jump to navigation

JENDER DALAM PERSPEKTIF HADIS April 16, 2008

Posted by basnang in Artikel.
trackback

Islam memberikan penghargaan yang sama antara laki-laki dan perempuan. Islam sama sekali tidak mengandung sisi diskriminatif ajaran khususnya eksistensi kaum perempuan. Dalam berbagai hal, posisi laki dan perempuan penuh dengan keseimbangan yang masing-masing jenis itu bekerja berdasarkan proporsionalnya masing-masing. Tak terkait adil dan tidak adil, merugikan atau menguntungkan, semua bekerja atas tugas-tugas alamiah sesuai keadaan dan kondisi fisik yang telah diciptakan Allah swt.

Laki-laki yang dikodratkan memiliki tubuh atau jasmani yang kekar dan kuat membuat secara alamiah tugasnya mencari nafkah di luar rumah. Di luar itu, kaum laki-laki karena tubuhnya yang kuat dan keras tahan akan berbagai rintangan di tempat di mana mereka mencari nafkah. Lain perempuan yang dikodrati Allah dengan tubuh yang lembut sedikit lemah dan jasmani yang memiliki rahim sebagai tempat membuahi untuk kelangsungan generasi, secara alamianya harus berada di rumah menunggu sang suami memperoleh nafkah untuk dirinya dan anaknya tetapi tugas mereka adalah menjaga dan memelihara anak-anak hasil hubungan dengan suaminya dengan penuh kasih sayang. Tugas-tugas itu adalah tugas alamiah yang tetap mengikat masing-masing pihak tetapi tidak menghalangi masing-masing mereka untuk terjun ke dalam berbagai bidang di mana mereka juga telah diberi potensi oleh Tuhan untuk berkembang berdasarkan potensinya masing-masing. Maka tak ada jalan menghalangi perempuan memperoleh dan mencari hakekat kehidupan melalui tugas-tugas publik seperti pendidikan, politik dan lain-lain sebagaimana kaum laki-laki mencari dan berusaha memperoleh hal itu.

Ajaran Islam yang selama ini oleh sebagian pendukung gerakan emansipasi perempuan dianggap bias gender dan tak berpihak perempuan sebenarnya menurut pakar jender, Prof.DR. Nasaruddin Umar, MA, harus ada kemampuan mengartikulasikan sejumlah ayat yang dinilai bias jender ke dalam lingkungan masyarakat kita, dengan melakukan penelaahan ulang secara kritis terhadap ayat-ayat Alquran. Prinsip-prinsip kesetaraan jender di dalam Alquran antara lain laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai hamba Tuhan yang mengemban amanah dan menerima perjanjian primordial dengan Tuhan.(Nasaruddin Umar; 2001)

Selain itu, faktor budaya arab yang kemudian menjadi ajaran dan seolah-olah bagian dari syariat Islam. Padahal budaya patriarki itu sesungguhnya akan terproses berdasarkan perkembangan kemajuan umat manusia. Contoh konkrit pembagian harta warisan yang tampak sangat diskriminatif jika hanya meninjaunya dari sisi fisik ayat tanpa melihat latar belakang kondisi di mana dan kapan ayat tersebut turun.

Dalam penjelasan-penjelasan selanjutnya, khususnya hadis-hadis nabi Muhammad saw, justru banyak sekali sabda-sabda beliau yang memberi kedudukan yang sama antara laki-laki dan perempuan. Sangat berbeda dengan penafsiran ayat-ayat Alquran yang bias jendernya dalam berbagai hal. Misalnya, pembakuan tanda huruf, tanda baca, dan qiraah, pengertian kosa kata mufradat, penetapan rujukan kata ganti dhamir, penetapan batas pengecualiaan, penetapan arti huruf atf, struktur bahasa arab, terjemahan Alquran, metode tafsir, pengaruh riwayat-riwayat israiliyyat, dan pembukuan dan pembakuan kitab-kitab fiqih.

Klasifikasi Hadis – Hadis Tentang Jender

Dalam kitab-kitab hadis, banyak sekali hadis-hadis yang ditemukan (mungkin) bias gender teapi tidak sedikit juga tampak keberpihakan yang kuat terhadap perempuan. Berikut kitab-kitab dan pasal-pasal yang memuat sejumlah qaul nabi tentang perempuan sebagai berikut :

1. Sunan al-Turmuzi kitab thaharah memuat hadis nomor 105, Sunan Abu Dawud kitab thaharah hadis nomor 203, Musnad Ahmad pada Baqy al-Anshar hadis nomor 24999, 25761, dan dalam Sunan al-Darimi kitab thaharah hadis nomor 757, diperoleh hasil takhrij tentang perempuan mitra laki-laki

2. Sunan Abu Dawud, kitab iman hadis nomor 114, dan Musnad Ahmad pada Musnad al-Qabail hadis nomor 26023, diperoleh hasil takhrij tentang perempuan bisa menjadi imam shalat.

3. Shahih Muslim, kitab Iman, hadis nomor 114, dan Sunan Ibn Majah, kitab alfitn hadis nomor 3993, diperoleh hasil takhrij hadis tentang kelebihan laki-laki dan perempuan.

