jump to navigation

kedudukan dan peran agama dalam masy.plural April 23, 2008

Posted by basnang in Uncategorized.
trackback


Oleh : Basnang Said

(Dekan Fak. Agama Islam Univ. Asy’ariyah Mandar/Sedang belajar pada Program Doktor UIN Alauddin Makassar)

Pendahuluan

Agama yang dimaksud dalam tulisan ini adalah agama-agama prophetic atau samāwy yaitu agama yang diyakini oleh penganutnya berasal dari Tuhan dan yang disampaikan kepada manusia melalui perantaraan seorang nabi atau semacamnya. Dalam sejarah manusia, Tuhan telah menurunkan berbagai agama, di antaranya tiga agama serumpun yang dibawah oleh keturunan Nabi Ibrahim a.s (Abraham) –bapak Bani Israil dan Arab itu-, yaitu Yahudi, Nasrani (Katholik dan Protestan), dan Islam. Ketiga agama tersebut masih eksis dan merupakan agama terbesar di dunia sekarang, sementara agama propetik lainnya tidak di temukan lagi. Tetapi dua agama besar lainnya, Hindu dan Budha oleh para ahli sejarah agama dimasukkan dalam agama propetik itu.

Keaneka ragaman agama dan juga etnis, menyebabkan susunan masyarakat dunia, termasuk Indonesia, menjadi plural. Kondisi demikian, seringkali menimbulkan bentrokan antar umat beragama dan antar etnis. Konflik “abadi” antara Israel dengan Arab ( umat Yahudi dengan Muslim dan Kristiani) di Palestina, permusuhan yang tak habis-habisnya antara umat Katholik dan umat Protestan di Irlandia Utara, bentrokan antara umat Hindu dan Muslim di India yang tak kunjung mereda, dan rangkaian konflik bernuansa agama di Indonesia, memberi kesan seakan-akan agama merupakan salah satu faktor dari konflik itu. Jika kondisi demikian dibiarkan, maka pada akhirnya agama akan mengalami stigmatisasi dalam pergaulan masyarakat global. Agama tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat. Masyarakat akan kembali menganggap bahwa agama itu tidak hanya sebagai the opium for the people tetapi lebih dari itu sebagai homo homoni lupus bagi sesama umat beragama.

Sudah barang tentu pandangan negatif terhadap agama seperti itu tidak benar. Tetapi realitas sosial seperti digambarkan di atas, menunjukkan adanya perbedaan antara doktrin agama dengan sikap dan perilaku umatnya serta terdapat kekeliruan dalam memahami beberapa prinsip pokok agama. Prinsip-prinsip pokok yang bertalian dengan kemanusiaan dan kehidupan bermasyarakat, pada hakekatnya sama pada semua agama. Dengan demikian, perbedaan antara satu agama dengan agama lainnya bukan merupakan faktor penghambat dalam kehidupan bermasyarakat.

Masyarakat Plural dalam Pandangan Agama

Pada era globalisasi seperti sekarang ini terdapat peluang untuk terbentuknya masyarakat pluralistik terutama dari segi agama dan etnis. Meskipun migrasi penduduk secara besar-besaran telah terhenti beberapa abad yang lalu, tetapi pada masa keterbukaan dan informasi serta komunikasi yang maju seperti sekarang ini, memungkinkan terjadinya mobilisasi penduduk dari satu daerah ke daerah yang lain dengan berbagai alasan. Setelah Perang Dunia II, sebahagian orang Asia dan Afrika berpindah ke Amerika dan Eropa dan membentuk komunitas minoritas dengan etnis dan agama yang berbeda dengan masyarakat setempat. Proses pembentukan masyarakat pluralistik seperti ini akan terus berlangsung pada era globalisasi, mengingat batas-batas wilayah atau negara tidak mampu lagi mencegah terjadinya perpindahan penduduk dan menyebabkab tumbuhnya masyarakat plural diberbagai kawasan dunia ini. Bahkan masyarakat plural akan menjadi pertanda utama dari suatu masyarakat yang telah maju.

Masyarakat majemuk dari segi etnis dan agama, sesungguhnya merupakan anugrah dan kehendak Tuhan. Tuhan Yang Maha Kuasa telah menetapkan hukum-hukum-Nya, selain berupa doktrin agama juga berupa ketentuan yang berlaku pada alam dan manusia yang lazim disebut hukum alam (sunnatullah). Sebagaimana yang diajarkan oleh agama, nenek moyang manusia itu adalah serang laki-laki (Adam) dan seorang perempuan (Hawa), kemudian dari keduanya lahirlah manusia yang banyak dalam berbagai etnis. Keberbedaanya sebagai pengaruh geografis di mana manusia lahir dan dibesarkan.[1] Keragaman etnis manusia merupakan kehendak Tuhan yang telah ditetapkan dengan ketentuan-ketentuan alam yang bersifat biologis.

Keragaman agama, diyakini sebagai kehendak Tuhan untuk mengutus berbagai rasul dan nabi yang bertugas menyampaikan agama kepada umatnya. Beberapa nama yang disebutkan dalam Alkitab seperti Nuh, Abraham, Ismael, Ishak, Ya’kub,[2] oleh Islam disebutkan sebagai rasul dan nabi Allah yang membawa agamanya masing-masing untuk umatnya.[3] Nabi dan rasul itu sangat banyak, walaupun di dalam kitab suci Islam hanya disebutkan 25 orang. Namun demikian, masih banyak di antara mereka yang tidak disebutkan.[4] Kemungkinan diantara nabi/rasul yang tidak disebutkan itu, termasuk pembawa agama Hindu dan Budha. Jadi keragaman agama yang pernah dan masih ada di dunia ini berasal dari dan atas kemauan Tuhan.

Manusia lahir sebagai etnis tertentu, bukan atas pilihan atau kemauan sendiri. Kelahiran itu sebagai suatu peristiwa biologis. Tetapi manusia mempunyai kebebasan untuk memilih salah satu dari agama-agama itu menjadi anutannya. Pilihan itu suatu peristiwa kultural. Itulah sebabnya seseorang yang lahir dalam suatu etnis tertentu tidak dipertanggung jawabkan kepada Tuhan, sedangkan seseorang yang memilih untuk menjadi penganut suatu agama atau tidak beragama, akan dipertanggung jawabkan kepada Tuhan. Oleh karena keragaman etnis dan agama merupakan kemauan Tuhan, maka segala kegiatan dan usaha dengan maksud untuk menghilangkan suatu etnis atau untuk meyingkirkan suatu agama dari suatu masyarakat, termasuk perbuatan dosa dan bertentangan dengan hak asasi manusia.

Misi Agama

Meskipun berbilang banyaknya, namun agama-agama itu menjalankan misi yang sama, yaitu keselamatan (salvation) bagi manusia. Segala bentuk ibadah atau kebaktian dan ketentuan berupa perintah dan larangan yang terdapat pada semua agama sesungguhnya dimaksudkan untuk keselamatan manusia.[5] Dengan demikian keselamatan manusia merupakan sesuatu yang mendasar dalam semua agama dan bersifat universal. Perlu ditegaskan bahwa meskipun semua agama itu sama tetapi bentuk ibadah dan kebaktian dengan segala rangkaiannya, tentu berbeda antara satu agama dengan agama lainnya. Akan halnya dengan perintah dan larangan terutama yang bertalian dengan kemanusiaan lebih banyak terdapat persamaan antar agama. Dengan begitu perbedaan antar agama terdapat pada kebaktian agama itu, sedangkan ajaran-ajaran kemanusiaan pada prinsipnya sama. Sesungguhnya Tuhan menurunkan agama untuk kepentingan manusia, dalam hal ini adalah keselamatan manusia.

Misi keselamatan itu menyangkut keselamatan pribadi dan keselamatan orang lain, keselamatan di dunia dan keselamatan di akhirat. Semua agama meyakini adanya hari akhirat. Keselamatan orang lain, baik yang seagama maupun orang yang tidak seagama dengan kita, bahkan dengan orang tidak seagama sekalipun. Keselamatan pribadi sangat tergantung pada ibadah dan kepatuhan terhadap ajaran kemanusiaan dari agama yang dianut. Keselamatan orang lain baik yang seagama atau pun tidak, selain tergantung pada kebaktian/ibadah dan kepatuhan terhadap ajaran kemanusiaan agamanya, juga sangat tergantung pada “kita.” Kita bertanggung jawab terhadap orang lain yang se agama, atas keselamatannya di dunia dan atas keselamatannya di akhirat. Kita juga harus bertanggung jawab atas keselematan orang lain yang tidak se agama dengan kita di dunia, sedangkan keselamatannya di akhirat tidak dapat kita pertanggung jawabkan. Dengan begitu tidak ada suatu kewajiban untuk kita mengajak orang lain masuk dalam agama kita, dan jika seseorang tidak menyelamatkan orang lain dengan pengertian tidak melindungi atau ia menciderai jiwa, harta dan kehormatan orang lain, berarti ia telah melecehkan agamanya sendiri dan tentu saja termasuk perbuatan dosa.

Doktrin, Institusi dan Umat

Doktrin, institusi dan umat termasuk elemen-elemen penting dari suatu agama. Doktrin agama adalah ajaran-ajaran dasar yang diyakini kebenarannya oleh penganutnya, karena berasal dari Tuhan. Doktrin keagamaan bersifat normatif dan pada umumnya meliputi kepercayaan, peribadatan dan ajaran-ajaran kemanusiaan yang dapat disebutkan sebagai ajaran moral. Doktrin tentang kepercayaan, ibadah dan moral berbeda antara satu agama dengan agama lain, tetapi banyak pula persamaan-persamaannya. Untuk kepentingan aplikasi suatu doktrin perlu diadakan interpretasi oleh ahli agama yang bersangkutan. Acap kali terjadi perbedaan hasil interpretasi itu. Perbedaan itulah yang menyebabkan timbulnya berbagai pendapat tentang suatu ajaran agama dan akhirnya timbul berbagai aliran dalam suatu agama sebagai polarisasi dari hasil interpretasi tersebut, dan berpotensi untuk terjadinya konflik internal.

Institusi keagamaan termasuk salah satu dari lima institusi dasar yang harus terdapat dalam suatu masyarakat. Ke lima institusi itu adalah rumah-tangga, pemerintahan, pendidikan, hukum, dan agama. Institusi keagamaan diperlukan untuk melayani umat dalam melaksanakan kehidupan keagamaannya serta memelihara kelangsungan dan pewarisan agama kepada umatnya. Karena itu dalam masyarakat terdapat institusi peribadatan/kebaktian seperti masjid, gereja, pura, dan wihara. Selain itu terdapat institusi keagamaan lainnya. Meskipun fungsinya sama, tetapi suatu instusi agama berbeda secara nyata dari institusi agama lain.

Umat suatu agama, merupakan indikator eksistensinya agama itu dalam masyarakat. Dalam masyarakat Indonesia terdapat umat Islam, umat Protestan, umat Katolik, umat Hindu, dan umat Budha. Kehidupan keagamaan umat suatu agama sangat bervariasi baik dari segi pengetahuan agama maupun pelaksanaan agama.

Dalam masyarakat plural, perbedaan dalam hal doktrin keagamaan, peranan institusi keagamaan, dan pengetahuan serta pemahaman agama berpotensi untuk menimbulkan konflik baik internal maupun eksternal, konflik horizontal maupun vertikal. Perbedaan doktrin yang tidak dapat dihindari itu tidak akan berkembang menjadi konflik apabila umat beragama yang berada dalam suatu masyarakat berjiwa toleran dengan membolehkan, membiarkan dan menghargai doktrin dan ajaran agama yang berlainan dengan agamanya atau pahamnya sendiri. Perlu dikembangkan sikap agree in disagreement. Sikap setuju untuk suatu doktrin agama dianut dan dilaksanakan oleh umatnya meskipun ia sendiri tidak setuju dengan doktrin dan ajaran agama itu. Peranan institusi yang mungkin berpotensi untuk menimbulkan konflik hendaknya dapat didialogkan untuk mencari jalan keluar. Untuk itu diperlukan komunikasi antara tokoh dan pemimpin umat beragama secara intensif dan terus menerus untuk menyelesaikan masalah-masalah yang timbul. Seringkali sikap dan perilaku umat beragama yang tidak benar dapat menimbulkan konflik. Sikap dan perilaku demikian mungkin disebabkan oleh ketidak pahaman terhadap ajaran agamnya sendiri.

Beragama secara formal dan fungsional

Pada setiap agama terdapat dua aspek yang berbeda tetapi berkaitan yaitu aspek formal dan aspek fungsional. Aspek formal terdiri atas sejumlah ajaran, tata upara peribadatan dan simbol-simbol yang membentuk agama itu sendiri dan dapat dibedakan dengan agama lain. Realitas suatu agama dilihat dari aspek formalnya.

Sementara itu aspek fungsional dari agama adalah kegunaan atau pengaruh aspek formal terhadap kehidupan sosial umat. Secara umum dapat disimpulkan bahwa aspek fungsional agama adalah kedamaian dan ketentraman dalam diri seseorang dan umat manusia. Jadi pengaruh dari penghayatan, pengamalan dan penggunaan agama (ajaran/doktrin dan interpretasi, ibadah dan simbol-simbol) terhadap terwujudnya misi agama, keselamatan dan terciptanya perdamaian dan ketentraman bagi kehidupan pribadi dan masyarakat. Selain itu tiap bahagian dari aspek formal mempunyai kegunaan atau pengaruh khusus terhadap sikap dan perilaku orang yang melaksanakannya.

Jadi hubungan antara kedua aspek agama itu sangat erat. Beragama secara total dan utuh apabila aspek formal diwujudkan sehingga menimbulkan aspek fungsionalnya. Jika tidak, keberagaman itu tidak sempurna. Seseorang yang rajin membaca kitab suci, tekun mengikuti dan melaksanakan ibadah dan selalu menggunakan simbol-simbol agamanya tetapi tidak membawa keselamatan bagi dirinya dan masyarakat, berarti ia hanya beragama secara formal. Tetapi jika seseorang merasa aman dan damai pada dirinya dan menciptakan kedamaian pada masyarakatnya karena pengaruh dari pelaksanaan agamanya, maka sesungguhnya ia telah beragama secara fungsional. Dengan begitu beragama secara formal belum menjamin keselamatan di dunia dan terutama di hari kemudian. Selain itu beragama secara formal mungkin bisa menyebabkan agama dirasakan sebagai suatu beban dalam hidup karena tidak dinikmati kegunaan agama yang dianutnya. Bahkan fanatisme terhadap aspek formal agama dapat menjerumuskan seseorang untuk melakukan sesuatu yang merusak ketentraman masyarakat jika simbol-simbol agamanya dirusak. Jika demikian halnya agama bukan saja tidak bermanfaat, tetapi agama itu berbahaya bagi masyarakat. Kalau begitu suatu saat nanti agama itu ditinggalkan oleh masyarakat.

Pembinaan umat harus dilakukan dalam suatu proses yang dimulai dengan pemberian pengetahuan agama dilanjutkan dengan pelaksanaan agama dan terciptanya fungsi agama. Beragama secara formal sangat penting untuk menampakkan eksistensi agama itu dalam masyarakat dan untuk mewujudkan fungsi agama. Untuk mewujudkan fungsi agama itu diperlukan beragama secara fungsional. Dalam masyarakat plural, patut didingat bahwa agama berbeda secara formal, tetapi bersatu secara fungsional yaitu untuk kedamaian dan ketentraman diri sendiri dan masyarakat. Adalah tugas yang berat tetapi suci bagi pemimpin umat beragama untuk membina umatnya agar beragama secara fungsional.

Politisasi Agama

Sesungguhnya ada hubungan antara agama dan politik. Sebab politik dalam pengertian distribusi dan pelaksanaan kekuasaan itu tentunya bertujuan untuk mewujudkan ketentraman dan keamanan dalam masyarakat sejalan dengan misi dan fungsi agama. Untuk itu diperlukan suatu sistem politik untuk penataan distribusi maupun pelaksanaan kekuasaan itu. Akan tetapi sistem politik belum menjamin terjadinya ketentraman dan keamanan dalam masyarakat jika sistem itu tidak disertai dengan etika politik. Pada masalah etika politik inilah agama memainkan peran yang sangat penting. Semua agama sarat dengan muatan moral, bagi individu, maupun sosial. Dan sekali lagi ditegaskan bahwa ada persamaan ajaran moral di antara agama-agama itu. Kekacauan yang terjadi dalam masyarakat karena baik politisi maupun masyarakat menanggalkan moralitas agama dari politik. Sehingga ada kesan seakan-akan politik adalah permainan kotor, penuh dengan kebohongan, kemunafikan, kecurangan dan segala macam sikap serta perilaku moral yang jelek.

Dalam masyarakat plural, agama seringkali dijadikan sebagai alat politik (politisasi agama). Hal demikian disebabkan oleh karena setiap agama mempunyai umat yang jelas. Sedangkan untuk berkuasa, politisi menghendaki dukungan massa yang terdiri atas umat berbagai agama. Dilain pihak, masyarakat sering juga menggunakan agama untuk kepentingan kegiatan politik. Agama dijadikan sebagai alat mobilisasi umat untuk melawan pemerintah. Sebaliknya dari pemerintah pun menggunakan agama sebagai motivasi untuk menggerakkan masyarakat. Jadi politisi, pemimpin masyarakat, dan pemerintah menjadikan agama sebagai alat untuk mencapai tujuan mereka, dan bukan sebaliknya politik dijadikan sebagai alat untuk menerapkan moral agama. Dalam masyarakat plural, politisasi agama berpotensi untuk menimbulkan konflik.

Penutup

Dalam era globalisasi, masyarakat akan berkembang menjadi semakin majemuk sejalan dengan timbulnya berbagai segmen dalam masyarakat. Sesuai dengan kehendak Tuihan, dalam masyarakat plural, agama-agama itu tetap eksis. Oleh karena itu berbagai usaha untuk melenyapkan suatu agama bukan saja perbuatan yang sia-sia, tetapi lebih dari itu termasuk perbuatan dosa.

Baik kondisi masyarakat plural dan kondisi setiap agama itu sendiri merupakan potensi timbulnya berbagai konflik dalam masyarakat. Sesungguhnya jika fungsi agama berupa integrasi sosial, kedamaian dan ketentraman dapat terwujud, maka konflik sosial dapat dicegah. Selain fungsionalisasi agama dalam kehidupan pribadi dan masyarakat, kesamaan misi agama yaitu keselematan dapat menjadi perekat dalam kehidupan sosial. Agaknya konflik dalam masyarakat plural selama ini ditimbulkan oleh kekeliruan dalam memahami keberadaan agama lain. Oleh karena itu perlu dikaji ulang pandangan, sikap, dan perilaku dari umat suatu agama terhadap umat agama lain. Semoga.


[1] Lihat Alkitab, Kejadian 5 dan Al-Qurān, Al-Hujrat (49), 13

[2] Lihat Alkitab, kejadian 6-27

[3] Lihat Al-Qurāan, An-Nisa’ (4), 163

[4] Lihat Al-Qurān, Al-Mukmin (40), 78

[5] Berbagai bentuk kebaktian dan berbagai upacara yang terdapat dalam perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, dan berbagai bentuk ibadah dalam Islam, meskipun berbeda tata caranya tetapi tujuannya untuk keselamatan diri sendiri dan aplikasinya pada keselamatan orang. Ajaran kemanusiaan seperti sepuluh firman yang diajarkan nabi Musa AS dan yang diajarkan Yesus kristus serta yang diajarkan nabi Muhammad SAW, selain mempunyai kesamaan juga untuk keselamatan ummat manusia. Demikian pula ajaran kemanusiaan dalam agama Hindu dan Budha.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: