenyataan ini membuat perempuan tidak bisa lagi tinggal diam menunggu suaminya memenuhi seluruh kebutuhan keluarganya dan mengandalkan pengajaran agama sepenuhnya pada suami.(ibid 32)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Selanjutnya penjelasan yang menarik disampaikan oleh Quraish Shihab dalam bukunya untaian <em>Permata Untuk Anak</em>, beliau mengatakan bahwa sekalipun Alquran menggarisbawahi bahwa tugas dan tanggungjawab dalam memenuhi kebutuhan keluarga terletak di pundak bapak, tetapi ini bukan berarti ibu boleh terlepas tangan sama sekali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Pada zaman nabi saw, para ibu aktif dalam berbagai bidang pekerjaan, mulai dari merias pengantin, bidan, perawat, bahkan istri nabi yang pertama Khadijah Binti Khuwailid, tercatat sebagai orang yang sukses dalam bidang perdagangan. Dan Raithah istri Abdullah bin Mas’ud seorang sahabat Nabi, bekerja keras untuk keluarga, karena suami dan anaknya tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarga. Ini berarti suami dan itri saling bahu membahu dan saling melengkapi, sesuai firman Tuhan dalam QS (1) : 187.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">H adis-Hadis yang Pro Jender </span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:0 12.45pt 0.0001pt 0;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">Hadis tentang Perempuan Bisa Menjadi Imam Shalat</span></strong><span style="font-size:15pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;" dir="rtl"></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:0 12.45pt 0.0001pt 12.6pt;"><span style="font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:0 12.45pt 0.0001pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">Terjemah Hadis</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:0 1.55pt 0.0001pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">Abu Nu&#8217;aim telah menceritakan kepada kami, berkata: al-Walid menceritakan kepada kami, berkata: Nenekku telah menyampaikan kepadaku, dari Ummu Waraqah binti Abdullah bin al-Haris al-Anshariy dan ia telah melakukan kodifikasi Alquran, dan Rasulullah saw. telah memerintahkan untuk mengimami keluarganya, ia mempunyai seorang muazin dan ia (Ummu Waraqah) menjadi imam terhadap anggota keluarganya.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:35.4pt;line-height:normal;margin:0 -1pt 0.0001pt 12.6pt;"><span style="font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:35.4pt;line-height:normal;margin:0 -1pt 0.0001pt 12.6pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">Masyarakat pada umumnya telah memahami bahwa kaum perempuan tidak bisa menjadi imam shalat, dan memang tentang persoalan tidak populernya perempuan sebagai imam di antara kalangan laki-laki disebabkan oleh adanya riwayat lain yang melarangan perempuan menjadi imam, atau karena tradisi keagamaan dan kepercayaan masyarakat di kawasan Timur Tengah tidak mentolerir perempuan sebagai pemimpin ritus keagamaan. </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:35.4pt;line-height:normal;margin:0 -1pt 0.0001pt 12.6pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">Namun demikian, bila hadis di atas dipahami baik secara tekstual maupun kontekstual, ternyata kaum perempuan bisa menjadi imam shalat asalkan di lingkungan keluarganya, di rumah tangganya dan anak-anaknya yang menjadi makmumnya. Berkenaan dengan itu, maka Nabi saw sejak awal terlihat lebih mengutamakan pertimbangan rasional dan profesional ketimbang pertibangan emosional dan tradisional dalam menjalankan misinya. Nabi saw. juga sering mempercayakan sesuatu kepada perempuan yang menurut adat tradisi Arab tidak lazim, seperti mempercayakan Rabi bin Mu&#8217;awwizh dan Ummu Athiyyah sebagai perawat korban yang luka dalam peperangan, di samping bertugas sebagai juru masak di medan perang.(AlAbadi,awn al ma’bud). Demikian pula, seorang perempuan bernama Ummu Waraqah yang disebutkan dalam hadis tadi, ternyata diperintahkan menjadi imam, oleh sebab alasan tertentu, dan memenuhi persyaratan menjadi imam. Sama halnnya dengan kaum laki-laki, memiliki persyaratan tertentu sehingga ia dapat diangkat menjadi imam.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:35.4pt;line-height:normal;margin:0 -1pt 0.0001pt 12.6pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">Ummu Qaraqah binti Abdullah bin al-Haris yang disebut dalam hadis, adalah sebagai salah seorang sahabat perempuan yang termasuk gigih mempertahankan Islam, dan selalu mau ikut dalam peperangan. Dalam sejarah diinformasikan bahwa khusus pada perang Badar, Nabi saw. tidak mengizinkannya ikut, dan ia disuruh untuk tetap tinggal dirumahnya, dan dirumahnya terdapat anak-anak kecil dan orang tua sepu. Di antara mereka itulah ia dikabarkan memimpin shalat.</span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></span><a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> Di sini dipahami bahwa seorang perempuan dalam kondisi tertentu bisa menjadi menjadi imam, sebagaimana kaum laki-laki.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;line-height:normal;margin:6pt 12.45pt 0.0001pt 0;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">Hadis tentang Perempuan Mitra Laki-Laki</span></strong><span style="font-size:15pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;" dir="rtl"></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:-0.7pt;line-height:normal;margin:0 12.45pt 0.0001pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">Terjemah Hadis</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:-0.55pt;line-height:normal;margin:0 0.15pt 0.0001pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">Qutaybah bin Said menceritakan kepada kami, Hammad bin Khalid al-Khayyat menceritakan kepada kami, Abdullah bin al-Umariy menceritakan kepada kami, dari Ubaidullah, dari al-Qasim, dari Asiyah, berkata, Rasulullah ditanya oleh seorang laki-laki yang telah basah (keluar mani) lalu tidak menyebut apakah ia sudah bermimpi, lalu dia bertanya: hendakkah mandi seorang laki-laki walaupun dalam mimpinya ia tidak melihat sesuatu yang basah (air mani). Nabi bersabda: tidak usah mandi, lalu bertanya pula Ummu Sulaim tentang perempuan yang begitu, apakah juga demikian? Nabi saw bersabda:<span> </span>Nabi saw,<span> </span>&#8220;ya&#8221;, (tidak usah mandi) dan sesungguhnya perempuan itu adalah mitra laki-laki.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:36pt;line-height:normal;margin:0 0.3pt 0.0001pt 11.9pt;"><span style="font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:33.1pt;line-height:normal;margin:0 0.3pt 0.0001pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">Hadis di atas, menjelaskan bahwa kaum perempuan adalah mitra laki-laki dalam segala hal, dan kedua jenis kelamin ini saling mendukung dalam memainkan perannya masing-masing. M. Quraish Shihab berpendapat bahwa perempuan adalah <em>syaqāiq ar-rijāl, </em>bisa berarti<em> </em>&#8220;saudara kandung laki-laki&#8221; sehingga kedudukan serta hak-haknya hampir dapat dikatakan sama.(Quraish Shihab;1996).</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:33.1pt;line-height:normal;margin:0 0.3pt 0.0001pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;"><span> </span>Kalaupun ada yang membedakan, maka itu adalah akibat dari fungsi dan tugas-tugas utama yang dibebankan Allah kepada masing-masing jenis kelamin, sehingga perbedaan yang ada tidak mengakibatkan yang satu memiliki kelebihan di atas yang lain. Kelihatannya, M. Quraish Shihab<span> </span>mendasarkan pendapatnya ini pada QS. Ali Imran: 195 yaitu : <em>“</em>Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan amalan orang-orang yang beramal, baik laki-laki maupun perempuan<em>.…” </em>di mana ayat ini adalah usaha Alqur’an untuk mengikis habis segala pandangan yang membedakan laki-laki dan perempuan, khususnya dalam bidang kemitraan dan masalah sosial kemanusiaan.(Quraish Shihab;1996) </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:0;text-indent:36.4pt;line-height:normal;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;letter-spacing:0.2pt;">Terkait dengan pejelasan di atas, jelaslah bahwa hadis tadi mengisyarakan kesetaraan jender yang ideal dan memberi ketegasan bahwa kerjasama antara laki-laki dan perempuan sangat penting. Prestasi yang diraih seorang laki-laki besar kemungkinan karena adanya dukungan dari kaum perempuan, dan demikian pula sebaliknya perempuan berhasil karena mendapat dukungan dari laki-laki. Itu berarti bahwa perempuan sebagai mitra laki-laki tetap akan memperoleh kesempatan yang sama meraih prestasi optimal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Kesetaraan Jender Sebagai Upaya Pembebasan Perempuan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span> </span>Islam sejak awal ditargetkan sebagai agama pembebasan, terutama pembebasan terhadap kaum perempuan. Bisa dibayangkan, bagaimana masyarakat Arab yang misoginis dan dikenal sering membunuh anak perempuan, tiba-tiba diperintah <span> </span>melakukan pesta syukuran (‘aqiqah) atas kelahiran anak perempuan, meskipun baru sebatas seekor kambing untuk anak perempuan dan dua ekor bagi anak laki-laki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span> </span>Islam sejak awal ditargetkan sebagai agama pembebasan, terutama pembebasan terhadap kaum perempuan. Bisa dibayangkan, bagaimana masyarakat Arab yang misoginis dan dikenal sering membunuh anak perempuan, tiba-tiba diperintah <span> </span>melakukan pesta syukuran (‘aqiqah) atas kelahiran anak perempuan, meskipun baru sebatas seekor kambing untuk anak perempuan dan dua ekor bagi anak laki-laki.(Nasaruddin Umar;2001)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span> </span>Bagaimana suatu masyarakat yang tidak mengenal konsep ahli waris dan saksi perempuan tiba-tiba diberi hak waris dan hak persaksian, meskipun baru dalam batas satu berbanding dua untuk anak laki-laki. Perempuan yang mati terbunuh <span> </span>tiba-tiba harus juga mendapatkan bagian dari denda (diyat), meskipun masih sebatas seperdua dari yang diperoleh laki-laki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span> </span>Bagaimana perempuan yang tadinya dimitoskan sebagai “pelengkap” keinginan laki-laki (Adam) tiba-tiba diakui setara di depan Allah dan mempunyai hak dan kewajiban yang sama sebagai penghuni syurga (Q.S. al-Baqarah, 2:35). Bagaimana perempuan (Hawa) dicitrakan sebagai penggoda (temptator) laki-laki (Adam) tiba-tiba dibersihkan namanya dengan keterangan bahwa yang terlibat dalam dosa <span> </span>kosmis adalah kedua-duanya (Q.S. al-A&#8217;raf, 7:20). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span> </span>Islam adalah agama ketuhanan sekaligus agama kemanusiaan dan kemasyarakatan (Q.S.Ali &#8216;Imran, 3:112). Dalam pandangan Islam, manusia mempunyai dua kapasitas, yaitu sebagai hamba (‘abid) dan sebagai representasi Tuhan (khalifah), tanpa membedakan jenis kelamin, etnik, dan warna kulit (Q.S. al-Hujrat, 49:13). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span> </span>Kualitas kesalehan tidak hanya diperoleh melalui upaya pensucian diri (riyadlah nafsiyyah) melainkan juga kepedulian terhadap penderitaan orang lain (Q.S.Al-Ma&#8217;un, 107:1-7). Islam sejak awal menegaskan bahwa diskriminasi peran <span> </span>dan relasi jender adalah salahsatu pelanggaran hak asasi manusia yang harus dihapus (Q.S.al-Nisa&#8217;, 4:75)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span> </span>Islam memerintahkan menusia untuk memperhatikan konsep keseimbangan, keserasian, keselarasan, keutuhan; baik sesama umat manusia maupun dengan lingkungannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span> </span>Konsep relasi jender dalam Islam lebih dari sekedar mengatur keadilan jender dalam masyarakat, tetapi secara teologis dan teleologis mengatur pola relasi mikrokosmos (manusia), makrokosmos (alam), dan Tuhan. Hanya dengan demikian manusia dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah, dan hanya khalifah sukses <span> </span>yang dapat mencapai derajat abid sesungguhnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span> </span>Islam memperkenalkan konsep relasi jender yang mengacu kepada ayat-ayat substantif yang sekaligus menjadi tujuan umum syari&#8217;ah (maqashid al-syari&#8217;ah), <span> </span>antara lain: mewujudkan keadilan dan kebajikan (Q.S.al-Nahl, 16:90), keamanan <span> </span>dan ketenteraman (Q.S.Q.S.al-Nisa&#8217;, 4:58), dan menyeru kepada kebaikan dan mencegah kejahatan (Q.S.Ali &#8216;Imran, 3:104). </span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Ayat-ayat ini dijadikan kerangka dalam menganalisa relasi jender dalam Alquran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span> </span>Laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam menjalankan peran khalifah dan hamba. Soal peran sosial dalam masyarakat, tidak ditemukan ayat atau hadis yang melarang kaum perempuan aktif di dalamnya. Sebaliknya Alquran dan hadis banyak mengisyaratkan kebolehan perempuan aktif menekuni berbagai profesi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span> </span>Pada awal-awal sejarah Islam, kaum perempuan memperoleh kemerdekaan dan suasana batin yang cerah. Rasa percaya diri mereka semakin kuat sehingga di antara mereka mencatat prestasi gemilang, bukan saja di dalam sektor domestik tetapi <span> </span>juga di sektor publik. Sayang sekali kenyataan seperti ini tidak berlangsung lama karena banyak faktor. Antara lain, semakin berkembangnya dunia Islam sampai <span> </span>kepada pusat-pusat kerajaan yang bercorak misoginis seperti Damaskus, Bagdad dan Persia. Di samping itu, unifikasi dan kodifikasi kitab-kitab hadis, tafsir, dan fikih, yang banyak dipengaruhi oleh budaya lokal, langsung atau tidak langsung mempunyai andil di dalam memberikan pembatasan hak dan gerak kaum perempuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span> </span>Pada saat bersamaan, secara simultan berlangsung politik antropologi untuk <span> </span>melanggengkan tradisi patriaki yang menguntungkan kaum laki-laki. Berbagai nilai diarahkan dan digunakan untuk mempertahankan keberadaan pola relasi jender yang <span> </span>berakar dalam masyarakat. Karena hal tersebut berlangsung cukup lama, maka pola <span> </span>itu mengendap di alam bawah sadar masyarakat, seolah-olah pola relasi jender adalah kodrat (Arab: qudrah berarti ditentukan Tuhan). Bertambah kuat lagi setelah pola relasi kuasa (power relations) menjadi subsistem dalam masyarakat modern-kapitalis, yang kemudian melahirkan masyarakat new patriarchy.(Nasaruddin Umar;2001)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span> </span>Semakin kuat pola relasi kuasa semakin besar pula ketimpangan peran jender di dalam masyarakat, karena seseorang akan diukur berdasarkan nilai produktifitasnya. Dengan alasan faktor reproduksi, maka produktifitas perempuan <span> </span>dianggap tidak semaksimal dengan laki-laki. Perempuan diklaim sebagai komunitas reproduksi, yang lebih tepat mengambil peran domestik, dan laki-laki diklaim<span> </span>sebagai komunitas produktif, yang lebih tepat mengambil peran publik. Akibatnya, terciptalah suatu masyarakat yang didominasi laki-laki (al-mujtama&#8217; al-abawiy).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span> </span>Kalau dahulu agama (Islam) identik dengan isu dan wacana pembebasan perempuan, <span> </span>maka kini ada kecenderungan Islam yang identik dengan pembatasan terhadap perempuan. Di penghujung abad ini banyak negara Islam melakukan revolusi dan <span> </span>reformasi dengan mengambil tema keislaman. Namun demikian, seringkali yang terjadi di pasca-revolusi dan reformasi adalah pengekangan terhadap perempuan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span> </span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Islamisasi suatu negara seolah-olah berarti “merumahkan” perempuan atau <span> </span>jilbabisasi perempuan. Iran, Pakistan, Aljazair, dan Afganistan dapat menjadi contoh dari fenomena tersebut. Bagaimana Islam dijadikan dalil untuk mencopot pegawai negeri di sejumlah daerah di Afghanistan dengan alasan perempuan tidak <span> </span>boleh bekerja di bidang publik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span> </span>Otonomisasi daerah di Indonesia dengan memberikan peran lebih besar kepada tokoh-tokoh adat dan agama setempat, tidak tertutup kemungkinan akan menjadikan <span> </span>perempuan sebagai sasaran dan obyek. Kita tentu sangat berharap agar Islam tidak lagi dijadikan sebagai suatu kekuatan ideologis yang menekan suatu kelompok atau jenis kelamin tertentu dan sebaliknya memberikan keuntungan kepada kelompok atau<span> </span>jenis kelamin tertentu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:135pt;text-align:justify;text-indent:-135pt;"><span style="font-size:13pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;"> </span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"></a><span style="letter-spacing:0.4pt;"> </span></p>
</div>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/basnangsaid.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/basnangsaid.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/basnangsaid.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/basnangsaid.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/basnangsaid.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/basnangsaid.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/basnangsaid.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/basnangsaid.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/basnangsaid.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/basnangsaid.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/basnangsaid.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/basnangsaid.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/basnangsaid.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/basnangsaid.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/basnangsaid.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/basnangsaid.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=basnangsaid.wordpress.com&amp;blog=3495063&amp;post=6&amp;subd=basnangsaid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://basnangsaid.wordpress.com/2008/04/16/jender-dalam-perspektif-hadis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e5a0d2479f21121265affa959c83d9b8?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">basnang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ISLAM: SUNNI, SYIAH, DAN AHMADIYAH</title>
		<link>http://basnangsaid.wordpress.com/2008/04/16/islam-sunni-syiah-dan-ahmadiyah/</link>
		<comments>http://basnangsaid.wordpress.com/2008/04/16/islam-sunni-syiah-dan-ahmadiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Apr 2008 03:43:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>basnang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://basnangsaid.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[      Basnang Said Dekan FAI UNASMAN dan Ketua PW. LP Maarif NU Sulawesi Barat   Fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI) yang dikeluarkan beberapa waktu lalu sampai sekarang masih menimbulkan controversial dan tanda tanya di kalangan umat Islam. Pro dan kontra terjadi karena titik pandang yang berbeda. Majlis Ulama dan pendukung fatwa itu memandang dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=basnangsaid.wordpress.com&amp;blog=3495063&amp;post=3&amp;subd=basnangsaid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>    </span>Basnang Said</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dekan FAI UNASMAN dan Ketua PW. LP Maarif NU Sulawesi Barat</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI) yang dikeluarkan beberapa waktu lalu sampai sekarang masih menimbulkan controversial dan tanda tanya di kalangan umat Islam. <span>Pro dan kontra terjadi karena titik pandang yang berbeda. Majlis Ulama dan pendukung fatwa itu memandang dari segi tugas dan misi institusi itu untuk melindungi umat Islam Indonesia dari berbagai aliran dan ajaran yang dianggap bertentangan dengan Islam yang lagi semarak sekarang ini. Semantara itu resistensi terhadap fatwa itu datang dari sebahagian umat Islam memandang dari sudut kebebasan sesorang atau sekelompok umat untuk memahami dan melaksanakan ajaran agamanya. Adanya kritikan terhadap fatwa MUI itu, menunjukkan perlunya kejelian, ketelitian, dan kehati-hatian para ulama dalam mengelurkan fatwa yang sangat diperlukan oleh umat ketika berhadapan dengan pilihan-pilihan keagamaan. Tetapi suatu fatwa dapat menjadi tidak efektif dalam pengertian tidak ditaati oleh umat Islam. Dalam hal demikian lembaga yang mengelurkan fatwa itu menjadi tidak berwibawa dan kehilangan fungsinya. </span></span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>      </span>Tulisan ini akan mencoba membahas fatwa tentang Ahmadiyah dan Pluralisme yang mendapat sorotan yang tajam dari masyarakat. Substansi dan rumusan fatwa tentang kedua realitas tersebut perlu dikaji agar lebih difahami. Uraian ini dimaksudkan pula agar fatwa MUI tersebut lebih difahami dan dimaklumi keberadaannya.<span id="more-3"></span></span></span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><em><span>Aliran dan madzhab dalam Islam</span></em></strong><span>.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Sebagaimana agama lainnya, dalam Islam pun terdapat berbagai aliran dan madzhab. Aliran dalam uraian ini dipahami sebagai pemikiran ulama teolog tentang masalah aqidah, sedangkan madzhab dipahami sebagai pandangan ulama fuqahaa tentang syariat Islam. Baik aliran maupun mazhab merupakan hasil pemikiran (ijtihad) yang telah terpola. Sesungguhnya pada masa nabi Muhammad mengemban risalahnya (610 – 632) belum terbentuk aliran dan madzhab dalam Islam. Berbagai masalah keagamaan yang timbul pada waktu itu ditanyakan dan mendapatkan jawaban dan penjelasannya dari Nabi Muhammad saw. Meskipun demikian para sahabat dianjurkan untuk mengemukakan pandangan mengenai sesuatu hal yang tidak diperoleh petunjuknya dalam Al-Qur’an maupun Sunnah atau Hadis Rasulullah saw. Apabila terjadi perbedaan pendapat di kalangan Sahabat, Nabi Muhammadlah yang memiliki otoritas untuk membenarkan atau menyalahkan pendapat itu. Keputusan Nabi Muhammad saw itulah yang diperpegangi dan diamalkan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>      </span>Pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah (750 – 1250) hasil kajian (ijtihad) ulama mulai terpolarisasi secara formal dalam bentuk aliran dan madzhab. Pada masa itu muncul dua aliran besar dalam Islam yaitu sunni dan syi′i atau syiah yang terkenal sampai sekarang ini. Selain itu masih terdapat beberapa aliran yang muncul kemudian baik sebagai pecahan dari kedua aliran besar maupun berdiri sendiri. Salah satu di antara aliran yang muncul kemudian adalah Ahmadiyah yang didirikan pada 1889 di Qadian, India. Selain aliran, muncul pada masa itu beberapa mazhab yaitu polarisasi dari pemahaman para ulama terhadap syariah yang terkenal dengan fikhi. Mazhab yang terkenal adalah Malikiyah, Hanafiyah, Syafiiyah, dan Hambaliyah dari Sunni serta mazhab Syiah, dan mazhab lainnya. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>      </span>Sunni dan Syiah pada mulanya merupakan dua kelompok politik yang saling berebut kekuasaan. Kelompok pengikut Muawiyah bin Abi Sofyan yang pada waktu itu sedang menjabat sebagai gubernur Syria di Damaskus dengan pengikut Ali bin Abi Thalib yang telah dibai′ah oleh sebahagian umat Islam sebagai khalifah keempat pengganti Usman bin Affan. Sebenarnya kedua kelompok itu mewakili tradisi persaingan antara dua kelompok dari kaum Quraisy pada masa Jahiliyah, Muawiyah dari bani Umayah dengan Ali bin Abi Thalib tokoh dari Bani Hasyim. Puncak perebutan kekuasaan kedua kelompok itu dengan terjadinya Perang Syiffin tahun 656. Pada akhir dari perang itu muncul kelompok ketiga kaum Khawarij yang keluar dari pasukan Ali bin Abi Thalib. Kelompok inilah yang mula pertama kali mencari pembenaran agama bagi tindakan<span>  </span>politik terhadap pembunuhan khalifah Ali bin Abi Thalib yang dianggap telah kufur (keluar dari Islam). Demikian pula anggapan mereka terhadap Muawiyah dan para pengikutnya. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>      </span>Kelompok Muawiyah yang memegang kendali kekuasaan sesudah Khulafarrasyidin dan kelompok Ali bin Abi Thalib yang beroposisi mencari legitimasi terhadap pandangan dan tindakan politiknya masing-masing. Kaum Khawarij yang sangat ekstrim dan fundamentalis itu tidak berkembang dalam dunia Islam, sedangkan kelompok Muawiyah berkembang menjadi aliran Sunni dan kelompok Ali bin Abi Thalib menjadi kelompok Syiah. Ahmadiyah pun lahir dalam suasana ketika Inggeris mulai menjajah India termasuk Pakistan sekarang setelah hancurnya kerajaan Islam, Mughal. Sangkaan mereka yang anti Ahmadiyah, menyatakan bahwa Mirza Gulam Ahmad adalah boneka Inggeris. Kemudian Ahmadiyah berkembang menjadi suatu aliran dengan berbagai pandangan yang berbeda dengan dua aliran besar terdahulu.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>        </span>Perbedaan pandangan politik antara Sunni dengan Syiah tentang siapa yang berhak memerintah sepeninggal Rasulullah saw beralih menjadi perbedaan faham keagamaan. Syiah yang menganggap bahwa Ali bin Abi Thalib yang paling berhak memerintah sesudah Nabi Muhammad saw, sedangkan Sunni menganggap kekuasaan itu menjadi haknya kaum Quraisy sebagaimana yang telah terjadi masa khulafaurrasyidin. Perbedaan itu menyebabkan Syiah selalu beroposisi terhadap pemerintahan Bani Umayah dan Bani Abbasiyah. Kaum Syiah selalu ditindas oleh pemerintah Umayah, kecuali khalifah Umar bin Abdul Azis (mem.717 –720) yang lebih toleran. Ia melarang perlakuan yang tidak wajar terhadap pengikut Ali bin Abi Thalib. Meskipun Syiah telah berjasa membantu Bani Hasyim untuk mendirikan Dinasti Abbasiyah pada tahun 750 di atas kehancuran Dinasti Amawiyah, tetapi perlakuan penguasa baru itu terhadap Syiah tidak lebih baik dari pemerintah sebelumnya. Pada tahun 850 Khalifah Al-Mutawakkil dari Bani Abbasiyah mulai memusuhi kaum Syiah dan menghancurkan monumen-monumen yang dianggap suci oleh mereka. Sebahagian di antaranya hijrah ke Afrika Utara dan mendirikan pemerintahan Syiah dengan nama Dinasti Fatimiah (909 –1176). Setelah Dinasti Abbasiyah hancur, kelompok Syiah yang banyak mendiami Persia atau Iran itu mendirikan Kerajaan Safawiyah(1502 –1736) yang selalu bermusuhan dengan imperium Turki Usmani (1299 –1923) yang Sunni. Di Pakistan pada 1953 muncul gerakan anti Ahmadiyah yang mendorong pemerintah yang Sunni itu membentuk tim investigasi yang diketuai oleh Muhammad Munir. Pada 1954 Tim Munir mengumumkan bahwa Ahmadiyah diperlakukan sebagai kelompok minoritas non-Muslim, tetapi tidak dilarang keberadaannya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><em><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Imam Mahdi</span></span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Perbedaan pandangan dan sikap politik berimplikasi pada pandangan keagamaan. Syiah berpandangan bahwa dalam Islam ada imam yaitu pemimpin spritual yang <em>maksum</em>, tidak berdosa. Imam pertama adalah Ali bin Abi Thalib dan imam selanjutnya ditetapkan dari turunannya. Menurut faham Itsna Asyariah, salah satu cabang Syiah, imam ke duabelas dari turunan Ali bin Abi Thalib yaitu Muhammad Almuntadzar (w. 878 ). Mereka meyakini bahwa sesungguhnya Imam Muhammad itu<span>   </span>menghilang dan akan datang kembali sebagai Imam Mahdi. Meskipun tidak mengenal imam, tetapi kepercayaan akan datangnya Imam Mahdi dengan misi mengukuhkan agama Islam menjelang kiamat juga dianut oleh aliran Sunni. Sementara itu Ahmadiyah menyakini bahwa Imam Mahdi yang ditunggu oleh Syiah dan Sunni itu telah muncul yaitu Mirza Ghulam Ahmad<span>  </span>yang dianggap juga sebagai nabi yang membawa agama Islam atau memperbahrui pemikiran tentang Islam. Anggapan bahwa ada nabi sesuadah Muhammad saw ditentang oleh Sunni. Jadi sesungguhnya Sunni, Syiah, dan Ahmadiyah meyakini adanya tokoh Imam Mahdi tersebut. Perbedaannya adalah bagi Sunni dan Syiah, Imam Mahdi masih dalam penantian, sedangkan Ahmadiyah berpendapat bahwa Imam Mahdi itu sudah datang yatu Mirza Ghulam Ahmad.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>      </span>Perbedaan pandangan tentang Imam Mahdi dan perbedaan lainnya telah membuat umat Islam terjebak dalam aliran keagamaan yang eksklusif dan sektarianisme. Aliran –aliran dan juga mazhab fikhiyah telah dianggap sebagai agama tersendiri. Umat Islam tidak lagi penganut agama Islam, tetapi telah menjadi penganut Sunni, Syiah, dan Ahmadiyah. Sebagaimana halnya penganut Malikiyah, Hanafiyah, Syafiiyah, dan Hambaliyah. Jika seorang Muslim telah menganut Sunni dan bermazhab Syafiiyah, maka ia tidak boleh meyakini dan mengamalkan ajaran Syiah meskipun dianggapnya sesuai dengan pendapat pribadinya. Dalam kedudukan seperti itu mereka saling mengkafirkan. Di lain pihak mereka masing-masing mempertahankan keislamamannya, karena masih tetap berpegang pada prinsip Islam yaitu pertama, meyakini bahwa tiada tuhan selain Allah swt; kedua, menyakini bahwa Muhammad saw adalah Rasul Allah; dan ketiga, menyakini bahwa Al-Qur’an adalah Kalam Allah. Ketiga keyakinan itu merupakan satu kesatuan. Tidak meyakini salah satunya berarti tidak meyakini pula dua yang lainnya. Jika ada seseorang atau suatu aliran keislaman yang tidak mengakui salah satu atau ketiga prinsip dasar Islam itu, maka orang atau aliran itu sesat. Dengan begitu, baik Sunni maupun Syiah ataupun Ahmadiyah yang masing-masing meyakini ketiga prinsip Islam itu tidak dapat mengkafirkan satu dengan lainnya atau salaing menyatakan sesat. Oleh karena itulah meskipun Tim Munir dap saja menetapkan Ahmadiyah sebagai kelompok minoritas non-Muslim di Pakistan, tetapi tim itu tidak menemukan kriteria dari para ulama tentang seseorang keluar dari Islam atau sesat. Jadi sesungguhnya pemerintah Pakistan hanya menetapkan bahwa Ahmadiyah itu adalah organisasi non-Muslim Sunni. Perlu diketengahkan bahwa munculnya aliran-aliran dalam Islam itu adalah suatu tuntutan sejarah umat Islam. Tetapi sikap permusuhan dan tidak toleran satu aliran dengan aliran lainnya telah menimbulkan malapetaka dan kemunduran sebagaimana terekam dalam memori kolektif umat Islam itu sendiri.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span>      </span>Sebahagian besar dunia Islam dikuasai oleh Sunni. Mayoritas penganut Syiah terdapat di Iran dan Irak. Sebahagian kecil di antara mereka terdapat di Pakistan, Afghanistan, Dunia Arab, dan Afrika Utara dan Timur. </span><span>Ahmadiyah terdapat di Pakistan, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Inggeris di Eropa. Islam masuk pertama kali ke Eropa adalah Ahmadiyah. Di Indonesia, Sunni dianut oleh sebahagian besar masyarakat. Ahmadiyah merupakan kelompok minoritas Islam. Syiah juga sudah mulai terdapat di Indonesia, meskipun tidak sepopuler Ahmadiyah. Sebelumnya, sudah sejak islamisasi, sebahagian daerah di Indonesia telah terdapat kultur Syiah meskipun idiologi atau ajaran Syiah dianut kemudian.<span>  </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Fatwa MUI</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Fatwa MUI tentang 11 masalah diantaranya Ahmadiyah dan pluralisme agama tampaknya terlalu tergesa-gesa. Sebagaimana diketahui bahwa fatwa itu dihasilkan oleh Munas MUI yang berlangsung dari 26-29 Juli 2005. Memang sebelumnya masalah yang akan difatwakan itu telah disampaikan dalam Rakorda lima wilayah MUI yang berlangsung 2 atau 3 hari, tetapi tidak untuk dibahas secara mendalam. Materi-materi fatwa hanya didiskusikan layak atau tidaknya difatwakan. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika fatwa tentang Ahmadiyah hanya mengukuhkan fatwa MUI 1980. Pada konsiderannya hanya dicantumkan keputusan Majma′ al-Fiqh al-Islam OKI tahun 1985 di Jeddah sebagai pertimbangan. Fatwa tentang Pluralisme tampaknya tidak dibahas secara mendalam makna pluralisme agama yang sebenarnya. Sangat boleh jadi fatwa tentang kedua faham itu dikeluarkan mengingat Ahmadiyah yang terkenal sebagai organisasi yang sangat handal dalam dakwah makin diminati umat Islam Indonesia dan pluralisme agama yang dianggap sebagai salah satu faham yang mendukung kerukunan umat beragama makin menarik perhatian masyarakat. MUI sebagai wadah berhimpunnya ulama Sunni tentunya sangat terganggu dengan kemajuan Ahmadiyah dan sangat kawatir akan eksistensi agama Islam di Indonesia dengan makin meluasnya pluralisme agama itu.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>      </span>Memperhatikan tajuk Fatwa Keharaman dapat difahami bahwa fatwa MUI itu menggunakan pendekatan fikhi, karena itu cendrung konservatif. Sementara itu faham Ahmadiyah dan pluralisme bertalian dengan pemikiran teologi (Ilmu Kalam). Dengan begitu pembahasan kedua faham tersebut hendaknya dari sudut pandang Ilmu Kalam, bukan pendekatan Fikhi. Mungkin MUI menganggap bahwa fatwa itu hanya dalam bidang syariah semata. Sesungguhnya fatwa juga berkenaan dengan masalah aqidah.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>      </span>Berdasarkan pokok-pokok pikiran yang telah diuraikan kiranya fatwa tentang Ahmadiyah dapat difahami sebagai pendapat Sunni. Jadi menurut Sunni, pandangan Ahmadiyah tentang Mirza Ghulam Ahmad sebagai Imam Mahdi dan nabi adalah ajaran yang keliru. Fatwa MUI yang juga mendesak pemerintah untuk melarang Ahmadiyah tidak tepat, karena negara yang berdasarkan Pancasila ini bukan negara Sunni, sehingga harus memberikan kebesan untuk warga negaranya menganut suatu agama atau aliran keagamaan tertentu serta kebebasan untuk menjalankan<span>  </span>keyakinan keagamaannya sesuai ketentuan UUD 1945 yang tentunya tidak akan dilanggar oleh pemerintah. Lagi pula menganut suatu agama dan aliran keagamaan adalah hak asasi manusia yang sesuai pula dengan Islam. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span>      </span></span>Pluralisme menurut Fatwa MUI adalah pandangan yang mengganggap semua agama itu sama dan umat semua agama itu masuk surga. Tentu saja pluralisme dalam pengertian seperti itu tidak dibenarkan oleh MUI. Tetapi Pluralisme agama sebenarnya adalah faham yang mengakui eksistensi agama-agama dalam suatu masyrakat. <span>Pluralisme tidak mungkin mengakui semua agama itu sama dengan meniadakan perbedaan yang ada. Sebab pengakuan demikian bertentangan dengan realitas keragaman agama yang ada. Logika pluralismepun tidak membenarkan panadangan itu. Seandainya semua agama itu sama untuk apa manusia harus menganut agama tertentu. Pluralisme tidak membicarakan tentang masuk surga atau neraka dari umat beragama. Sebab itu termasuk wilayah keyakinan. Menurut agama-agama yang ada tidak semua umatnya secara otomatis masuk surga. Ada juga di antaranya umatnya masuk neraka. Pluralisme mengakui adanya persamaan dan perbedaan di anatara semua agama. Jadi adanya pandangan yang menyatakan bahwa semua agama itu tidak sama adalah sama kelirunya dengan pandangan yang menyatakan bahwa semua agama itu sama. Diantara agama-agama itu, terutama agama profetis, terdapat pebedaan pada aspek-aspek formalnya dan simbol-simbol yang digunakan, tetapi pada aspek fungsional yang bertalian dengan sikap dan perilaku umat adalah sama. Fungsi agama untuk menimbulkan kedamaian pada diri sendiri dan masyarakat serta membawa kesalamatan bagi kehidupan di dunia ini dan diakhirat kelak adalah sama pada semua agama. Jika demikian halnya pluralisme bukan sesuatu yang diharamkan tetapi sesuai dengan ajaran agama termasuk agama Islam. Pluralisme muncul karena masyarakat dunia global sekarang ini mengarah pada masyarakat pluralistik dalam agama, ras, dan budaya sesuai sunnatullah. Fatwa MUI menghalalkan plurlistik tetapi mengharamkan pluralisme, sedangkan yang disebut kemudian adalah faham yang mengakui sifat masyarakat yang disebut pertama. Dengan begitu fatwa itu paradoks dan janggal.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>      </span>Memang, kesalahan persepsi terjadi karena ada gap dalam pengetahuan manusia. Sebagai penganut Sunni, masyarakat Islam Indonesia hanya mengetahui Islam menurut faham Sunni sebagaimana yang diajarkan dalam keluarga sekolah dan masyarakat. Orang Sunni tidak mengetahui dengan baik ajaran Syiah dan Ahmadiyah. Umat hanya mengenal kedua aliran secara dangkal dan tidak berdasarkan informasi dari tokoh aliran itu sendiri. Oleh karena itu perlu dimasukkan aliran Syiah dan Ahmadiyah serta lairan Islam lainnya dalam kurikulum perguruan tinggi Islam. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dari Transisi ke Kematangan</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>Yusuf Al-Qaradhawi mengambarkan masyarakat Muslim- termasuk di Indonesia, berada dalam transisi menuju kematangan kebangkitan Untuk menca[pai kondisi demikian, dalam bukunya Kebangkitan Gerakan Islam ia mengusulkan sepeluh langkah menuju kematangan kebangkitan Islam. </span><span>Tiga langkah di antaranya dikemukakan di sini untuk direnungkan bersama. Umat Islam terutama para pemimpinnya, ulama, muballigh, dan pendidik harus meninggalkan sikap sentimentil dan emosional menuju sikap rasional dan ilmiah; meninggalkan kejumudan dan taklid menuju ijtihad dan pembahruan; meninggalkan fanatisme dan eksklusifisme menuju toleransi dan inklusifisme. Dengan sikap rasional disertai dengan semangat modernis serta berpandangan inklusifisme, umat Islam Indonesia akan bangkit merajut masa depan yang lebih bermartabat. </span>Semoga.<span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/basnangsaid.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/basnangsaid.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/basnangsaid.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/basnangsaid.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/basnangsaid.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/basnangsaid.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/basnangsaid.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/basnangsaid.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/basnangsaid.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/basnangsaid.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/basnangsaid.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/basnangsaid.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/basnangsaid.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/basnangsaid.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/basnangsaid.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/basnangsaid.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=basnangsaid.wordpress.com&amp;blog=3495063&amp;post=3&amp;subd=basnangsaid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://basnangsaid.wordpress.com/2008/04/16/islam-sunni-syiah-dan-ahmadiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e5a0d2479f21121265affa959c83d9b8?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">basnang</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