4. Shahih al-Bukhariy, kitab Anbiyā‘, hadis nomor 3048; dan kitab Nikah hadis nomor 4787; juga dalam Shahih Muslim, kitab al-Radha’, hadis nomor 2671, diperoleh hasil takhrij hadis tentang penciptaan perempuan dari tulang rusuk yang bengkok.

5. Shahih al-Bukhari, kitab al-Magazi hadis nomor 4073, kitab al-fitn hadis nomor 6570, Sunan al-Nasai kitab Adab al-Qadha hadis nomor 5293, Ahmad pada Musnad al-Basriyyin hadis nomor 19507, 19542, 19573, dan 19570 diperoleh hasil takhrij tentang kepemimpinan kaum perempuan.

Istilah Jender.

Pada pertengahan abad ke 20, banyak univeristas di Eropa dan Barat terutama di Amerika serikat, memunculkan peristilahan jender. Istilah itu kini telah merebak ke seantero dunia dengan banyaknya mahasiswa-mahasiswi yang menjadikannya sebagai obyek kajian.

“Jender” berasal dari bahasa Inggris, gender, berarti “jenis kelamin”.(John M. Echols:1993). Dalam Webster’s New World Dictionary, disebutkan; Gender the apparent disparity between man and women in values and behavior, maksudnya bahwa jender diartikan sebagai “perbedaan dari segi nilai dan tingkah laku”(Victoria Neufeldt:1994). Dari definisi ini, dapat diketahui bahwa jender adalah suatu istilah untuk membedakan kaum laki-laki dan perempuan dalam aspek tertentu, misalnya sifat dasar dan tingkah laku, juga termasuk perbedaan dari segi “sex”, jenis kelamin secara biologis. Karena itu, penting sekali memahami terlebih dahulu perbedaan antara jenis kelamin (sex) dan gender. Yang dimaksud jenis kelamin, adalah perbedaan biologis hormonal dan patologis antara perempuan dan laki-laki, misalnya laki-laki memiliki penis, testis, dan sperma, sedangkan perempuan mempunyai vagina, payudara, ovum, dan rahim.(Sriherawati;2003). Jadi laki-laki dan perempuan secara biologis berbeda, dan masing-masing mempunyai keterbatasan dan kelebihan biologis tertentu. Misalnya, perempuan bisa mengandung, melahirkan, dan menyusui bayinya, sementara laki-laki memproduksi sperma. Perbedaan biologis tersebut bersifat kodrati, atau pemberian Tuhan dan tidak seorangpun dapat mengubahnya.

Adapun yang dimaksud jender, adalah seperangkat sikap, peran, tanggungjawab, fungsi, hak, dan perilaku melekat pada diri laki-laki dan perempuan akibat bentukan budaya atau lingkungan masyarakat tempat manusia itu berada, tumbuh dan dibesarkan.(Siti Musda Mulia; 2003). Sebagai contoh, laki-laki sering digambarkan sebagai manusia kuat, tegar, dan perkasa, sementara perempuan digambarkan figur yang lemah, rapuh, dan lembut-gemulai. Gambaran seperti ini, sebenarnya wajar sesuai realita namun merupakan hal yang naif bila dikembangkan ke wilayah pelecehan, dan ketidakadilan. Misalnya karena laki-laki kuat, maka ia harus menang, dan karena perempuan lemah, maka ia harus terkalahkan. Karena laki-laki tegar dan perkasa, maka ia harus menjadi pemimpin, dan karena perempuan rapuh, maka ia harus dipimpin. Padahal, sesuai dengan realita juga, tidak selama-nya orang kuat fisik menang secara intelektual, dan tidak selamanya orang yang tegar dan perkasa bisa menjadi pemimpin. Justeru karena ketegaran, dan keperkasaaan sering digunakan orang untuk berlaku kejam dan otoriter dalam kepemimpinanya, dan hal ini seperti tidak sejalan dengan prinsip-prinsip kepemimpinan.

Dengan demikian, konkritnya, jender didefinisikan sebagai interpretasi mental dan kultural terhadap perbedaan kelamin, yakni laki-laki dan perempuan. Jender juga biasa didefinisikan sebagai konsep pembagian kerja yang dianggap tepat bagi laki-laki dan perempuan sesuai situasi, dan kondisi budaya.(Nasaruddin Umar;1999). Sejalan dengan itu, jender bisa juga dirumuskan sebagai suatu konsep yang mengacu pada peran-peran dan tanggungjawab laki-laki dan perempuan sebagai hasil konstruksi sosial yang dapat diubah sesuai dengan perubahan zaman.(Musda mulia:

Dalam perspektif kondisi budaya, dan kondisi sosial kaum perempuan di masa sebelum dan sesudah Nabi saw, berbeda. Bahkan perbedaan itu sampai masa kini semakin jauh. Rekaman sense sejarah sebelum kedatangan Nabi saw, kaum perempuan ditempatkan dalam posisi memprihatinkan. Mereka disekap, diperjualbelikan, sementara yang sudah berumah tangga, sepenuhnya berada dalam kekuasaan suaminya. Mereka tidak memiliki hak-hak sipil, termasuk tidak memiliki hak waris. Kondisi yang demikian, menyebabkan setelah Nabi saw datang, risalahnya merumuskan konsep jender sebagaimana yang termaktub hadis-hadisnya yang akan ditakhrij dan disyarah secara tematik. Namun sebelum hadis-hadis tersebut ditakhrij dan disyarah, penulis perlu rumuskan bahwa jender yang dimaksud dalam kajian ini, adalah mengandung interpretasi persamaan kedudukan antara perempuan dan laki-laki dalam melakukan segala aktivitas sesuai dengan kodratnya masing-masing.

Lebih awal perlu juga penulis tegaskan bahwa, memang hadis mengakui adanya perbedaan (distinction) antara lelaki dengan perempuan, akan tetapi perbedaan itu bukanlah pembedaan (discrimination) yang menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain. Perbedaan yang dimaksud untuk mendukung misi pokok Islam, yaitu terciptanya hubungan harmonis yang didasari kasih sayang.

Kesetaraan kaum laki-laki dengan perempuan sebenarnya sudah sering dikumandangkan oleh aktifis dan cendekiawan mauslim/muslimah. Di Mesir seorang Qasim Amin telah mendendangkan perlunya kesetaraan tanpa melihat jenis kelamin ini.

Menurut Qasim Amin (1863-1908), murid Muhammd Abduh, bahwa masyarakat Islam tak akan pernah maju tanpa mengikutsertakan perempuan sebagai bagian integral dalam masyarakat. Perempuan harus berperan membangun suatu tatanan kehidupan yang lebih baik. Menurut Qasim bahwa kemunduran umat Islam karena kaum perempuannya tidak mendapatkan pendidikan yang memadai. Seorang wanita tak akan mungkin melakukan tugas-tugas kehidupannya di lingkungan sosial jika tak dibekali dengan pendidikan. Oleh sebab itu, perempuan harus diberi hak pendidikan, minimal pendidikan dasar agar wanita dapat berperan banyak di masyarakat di samping mendidik putera-puterinya.(Qasim Amin;1970)

Dalam studi sosiologi, jender didefenisikan sebagai peranan yang harus dijalankan oleh wanita dan pria yang terbentuk secara sosial.(Heizer;1991). Pembicaraan mengenai jender tergambar bahwa pembedaan berdasarkan jender itu berbeda dari seks (jenis kelamin). Pembedaan jenis kelamin hanya sekadar menunjuk pada hal-hal yang berkaitan dengan fungsi biologis perempuan dan laki-laki, maka pembedaan jender menunjuk pada hal-hal yang berkaitan dengan nilai-nilai sosial suatu masyarakat yaitu yang mencakup apa yang seharusnya dilakukan oleh seseorang yang berjenis kelamin laki-laki atau perempuan.(Zohrah Nazaruddin;2004)

Kemitraan tidak selamanya ditafsirkan dengan persamaan dalam keserupaan, tetapi pengertian lain adalah persamaan dalam kerjasama dan kesejajaran.

Hadis-hadis yang(mungkin) bias jender.

Hadis yang tak mendukung perempuan menjadi pemimpin

Dalam hadis disebutkan artinya :

Usman bin Haitsan menceritakan kepada kami, Auf menceritakan kepada kami dari al-Hasan al Basri) dari Abu Bakrah, ia mengatakan, telah menyadarkan aku melalui kalimat-kalimat yang aku dengar dari Rasulullah saw; ketika aku hampir saja ikut terlibat dalam perang jamal (unta). Yaitu ketika disampaikan kepada Nabi Muhammad saw, bahwa bangsa Persia telah mengangkat anak perempuan Kisra sebagai penguasa (ratu) mereka. Pada saat itu nabi mengatakan: tidak akan pernah beruntung bangsa yang diperintah oleh seorang perempuan.

Terhadap hadis ini, oleh Ibnu hajar (w.852) mengatakan bahwa hadis tersebut melengkapi kisah Kisrah yang telah merobek-robek surat nabi Muhammad saw. Pada suatu saat ia dibunuh oleh anak laki-lakinya. Anak itu kemudian juga membunuh saudara-saudaranya. Ketika dia mati diracun, kekuasaan kerajaan akhirnya berada di tangan anak perempuannya. Bahrah binti Syiruyah Ibn Kisrah. Tidak lama kemudian kekuasaannya hancur berantakan, sebagaimana doa Nabi saw. (Zohrah Nasaruddin: 2004)

Hadis ini jelas diungkapkan dalam kerangka pemberitahuan, sebuah informasi yang disampaikan Nabi saw semata, dan bukan kerangka legitimasi hukum. Tegasnya hadis ini tidak memiliki relevansi hukum.

Abdul Al-Qadir Abu Faris mengatakan bahwa hadis ini tidak hanya berlaku bagi bangsa Persia di mana ia diturunkan, tetapi juga berlaku bagi semua bangsa yang dipimpin perempuan. Jadi, yang harus menjadi pertimbangan adalah bunyi hadis ini yang menunjukkan arti umum (general), bukan pertimbangan konteks atau sebab, sesuai dengan kaidah fiqih : “al-ibrah bi umum al-lafz la bikhusushi al sabab”(Qadir Faris;1984)

Hadis ini sesungguhnya tak dapat dipertahankan jika dihadapkan dalam fakta-fakta sejarah yang ada. Sejumlah perempuan telah membuktikan kemampuannya memimpin bangsanya dengan kesuksesan yang gemilang. Sebelum Islam, dikenal sosok dan tokoh hartawati perempuan, Ratu Bulqis, penguasa negeri Saba, seperti yang dikisahkan Alquran. Kepemimpinannya dikenal sukses gemilang, Negara yang aman, makmur, dan sentosa. Kesuksesan ini antara lain karena Balqis mampu mengatur negaranya dengan sikap dan pandangan demokratis. Indira Gandhi, Margareth Tatcher, Srimavo Bandaranake, Benazir Butto, Syekh Hazina Zia adalah beberapa contoh saja dari pemimpin bangsa di masa modern ini yang cukup sukses memimpin dengan jenis kelamin perempuan. Sebaliknya terdapat beberapa Negara dengan kepala negaranya laki-laki tetapi gagal menjalankan pemerintahan. Kesuksesan dan kegagalan sebuah kepemimpinan tak ditentukan oleh jenis kelamin. Tetapi lebih pada sistem dan kemampuan yang dimiliki. Kemampuannya itu erat kaitannya dengan bawahan 3 kecerdasan (emosional, intelektual, dan spiritual) dan atau salah satunya yang dibawa oleh manusia, entah laki-laki atau perempuan.

Dengan demikian, hadis di atas harus dipahami dari sisi esensinya dan tidak bisa digeneralisir, tetapi lebih bersifat spesifik untuk kasus bangsa Persia pada saat itu. Yang paling penting dalam kepemimpinan adalah kemampuan dan intelektualitas, dua hal yang dapat dimiliki oleh siap saja, laki-laki atau perempuan. Kaidah “al-ibrah bi umum al-lafz la bikhusushi al sabab”dapat dijadikan dasar hukum sepanjang esensinya tetap.

Lebih dari itu, untuk persoalan-persoalan yang menyangkut kemasyarakatan dan politik, maka yang paling penting adalah faktor kemaslahatan. Ibn Qayyim Al-Juaziyah (w. 751 H), mengutip ucapan Ibnu Uqail dengan tegas mengatakan : “ dalam urusan-urusan politik yang diperlukan adalah cara-cara yang lebih mendekati kemashlahatan masyarakat dan jauh dari kemafsadatan, meskipun tak pernah dilakukan oleh rasulullah saw tidak ada aturan wahyu Tuhan (al-siyasah ma kana fi’lan yakuma maahu al-nas aqrab ila al-shalah wa ab’ad an fasad wa in lam yada’hu al rasul saw. Wa nazala bihi wahyun. Kaidah yang benar dalam hal ini adalah la siyasta illa wa wafaqa al-syar’ah (yang diucapkan oleh syara/agama). Menurut Ibn Qayyim cara berpikir yang menggunakan kaidah yang terakhir sedemikian rupa sehingga agama tidak lagi mampu memberikan kemaslahatan bagi manusia.(qayyim Al-jauziyah)

Kaidah fiqih menyatakan dengan jelas mengenai hal ini “tasharruf al-imam ‘ala al-raiyyah manuthun bi al-maslahah, (Tindakan penguasa atas rakyatnya harus didasarkan atas kemaslahatan mereka). Kemaslahatan dalam kekuasaan umum/publik antara lain dapat ditegaskan melalui cara-cara kepemimpinan demokratis dan berdasarkan konstitusi, serta perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia, bukan kekuasaan tirani dan otoriter. Di sini sekali lagi perlu dinyatakan bahwa kepemimpinan publik tak ada kaitannya dengan urusan jenis kelamin, melainkan pada kualifikasi dan sistem yang mendukungnya.(said Agil Husin AlMunawar;2004)

Ada kelompok yang menawarkan kebolehan perempuan memimpin suatu negara apabila sudah sampai kepada batas darurat karena tak ada lagi laki-laki yang mampu menduduki jabatan tersebut. Apakah kita sudah berada di posisi sedarurat itu?. Yang perlu diangkat ke permukaan itu adalah kemampuan dan intelektualitas mereka yang dicalonkan, apakah mampu atau tidak memangku amanah itu.

Pertanyaan selanjutnya, apakah perempuan memang relatif banyak kendala tampil menduduki jabatan puncak, apalagi presiden ?. Banyak penelitian yang hasilnya di mana realitas emansipasi lebih dilihat dari efesiensi dan produktifitas kaum perempuan yang tetap tak seoptimal kaum laki-laki. Itulah sebabnya, Amerika Serikat tak pernah sekalipun dipimpin oleh perempuan karena berpikir realitas. Sedangkan Negara-negara berkembang dibiarkan dipimpin oleh perempuan. Mungkin hal itu kesenjangan AS untuk dengan mudah mendikte negara-negara berkembang.

Dalam sejarah bangsa Indoesia, dari NAD sampai Papua juga belum ada kerajaan dipimpin oleh seorang perempuan kecuali Aceh Utara, itupun kacau dan Puteri Sina di Jepara itupun hanya legenda. Dalam fakta-fakta selanjutnya, Indonesia dipimpin oleh seorang perempuan. Beberapa Bupati dan wakil Bupati, malah Gubernur Banten seorang perempuan yang dipilih secara langsung (PILKADA) oleh pemilih yang dominan laki-laki.

Hadis perempuan berasal dari tulang rusuk yang bengkok

Terjemah Hadis:

Abu Kuraib dan Musa bin Hizam menceritakan kepada kami, berkata: Husain bin Ali menceritakan kepada kami, dari Ali, dari Zaidah, dari Maysaarah al-Asyja’iy, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah ra, berkata: Rasulullah saw bersabda: Saling berpesanlah kepada kaum perempuan, karena sesungguhnya perempuan diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, dan karena itu perempuan seperti tulang rusuk, jika kalian mencoba meluruskannya ia akan patah. Tetapi jika kalian membiarkan-nya maka kalian akan menikmatinya dengan tetap dalam bengkok, maka saling berwasiatlah kalian atas perempuan. (HR. al-Bukhari

Hadis ini menggambarkan betapa perempuan diciptakan dari asal ciptaan yang negatif (bengkok). Jikalau kemudian dalam kultur masyarakat perempuan selalu digambarkan sebagai jenis kelamin nomor 2 dari laki-laki maka hal itu sebagai kelanjutan atas pemahaman-pemahaman yang terlanjur memojokkan perempuan.

Kepercayaan diri seorang perempuan mestinya terbentuk sejak lahir, karena sejak awal tidak pernah dibebani dengan dosa warisan seperti dalam tradisi Yahudi-Kristen. Otonomi perempuan dalam tradisi Islam sejak awal terlihat begitu kuat. Perjanjian, ba’iat, sumpah, dan nazar yang dilakukannya mengikat dengan sendirinya sebagaimana halnya laki-laki. Berbeda dengan tradisi Yahudi-Kristen, seorang perempuan hidup di dalam pangkuan ayahnya atau suaminya, maka perjanjian, sumpah, dan nazarnya dapat digugurkan oleh ayah atau suami yang bersangkutan.(Nasaruddin Umar;2001)

Hadis di atas masih kontroversial mengenai asal kejadian perempuan. Jika membaca sepintas lalu betapa banyak ketimpangan yang memojokkan perempuan yang seharusnya tidak demikian. Akan tetapi, jika disimak secara mendalam dengan menggunakan metode analisis semantik, semiotik, hermeneutik, dan teori sabab nuzul, maka dapat dipahami hadis-hadis atau ayat itu merupakan suatu proses mewujudkan keadilan secara konstruktif di dalam masyarakat. Semua ayat-ayat dan hadis-hadis yang berhubungan dengan masalah-masalah tersebut di atas ternyata sabab nuzul dan sabab wurudnya, untuk menanggapi kasus-kasus yang terjadi di masa Rasul. Ini artinya ayat-ayat atau hadis-hadis tersebut bersifat khusus.(Nasaruddin Umar;2001)

Hadis tentang Perempuan Minim agama dan akal

Artinya:

Muhammad bin Rumhi bin al-Muhajir al-Mishriyyu menceritakan kepada kami, al-Laits memberitakan kepada kami, dari Ibn al-Hadi, dari Abdullah bin Dinar, dari Abdillah bin Umar, dari Rasulullah saw bersabda: Wahai kaum perempuan ! bersedekahlah kalian dan per-bayaklah istigfar. Karena, aku melihat kalian lebih ramai menjadi penghuni neraka. Seorang perempuan yang cukup pintar di antara mereka bertanya, wahai Rasulullah, kenapa kami kaum perempuan yang lebih ramai menjadi penghuni neraka? Rasulullah bersabda: Kalian banyak mengutuk dan mengingkari suami. Aku tidak melihat yang kekurangan akal dan agama dari pemiliki pemahaman lebih daripada golongan kalian. Perempuan itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah Apakah maksud kekurangan akal dan agama itu. Rasulullah saw bersabda: maksud kekurangan akal ialah penyaksian dua orang perempuan sama dengan penyaksian seorang laki-laki. Inilah yang dikatakan kekurangan akal. Begitu juga perempuan tidak mengerjakan sembahyang pada malam-malam yang dilaluinya kemudian berbuka pada bulan ramadhan karena haid, maka inilah yang dikatakan kekurangan agama.

Sebagian besar literatur Islam menganggap kekurangan itu sebagai sesuatu yang melekat secara alamiah pada diri seseorang perempuan.

Tetapi sebagian ulama, di antaranya Abdul Halim Muhammad Abu Syukkah berpendapat bahwa kekurangan di sini bukanlah kekurangan yang bersifat fitri (alami dan mutlak). Akan tetapi kekurangan yang dimaksud adalah kekurangan relatif, yaitu kekurangan yang diakibatkan oleh hal-hal seperti siklus masa haid, nifas, ataupun masa-masa hamil. Kekurangan ini tak mengurangi kemampuan mereka dalam melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh laki-laki.(Tahriiru al-mar’ah, juz 1).

Dengan demikian hadis ini tidak bertentangan dengan kenyataan bahwa banyak perempuan yang mendapat anugerah Allah berupa kelebihan-kelebihan di berbagai bidang.

Perempuan dapat saja mengungguli laki-laki. Aisyah ra mengungguli para sahabat dalam menghafal hadis Rasuullah saw yang telah dilupakan oleh sebagian sahabat laki-laki. Ia juga berperan aktif dalam perang Jamal (perang unta) sebagai panglima pasukannya. Dalam periwayatan hadis juga tercatat sejumlah perempuan ahli hadis, baik dari generasi sahabat, tabi’in, maupun sesudahnya. Sejarah juga mencatat beberapa nama perempuan yang menangani urusan –urusan publik bersama laki-laki. Umar bin Khattab pernah mengangkat seorang perempuan bernama al-syifa untuk memangku jabatan sebagai akuntan pasar madinah. Dalam hal ini, argumentasi yang paling jelas dan kuat adalah keterangan Alquran melalui bahasa burung Hud-Hud, tentang kerajaan Ratu Bulqis, sebagaimana dalam QS (27) :32 :

Dengan demikian, kekurangan akal dan agama tidak tergantung pada jenis kelamin, tetapi pada kemampuan seseorang.

Dewasa ini sudah banyak perempuan yang pandai, karena mereka mempunyai kesempatan yang luas untuk mencari ilmu. Ini sejalan dengan hadis nabi yang berbunyi: menuntut ilmu wajib bagi laki-laki dan perempuan.

Selain itu, proses modernisasi yang kian canggih, telah melahirkan berbagai kebutuhan yang mendesak seseorang untuk dipenuhi. Orang harus bekerja keras, sehingga banyak laki-laki yang tak sempat mengajar istrinya. Bahkan tak sedikit yang justru tidak mengerti tentang masalah agama. Kenyataan ini membuat perempuan tidak bisa lagi tinggal diam menunggu suaminya memenuhi seluruh kebutuhan keluarganya dan mengandalkan pengajaran agama sepenuhnya pada suami.(ibid 32)

Selanjutnya penjelasan yang menarik disampaikan oleh Quraish Shihab dalam bukunya untaian Permata Untuk Anak, beliau mengatakan bahwa sekalipun Alquran menggarisbawahi bahwa tugas dan tanggungjawab dalam memenuhi kebutuhan keluarga terletak di pundak bapak, tetapi ini bukan berarti ibu boleh terlepas tangan sama sekali.

Pada zaman nabi saw, para ibu aktif dalam berbagai bidang pekerjaan, mulai dari merias pengantin, bidan, perawat, bahkan istri nabi yang pertama Khadijah Binti Khuwailid, tercatat sebagai orang yang sukses dalam bidang perdagangan. Dan Raithah istri Abdullah bin Mas’ud seorang sahabat Nabi, bekerja keras untuk keluarga, karena suami dan anaknya tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarga. Ini berarti suami dan itri saling bahu membahu dan saling melengkapi, sesuai firman Tuhan dalam QS (1) : 187.

H adis-Hadis yang Pro Jender

Hadis tentang Perempuan Bisa Menjadi Imam Shalat

Terjemah Hadis

Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami, berkata: al-Walid menceritakan kepada kami, berkata: Nenekku telah menyampaikan kepadaku, dari Ummu Waraqah binti Abdullah bin al-Haris al-Anshariy dan ia telah melakukan kodifikasi Alquran, dan Rasulullah saw. telah memerintahkan untuk mengimami keluarganya, ia mempunyai seorang muazin dan ia (Ummu Waraqah) menjadi imam terhadap anggota keluarganya.

Masyarakat pada umumnya telah memahami bahwa kaum perempuan tidak bisa menjadi imam shalat, dan memang tentang persoalan tidak populernya perempuan sebagai imam di antara kalangan laki-laki disebabkan oleh adanya riwayat lain yang melarangan perempuan menjadi imam, atau karena tradisi keagamaan dan kepercayaan masyarakat di kawasan Timur Tengah tidak mentolerir perempuan sebagai pemimpin ritus keagamaan.

Namun demikian, bila hadis di atas dipahami baik secara tekstual maupun kontekstual, ternyata kaum perempuan bisa menjadi imam shalat asalkan di lingkungan keluarganya, di rumah tangganya dan anak-anaknya yang menjadi makmumnya. Berkenaan dengan itu, maka Nabi saw sejak awal terlihat lebih mengutamakan pertimbangan rasional dan profesional ketimbang pertibangan emosional dan tradisional dalam menjalankan misinya. Nabi saw. juga sering mempercayakan sesuatu kepada perempuan yang menurut adat tradisi Arab tidak lazim, seperti mempercayakan Rabi bin Mu’awwizh dan Ummu Athiyyah sebagai perawat korban yang luka dalam peperangan, di samping bertugas sebagai juru masak di medan perang.(AlAbadi,awn al ma’bud). Demikian pula, seorang perempuan bernama Ummu Waraqah yang disebutkan dalam hadis tadi, ternyata diperintahkan menjadi imam, oleh sebab alasan tertentu, dan memenuhi persyaratan menjadi imam. Sama halnnya dengan kaum laki-laki, memiliki persyaratan tertentu sehingga ia dapat diangkat menjadi imam.

Ummu Qaraqah binti Abdullah bin al-Haris yang disebut dalam hadis, adalah sebagai salah seorang sahabat perempuan yang termasuk gigih mempertahankan Islam, dan selalu mau ikut dalam peperangan. Dalam sejarah diinformasikan bahwa khusus pada perang Badar, Nabi saw. tidak mengizinkannya ikut, dan ia disuruh untuk tetap tinggal dirumahnya, dan dirumahnya terdapat anak-anak kecil dan orang tua sepu. Di antara mereka itulah ia dikabarkan memimpin shalat. [1] Di sini dipahami bahwa seorang perempuan dalam kondisi tertentu bisa menjadi menjadi imam, sebagaimana kaum laki-laki.

Hadis tentang Perempuan Mitra Laki-Laki

Terjemah Hadis

Qutaybah bin Said menceritakan kepada kami, Hammad bin Khalid al-Khayyat menceritakan kepada kami, Abdullah bin al-Umariy menceritakan kepada kami, dari Ubaidullah, dari al-Qasim, dari Asiyah, berkata, Rasulullah ditanya oleh seorang laki-laki yang telah basah (keluar mani) lalu tidak menyebut apakah ia sudah bermimpi, lalu dia bertanya: hendakkah mandi seorang laki-laki walaupun dalam mimpinya ia tidak melihat sesuatu yang basah (air mani). Nabi bersabda: tidak usah mandi, lalu bertanya pula Ummu Sulaim tentang perempuan yang begitu, apakah juga demikian? Nabi saw bersabda: Nabi saw, “ya”, (tidak usah mandi) dan sesungguhnya perempuan itu adalah mitra laki-laki.

Hadis di atas, menjelaskan bahwa kaum perempuan adalah mitra laki-laki dalam segala hal, dan kedua jenis kelamin ini saling mendukung dalam memainkan perannya masing-masing. M. Quraish Shihab berpendapat bahwa perempuan adalah syaqāiq ar-rijāl, bisa berarti “saudara kandung laki-laki” sehingga kedudukan serta hak-haknya hampir dapat dikatakan sama.(Quraish Shihab;1996).

Kalaupun ada yang membedakan, maka itu adalah akibat dari fungsi dan tugas-tugas utama yang dibebankan Allah kepada masing-masing jenis kelamin, sehingga perbedaan yang ada tidak mengakibatkan yang satu memiliki kelebihan di atas yang lain. Kelihatannya, M. Quraish Shihab mendasarkan pendapatnya ini pada QS. Ali Imran: 195 yaitu : Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan amalan orang-orang yang beramal, baik laki-laki maupun perempuan.…” di mana ayat ini adalah usaha Alqur’an untuk mengikis habis segala pandangan yang membedakan laki-laki dan perempuan, khususnya dalam bidang kemitraan dan masalah sosial kemanusiaan.(Quraish Shihab;1996)

Terkait dengan pejelasan di atas, jelaslah bahwa hadis tadi mengisyarakan kesetaraan jender yang ideal dan memberi ketegasan bahwa kerjasama antara laki-laki dan perempuan sangat penting. Prestasi yang diraih seorang laki-laki besar kemungkinan karena adanya dukungan dari kaum perempuan, dan demikian pula sebaliknya perempuan berhasil karena mendapat dukungan dari laki-laki. Itu berarti bahwa perempuan sebagai mitra laki-laki tetap akan memperoleh kesempatan yang sama meraih prestasi optimal.

Kesetaraan Jender Sebagai Upaya Pembebasan Perempuan

Islam sejak awal ditargetkan sebagai agama pembebasan, terutama pembebasan terhadap kaum perempuan. Bisa dibayangkan, bagaimana masyarakat Arab yang misoginis dan dikenal sering membunuh anak perempuan, tiba-tiba diperintah melakukan pesta syukuran (‘aqiqah) atas kelahiran anak perempuan, meskipun baru sebatas seekor kambing untuk anak perempuan dan dua ekor bagi anak laki-laki.

Islam sejak awal ditargetkan sebagai agama pembebasan, terutama pembebasan terhadap kaum perempuan. Bisa dibayangkan, bagaimana masyarakat Arab yang misoginis dan dikenal sering membunuh anak perempuan, tiba-tiba diperintah melakukan pesta syukuran (‘aqiqah) atas kelahiran anak perempuan, meskipun baru sebatas seekor kambing untuk anak perempuan dan dua ekor bagi anak laki-laki.(Nasaruddin Umar;2001)

Bagaimana suatu masyarakat yang tidak mengenal konsep ahli waris dan saksi perempuan tiba-tiba diberi hak waris dan hak persaksian, meskipun baru dalam batas satu berbanding dua untuk anak laki-laki. Perempuan yang mati terbunuh tiba-tiba harus juga mendapatkan bagian dari denda (diyat), meskipun masih sebatas seperdua dari yang diperoleh laki-laki.

Bagaimana perempuan yang tadinya dimitoskan sebagai “pelengkap” keinginan laki-laki (Adam) tiba-tiba diakui setara di depan Allah dan mempunyai hak dan kewajiban yang sama sebagai penghuni syurga (Q.S. al-Baqarah, 2:35). Bagaimana perempuan (Hawa) dicitrakan sebagai penggoda (temptator) laki-laki (Adam) tiba-tiba dibersihkan namanya dengan keterangan bahwa yang terlibat dalam dosa kosmis adalah kedua-duanya (Q.S. al-A’raf, 7:20).

Islam adalah agama ketuhanan sekaligus agama kemanusiaan dan kemasyarakatan (Q.S.Ali ‘Imran, 3:112). Dalam pandangan Islam, manusia mempunyai dua kapasitas, yaitu sebagai hamba (‘abid) dan sebagai representasi Tuhan (khalifah), tanpa membedakan jenis kelamin, etnik, dan warna kulit (Q.S. al-Hujrat, 49:13).

Kualitas kesalehan tidak hanya diperoleh melalui upaya pensucian diri (riyadlah nafsiyyah) melainkan juga kepedulian terhadap penderitaan orang lain (Q.S.Al-Ma’un, 107:1-7). Islam sejak awal menegaskan bahwa diskriminasi peran dan relasi jender adalah salahsatu pelanggaran hak asasi manusia yang harus dihapus (Q.S.al-Nisa’, 4:75)

Islam memerintahkan menusia untuk memperhatikan konsep keseimbangan, keserasian, keselarasan, keutuhan; baik sesama umat manusia maupun dengan lingkungannya.

Konsep relasi jender dalam Islam lebih dari sekedar mengatur keadilan jender dalam masyarakat, tetapi secara teologis dan teleologis mengatur pola relasi mikrokosmos (manusia), makrokosmos (alam), dan Tuhan. Hanya dengan demikian manusia dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah, dan hanya khalifah sukses yang dapat mencapai derajat abid sesungguhnya.

Islam memperkenalkan konsep relasi jender yang mengacu kepada ayat-ayat substantif yang sekaligus menjadi tujuan umum syari’ah (maqashid al-syari’ah), antara lain: mewujudkan keadilan dan kebajikan (Q.S.al-Nahl, 16:90), keamanan dan ketenteraman (Q.S.Q.S.al-Nisa’, 4:58), dan menyeru kepada kebaikan dan mencegah kejahatan (Q.S.Ali ‘Imran, 3:104). Ayat-ayat ini dijadikan kerangka dalam menganalisa relasi jender dalam Alquran.

Laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam menjalankan peran khalifah dan hamba. Soal peran sosial dalam masyarakat, tidak ditemukan ayat atau hadis yang melarang kaum perempuan aktif di dalamnya. Sebaliknya Alquran dan hadis banyak mengisyaratkan kebolehan perempuan aktif menekuni berbagai profesi.

Pada awal-awal sejarah Islam, kaum perempuan memperoleh kemerdekaan dan suasana batin yang cerah. Rasa percaya diri mereka semakin kuat sehingga di antara mereka mencatat prestasi gemilang, bukan saja di dalam sektor domestik tetapi juga di sektor publik. Sayang sekali kenyataan seperti ini tidak berlangsung lama karena banyak faktor. Antara lain, semakin berkembangnya dunia Islam sampai kepada pusat-pusat kerajaan yang bercorak misoginis seperti Damaskus, Bagdad dan Persia. Di samping itu, unifikasi dan kodifikasi kitab-kitab hadis, tafsir, dan fikih, yang banyak dipengaruhi oleh budaya lokal, langsung atau tidak langsung mempunyai andil di dalam memberikan pembatasan hak dan gerak kaum perempuan.

Pada saat bersamaan, secara simultan berlangsung politik antropologi untuk melanggengkan tradisi patriaki yang menguntungkan kaum laki-laki. Berbagai nilai diarahkan dan digunakan untuk mempertahankan keberadaan pola relasi jender yang berakar dalam masyarakat. Karena hal tersebut berlangsung cukup lama, maka pola itu mengendap di alam bawah sadar masyarakat, seolah-olah pola relasi jender adalah kodrat (Arab: qudrah berarti ditentukan Tuhan). Bertambah kuat lagi setelah pola relasi kuasa (power relations) menjadi subsistem dalam masyarakat modern-kapitalis, yang kemudian melahirkan masyarakat new patriarchy.(Nasaruddin Umar;2001)

Semakin kuat pola relasi kuasa semakin besar pula ketimpangan peran jender di dalam masyarakat, karena seseorang akan diukur berdasarkan nilai produktifitasnya. Dengan alasan faktor reproduksi, maka produktifitas perempuan dianggap tidak semaksimal dengan laki-laki. Perempuan diklaim sebagai komunitas reproduksi, yang lebih tepat mengambil peran domestik, dan laki-laki diklaim sebagai komunitas produktif, yang lebih tepat mengambil peran publik. Akibatnya, terciptalah suatu masyarakat yang didominasi laki-laki (al-mujtama’ al-abawiy).

Kalau dahulu agama (Islam) identik dengan isu dan wacana pembebasan perempuan, maka kini ada kecenderungan Islam yang identik dengan pembatasan terhadap perempuan. Di penghujung abad ini banyak negara Islam melakukan revolusi dan reformasi dengan mengambil tema keislaman. Namun demikian, seringkali yang terjadi di pasca-revolusi dan reformasi adalah pengekangan terhadap perempuan.

Islamisasi suatu negara seolah-olah berarti “merumahkan” perempuan atau jilbabisasi perempuan. Iran, Pakistan, Aljazair, dan Afganistan dapat menjadi contoh dari fenomena tersebut. Bagaimana Islam dijadikan dalil untuk mencopot pegawai negeri di sejumlah daerah di Afghanistan dengan alasan perempuan tidak boleh bekerja di bidang publik.

Otonomisasi daerah di Indonesia dengan memberikan peran lebih besar kepada tokoh-tokoh adat dan agama setempat, tidak tertutup kemungkinan akan menjadikan perempuan sebagai sasaran dan obyek. Kita tentu sangat berharap agar Islam tidak lagi dijadikan sebagai suatu kekuatan ideologis yang menekan suatu kelompok atau jenis kelamin tertentu dan sebaliknya memberikan keuntungan kepada kelompok atau jenis kelamin tertentu.


Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: